PENGETAHUAN LOKAL DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN


Oleh: HE. Benyamine

Pembangunan adalah suatu upaya mencapai kesejahteraan dan kehidupan yang lebih baik dan sehat bagi manusia yang merencanakannya dan menjalaninya. Kegiatan pembangunan tersebut tentu saja harus diupayakan dapat berkelanjutan, yang tidak terlepas dari aspek-aspek pemberdayaan masyarakat lokal, swasembada dan keadilan sosial. Dengan demikian, diperlukan pendekatan yang mampu mengkombinasikan pengalaman, pengetahuan, dan pemahaman berbagai kelompok masyarakat tersebut.

Hubungan masyarakat lokal atau asli dengan lingkungan dan sumberdaya alam dapat dikatakan berkesesuaian dengan sistem ekologi setempat, sehingga memungkinkan mereka mengembangkan pemahaman terhadap sistem tersebut melalui “uji-coba” (trial and error). Kehidupan mereka tergantung pada dipertahankannya integritas ekosistem tempat mereka mendapatkan kebutuhan hidup, yang dalam interaksi dengan ekosistem tersebut biasanya mereka tidak akan mengulangi kesalahan besar yang pernah dilakukan. Pemahaman mereka tentang sistem alam yang terakumulasi biasanya diwariskan secara lisan, yang bisa dikatakan sebagai pengetahuan lokal (local knowledge).

Pada masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan, terdapat kecenderungan untuk beradaptasi dengan struktur hutan yang berubah. Dove (1983) berasumsi bahwa masyarakat Banjar dewasa ini sedang melakukan proses intensifikasi pertanian. Sebagiannya menggarap ladang di lahan-lahan hutan di bagian atas bukit-bukit, sebagian lainnya menggarap lahan pada ilalang di bagian lembah bukit. Dengan menggunakan parang, api, dan bajak, masyarakat Banjar membuka lahan padang ilalang. Padang ilalang ini kemudian ditanami padi gogo, dan digarap ulang secara berturut-turut hingga 5 – 7 tahun sebelum lahan itu diberakan (fallow) selama tiga tahun.

Masyarakat yang masih berdasarkan pengetahuan lokal memiliki kemampuan dalam melakukan analisis tentang perubahan dan degradasi lingkungan. Sebelum degradasi lingkungan terjadi, mereka membuat adaptasi baru (Ellen, 1982). Rigg (1999) menjelaskan bahwa untuk mengatasi hama wereng secara tradisional, para petani mengetahui bahwa sejenis kumbang dan laba-laba, misalnya laba-laba serigala (Lycosa pseudoannulata), dapat membantu mengontrol populasi wereng. Laba-laba ini merupakan predator alam yang cepat bergerak dan segera berada di lahan-lahan pertanian basah maupun kering yang baru disiapkan.

Pembangunan juga dapat menimbulkan permasalahan yang dapat dirasakan sekarang dan juga yang akan datang, terlebih lagi pembangunan yang mengesampingkan pengetahuan lokal diduga menjadi sebab timbulnya krisis sumberdaya dan lingkungan hidup. Pembangunan yang mengandalkan pertumbuhan berbanding terbalik dengan sumberdaya alam, atau semakin tinggi produksi maka akan semakin banyak sumberdaya alam yang digunakan. Kegiatan pembangunan pada kenyataannya telah mengakibatkan banyak kemiskinan dan kemerosotan sumberdaya lingkungan hidup. Di sini, pengetahuan lokal dan teknologi lokal, yang seharusnya dipandang sebagai bagian dari sumberdaya nasional, masih diabaikan, dan sejauh ini hampir semua bangsa di dunia praktis melupakan kekayaan nasional ini.

Menurut Hatch dalam Chamber (1987) yang mengemukakan bahwa keahlian para petani kecil merupakan “satu-satunya sumber ilmu terbesar yang belum digalang demi upaya pembangunan, kita tidak boleh lagi membiarkannya lebih lama”. Juga Brammer dalam Chamber (1987) yang berpendapat bahwa di Bangladesh kekurangperhatian orang terhadap kegiatan penelitian yang bersifat mendasar yang dilaksanakan oleh para petani sendiri, merupakan pemborosan ‘sumber-sumber bakat dan informasi setempat yang dapat dimanfaatkan pemerintah untuk memperkuat dan meningkatkan kegiatan penelitian dan pengembangan mereka sendiri’.

Dari hasil KTT Bumi di Rio, tahun 1992 yang menghasilkan rekomendasi dalam bentuk our common future yang lebih mempopulerkan istilah pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang merujuk pada dan/atau memperhatikan keadaan lingkungan. Masyarakat desa dengan pengetahuan lokalnya, termasuk yang menjadi pokok masalah dalam pembahasan pembangunan berkelanjutan. Dengan segala karakteristiknya yang khas, menjadikan masyarakat desa sebagai titik masuk dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan.

Melalui pengetahuan lokal, masyarakat dapat menggunakan sumberdaya yang ada di sekitar atau lingkungannya untuk kebutuhan sendiri, seperti dalam memenuhi kebutuhan pangan dan sandang, sehingga dapat mengurangi biaya transportasi.

Oleh karena itu, pengetahuan lokal dan teknologinya dalam berinteraksi dengan lingkungan dan pengolahan sumberdaya alam, atau kearifan tradisional dari masyarakat bisa menjadi dasar bagi pembangunan berkelanjutan, yang sangat penting untuk diperhatikan oleh para pengambil keputusan dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan.

(Dimuat dalam Koran Radar Banjarmasin, 7 Januari 2010:3)

7 Responses

  1. wew! hebat sekali tulisan ini. mas heb begitu prihatin terhadap lingkungan, mustinya mas heb jadi mentri lingkungan hidup aja deh. serius!

    pengetahuan lokal yang telah dimiliki oleh penduduk lokal secara turun-temurun memang diperlukan dalam hal pelestarian lingkungan. sayangnya, seperti disebutkan dalam tulisan ini, justru penduduk lokal jarang dilibatkan dalam penelitian dan upaya pembangunan berkelanjutan. padahal mereka adalah sumber daya yang sangat besar nilainya.

    memang sudah saatnya akademisi menggaet non-akademisi dalam melakukan penelitian. tidak boleh dianggap remeh. begitupun pemerintah dalam menerapkan program-program pembangunannya.

  2. jahhh… komentar saya barusan ketangkap akismet.
    tolong dibebaskan dong, mas heb.
    kasian…😦

    HEB : Nah … sudah dibebaskan

  3. mengamankan posisi pertamaxxxx hehehe
    cihuyyy

  4. pembangunan berkelanjutan…waw..Banjarmasin sudah jado kota metropolitan semua ada di sana … pembangunannya makin pesat aja..hebat..hebat..Jadi kangen sama Kota Banjarmasin..salam

  5. Indonesia negara agraris, mustinya memang pertanian digarap lebih professional, p Ben. Semoga ke depan negara ini semakin jaya. Semoga.

  6. Persoalannya kemudian, bagaimana kita bisa memasukkan beragam pengetahuan2 lokal ke strategi pembangunan daerah atau nasional. atau dengan bahasa lain, bagaimana mengadaptasi strategi kebijakan dengan pengetahuan2 lokal.
    Ketika hal tersebut hanya diserahkan pada dataran implementasi, maka yang terjadi adalah masyarakat dan Pemerintah (Pusat atau Daerah) berjalan sendiri2. Masyarakat membangun wilayahnya dengan kemauan, kemampuan dan pengetahuan lokalnya, Pemerintah membangun berdasarkan strategi yang disusunnya. Iya kl sinergis, yang umum terjadi adalah konflik antara keduanya.
    Ditunggu tulisan selanjutnya untuk merumuskan pertanyaan di atas.

    salam perjuangan lokal,
    poppy

    HEB : hahahaa hhaaa … malah diberi tugas

  7. alangkah arifnya langkah para pengambil kebijakan di negeri ini jika konsep pembangunan selalu dikaitkan dengan upaya pelestarian lingkungan dan nilai2 kearifan lokal, bang ben. sayangnya, praktik yang terlihat selama ini, pembangunan selalu kental dengan berbagai kepentingan yang kurang berpihak kepada masyarakat kecil di ranah grass root. sebuah artikel yang menarik dan mencerahkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: