BANJARBARU: ADIPURA DAN KLB DBD


Oleh: HE. Benyamine

Banjarbaru kota idaman. Kota yang baru saja mendapatkan piala Adipura (2009), yang merupakan lambang supremasi tertinggi bidang kebersihan dan keindahan kota. Sebagai bukti bahwa kebersihan dan keindahan yang dimaksudkan itu dapat dilihat pada sejumlah obyek yang menjadi titik pantau dan penilaian tim Adipura, yang setiap perkiraan tim Adipura akan datang maka sebelumnya sudah dilakukan pembenahan sehingga kondisinya bersih dan tertata.

Obyek-obyek titik pantau dan penilaian tim Adipura mendapatkan perlakuan yang luar biasa, apalagi menjelang perkiraan kedatangan tim Adipura. Banjarbaru sudah siap segala sesuatunya agar piala Adipura tersebut tidak lepas dari genggaman. Bahkan, Pemko Banjarbaru membangun tugu Adipura di depan rumah dinas walikota Banjarbaru, sebagai bukti bahwa kota Banjarbaru pernah mendapatkan piala Adipura tersebut.

Pembenahan titik-titik pantau dan penilaian, seperti tempat pembuangan akhir (TPA) Hutan Panjang, sebagai bagian dari pengelolaan sampah yang semakin lama semakin bertambah volumenya sesuai dengan perkembangan kota ternyata lebih didekati dengan ketidakjelasan sistem pengelolaan sampah. Masih banyak tempat pembuangan sementara (TPS) yang ada tidak memadai baik dalam dari segi kapasitas maupun bentuknya, ada yang menumpuk dipinggir jalan dan berserakan (dekat RS Banjarbaru misalnya), yang memberikan gambaran bahwa ada ketidakseimbangan tempat pembuangan sampah dengan volume sampah yang dihasilkan.

Pemerintah kota melalui instansi terkait menghimbau masyarakat untuk membuang sampah pada waktu tertentu dan pada tempat resmi, dengan alasan keterbatasan sarana transportasi dan tenaga pengangkutan sehingga bila tidak terangkut akan menyebabkan pemandangan kotor dan jorok, yang sebenarnya dapat dikatakan menimpakan kesalahan tidak terkelolanya sampah pada tingkat tempat pembuangan sementara kepada masyarakat. Volume sampah yang meningkat tentu juga harus diimbangi dengan peningkatan jumlah tempat pembuangan sampah sementara (resmi) dengan struktur bangunan yang kuat dan tertutup, sehingg bila menghimbau untuk membuang sampah pada tempat yang resmi sudah tersedia dengan jumlah tempat dan bangunan yang cukup, jadi masyarakat tidak mempunyai alasan membuang sampah pada tempat yang tidak resmi atau sembarangan.

Pembangunan taman untuk kepentingan penilaian Adipura dapat dibangun, masa untuk bangunan tempat pembuangan sementara (TPS) sampah yang layak seperti kesulitan langkah dan lambat bergeraknya, padahal tempat pembuangan sementara yang tersedia dalam jumlah yang cukup dapat mendorong masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, apalagi ada papan pengumuman di setiap TPS sampah tersebut sebagai tanda tempat resmi.

Pengelolaan sampah merupakan keharusan suatu kota, tidak untuk kepentingan Adipura, tapi untuk kepentingan kebersihan dan lingkungan yang sehat bagi masyarakat, yang dapat mengurangi tumbuh dan berkembangnya berbagai penyakit menular sekaligus dapat merebaknya kejadian luar biasa penyakit yang disebabkan lingkungan yang tidak bersih dan tercemar. Masyarakat juga mempunyai tanggung jawab terhadap kebersihan lingkungannya, yang harus mendapat perhatian dari pemerintah kota dalam upaya mendorong partisipasi tanggung jawab tersebut. Sampah merupakan limbah padat, yang bisa menjadi tempat bersarangnya berbagai penyakit, bila pengelolaannya terabaikan karena dinas terkait lebih memprioritaskan titik-titik pantau dan penilaian tim Adipura untuk hanya meraih pialanya saja.

Piala Adipura yang diraih Kota Banjarbaru, sebagai penghargaan tertinggi dalam bidang kebersihan dan keindahan kota, ternyata tidak mampu menjadikan kota Banjarbaru melakukan tindakan preventif dalam pencegahan penyakit. Kota peraih piala Adipura ini juga mengalami kejadian luar biasa (KLB) penyakit demam berdarah dengue (DBD), malah dengan kasus tertinggi sebanyak 82 di Kalimantan Selatan (Radar Banjarmasin, 22 Oktober 2009). Peringatan dari Dinas Kesehatan Provensi Kalsel akan wabah penyakit ini, dengan Banjarbaru masih yang tertinggi bersama Hulu Sungai Tengah (HST) yang diperkirakan masih berlanjut. Penyebaran penyakit DBD ini berhubungan dengan kebersihan lingkungan, sampah tak terkelola, drainasi yang buruk, dan pencemaran lingkungan.

Piala Adipura yang diraih kota Banjarbaru memiliki ironinya berupa KLB DBD kota Banjarbaru yang tertinggi di Kalimantan Selatan. Piala Adipura sesungguhnya memang layak untuk kota Banjarbaru, dengan usaha dan upaya yang sewajarnya, yang mengarahkan pemerintah kota untuk melakukan pembenahan dalam berbagai bidang yang berhubungan dengan kebersihan dan keindahan kota tidak hanya karena piala Adipura, sehingga masyarakat dengan mudah dapat berpartisipasi untuk kepentingan bersama dalam bidang kebersihan lingkungan.

Oleh karena itu, pemerintah kota sudah seharusnya menghubungkan upaya meraih piala Adipura dengan kepentingan masyarakat dalam mendapatkan kesehatan lingkungan, sehingga dapat melakukan tindakan preventif dalam mencegah penyebaran wabah penyakit, seperti DBD yang sudah merenggut 5 nyawa dari 11 korban meninggal di Kalimantan Selatan. Apakah Banjarbaru juga perlu membangun tugu KLB DBD seperti tugu Adipura? Sebagai peringatan dan penyadaran bahwa wabah penyakit perlu tindakan preventif dan keseriusan semua pihak dalam menanggulanginya, dan pemerintah kota jangan terjebak dengan kebanggaan semu.

6 Responses

  1. wah DBD masuk KLB pak,
    ni di ampah lagi KLB flu Hongkong (cikungunya) berarti banjarbaru kudu waspada, karena banyak-anak anak ampah yang kuliah di bjb sekarng lagi pulang kampung

  2. semoga walikota yang terpilih bisa mempertahankan piala ini stiap tahun

  3. gini aja deh, mas.
    kota banjarbaru dengan segala kejelekannya seperti yang mas heb paparkan itu aja berhasil dapat adipura. berarti bisa dibayangkan gimana bobroknya seluruh kota lain di indonesia toh? hihi… ironis, ya?

    apakah ini pertanda bahwa kita cenderung menilai sesuatu dari penampilan luarnya saja, tanpa melihat gambaran asli di baliknya?

    sampah dan air kotor memang sumber penyakit yang tak terbantahkan. sejauh ini saya belum pernah mendengar atau membaca TPA yang memanfaatkan teknologi insinerator. mungkin bacaan saya memang masih dangkal. tapi bukankah insinerator jauh lebih baik dalam meminimalkan volume sampah dibandingkan pembakaran biasa seperti yang kerap dilakukan di TPA?

    • Sepertinya … apa yang nampak belum tentu yang sebenarnya. Pemerintah daerah cenderung memikirkan dirinya sendiri (elit kekuasaan) untuk mendapatkan penghargaan, jadi saat mendekati penilaian adipura beberap lokasi dibenahi dengan anggaran yang besar, tapi tidak peduli dengan kepentingan kesehatan lingkungan yang lebih luas.

      Ada teman yang berkomentar, mungkin KLB DBD juga berhubungan dengan musim (hujan), karena menurutnya Kota Balikpapan (kota minyak) juga mendapat adipura dan juga KLB DBD. Mungkin ada daerah lainnya?

      Mengenai teknologi insinerator, beberapa daerah di Indonesia sudah ada yang menggunakannya, seperti DKI Jakarta yang membeli Insinerator seharga sekitar Rp.450 miliar per unit dengan kapasitas 1000 ton sampah (kalau tidak salah tahun 2006), dan diperlukan lebih dari 6 unit insinerator.

      Beberapa rumah sakit di Indonesia, jika tidak salah sudah menggunakan insinerator untuk mengelola limbah medis.

      Dengan menggunakan Insinerator dengan teknologi tinggi, maka sampah harus dipisahkan antara sampah organik dan non-organik … hal ini yang masih menjadi kendala, yang terkadang keberadaan insinerator tidak digunakan optimal.

      Insinerator sudah ada yang memanfaatkan untuk energi listrik dari hasil pembakaran sampah… waste to energy system, kalau tidak salah sudah ada di Indonesia.

      Namun, akhir2 ini ada yang berpendapat bahwa insinerator limbah medis dan limbah perkotaan berhubungan dengan berbagai ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat dan pencemaran lingkungan, terutama di Eropa dan Amrik. Jadi, sekarang banyak perusahaan insinerator yang mengalihkan pemasarannya ke Asia, Afrika, dan Amerika Latin, karena dianggap sebagai teknologi racun.

      Insinerator bisa meminimalkan volume sampah, tapi juga menghasilkan zat beracun dari hasil pembakarannya.

  4. Jika kebersihan kota dilakukan dengan sepenuh hati, pasti berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Namun jika ‘bersih-bersih” hanya sekedar untuk meraih penghargaan alias hanya pada titik-titik pantau, itupun pada saat tim akan turun saja…ya tidak akan ada dampak positifnya.

  5. themes that

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: