MENDAYAGUNAKAN PENGETAHUAN LOKAL ATASI KEMISKINAN


Oleh: HE. Benyamine

Pengetahuan dan teknologi lokal merupakan konsep yang berakar dari sistem pengetahuan lokal berdasarkan pengalaman masyarakat lokal atau tradisional. Pengetahuan tersebut diperoleh dari hasil uji-coba yang terus menerus dan bersifat lokal. Pengalaman melakukan uji-coba tersebut yang menghasilkan pengetahuan lokal, yang sesuai dengan kondisi setempat di mana pengalaman itu terjadi. Pengetahuan lokal menjadi menarik karena sifatnya yang lentur dan tahan dalam beradaptasi dengan perubahan lingkungan, sehingga dalam pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan dapat berkelanjutan. Pengetahuan lokal juga lebih mengarah pada penyesuaian terhadap sistem ekologi setempat, sehingga dapat menjaga keberlanjutan sistem ekologi tersebut.

Gadgil dkk (1993) dalam Mitchel, dkk (2000) membedakan pengetahuan ilmiah dan pengetahuan lokal. Ilmu pengatahuan modern yang meletakkan manusia bukan bagian dari alam, telah begitu berhasil dalam memajukan pemahaman manusia dan menyederhanakan sistem menjadi lebih sederhana. Walaupun demikian, ilmu pengetahuan modern ini tidak sepenuhnya berhasil menjelaskan sistem ekologi yang kompleks. Sistem ekologi sangat beragam, baik secara spasial maupun temporal, dan menyebabkan usaha generalisasi sebagaimana dilakukan oleh pendekatan positivistik tidak mampu menunjukkan gambaran yang jelas bagaimana penggunaan sumberdaya yang berkelanjutan. Masyarakat ilmiah selama ini cenderung menyederhanakan sistem ekologi, akibatnya timbul serangkaian persoalan dalam penggunaan sumberdaya alam dan terjadinya kerusakan lingkungan. Dalam hal ini, pengetahuan masyarakat lokal yang terakumulasi sepanjang sejarah hidup mereka mempunyai peran sangat besar. Pandangan bahwa manusia merupakan bagian dari alam dan pengalaman hidup serta sistem kepercayaan yang menekankan penghormatan terhadap lingkungan alam merupakan nilai yang sangat positif untuk pembangunan berkelanjutan.

Mitchel, dkk (2000) mengemukakan beberapa elemen dasar mengenai masyarakat asli atau lokal berdasarkan Durning (1992) antara lain: (1) keturunan penduduk asli suatu daerah yang kemudian dihuni oleh sekelompok masyarakat dari luar yang lebih kuat, (2) sekelompok orang yang mempunyai bahasa, tradisi, budaya, dan agama yang berbeda dengan kelompok yang lebih dominan, (3) selalu diasosiasikan dengan beberapa tipe kondisi ekonomi masyarakat, (4) keturunan masyarakat pemburu, nomadik, peladang berpindah, (5) masyarakat dengan hubungan sosial yang menekankan pada kelompok, pengambilan keputusan melalui kesepakatan, serta pengelolaan sumberdaya secara kelompok

Masyarakat lokal berhubungan sangat dekat dengan lingkungan dan sumberdaya alam, sehingga memungkin mereka untuk mengembangkan pemahaman terhadap sistem ekologi di mana mereka tinggal dengan melakukan uji-coba. Hasil dari uji-coba ini tidak selamanya menghasilkan hubungan yang harmonis dengan alam, karena tindakan mereka tersebut juga bisa menyebabkan kerusakan lingkungan. Namun, karena kehidupan mereka tergantung pada keadaan ekosistem, tentu saja mereka sangat dituntut untuk belajar dari kesalahan dalam berhubungan dengan alam tersebut, dan berupaya untuk tidak mengulangi kesalahan besar, yang bisa saja menyebabkan bencana bagi kehidupan mereka.

Ilmu pengetahuan modern dengan perkembangan teknologinya telah mampu meningkatkan produktivitas, namun tidak selalu mampu menghindari kerusakan lingkungan dan sumberdaya alam, juga untuk tetap mempertahankan produktivitas itu sendiri. Hal ini menyebabkan kesadaran untuk melihat pemahaman dan pandangan penduduk asli yang tinggal di suatu wilayah tentang sumberdaya, lingkungan dan ekosistem setempat. Kesadaran ini terus berkembang, diiringi dengan makin banyaknya persoalan lingkungan dan merosotnya sumberdaya alam yang disebabkan eksploitasi secara besar-besaran dengan orientasi ekonomi, yang juga mulai mempertanyakan pendekatan yang hanya berdasarkan ilmu pengetahuan modern dengan teknologinya dalam memahami suatu wilayah. Dengan demikian, penggalian kembali kearifan tradisional atau pemahaman dan pandangan masyarakat lokal menjadi relevan dan penting, serta bisa dijadikan alternatif pendekatan selain berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern dalam upaya pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

Bank Dunia (World Bank) sebagai lembaga internasional dalam situsnya menempatkan pengetahuan lokal sebagai sesuatu yang penting dalam proses pembangunan, khususnya dalam mengurangi kemiskinan (reduce poverty). Menurut Warren (1991) dalam Knowledge and Learning Center Africa Region World Bank (1998), yang mendefinisikan pengetahuan tradisional sebagai berikut: Pengetahuan tradisional (indigenous knowledge) adalah pengetahuan lokal. Pengetahuan yang unik, yang berasal dari budaya atau masyarakat. Pengetahuan tradisional ini sangat kontras dengan sistem pengetahuan internasional yang dihasilkan oleh universitas-universitas, institusi-institusi penelitian dan perusahaan-perusahaan swasta. Pengetahuan lokal ini merupakan dasar pengambilan keputusan pada tingkat lokal dalam pertanian (agriculture), kesehatan (health care), penyediaan makanan (food preparation), pendidikan (education), pengelolaan sumberdaya alam (natural-resource management), dan macam-macam kegiatan lainya di dalam komunitas-komunitas.

Di samping itu, Knowledge and Learning Center Africa Region World Bank (1998) juga memberikan contoh definisi dari Flavier et.al. (1995: 479), yang menyatakan bahwa: Pengetahuan tradisional adalah dasar informasi bagi suatu masyarakat, yang memudahkan komunikasi dan pengambilan keputusan. Sistem informasi masyarakat asli adalah dinamik, dan secara terus menerus dipengaruhi oleh kreativitas dari dalam (internal creativity) dan eksperimentasi dan juga oleh kontak dengan sistem-sistem dari luar (external systems).

Sedangkan Reid et.al (2002) menyatakan bahwa dimensi ekologi dari sistem pengetahuan tradisional biasanya yang menyangkut pengobatan masyarakat, teknik, dan ritual dengan menggunakan tanaman, binatang dan batu. Berhubungan dengan nama tempat dan menempati suatu wilayah, atau merujuk pada spritual, cosmologis dan aspek-aspek rasional dari berbagai bentuk kehadiran di dalam lingkungan.

Banyak definisi tentang pengetahuan lokal, tetapi semuanya masih belum sempurna, karena konsep ini masih relatif baru dan masih berkembang. Kepustakaan yang berhubungan dengan konsep ini menggunakan berbagai macam istilah (terms) yang dapat dipertukarkan untuk menyusun konsep pengetahuan lokal. Istilah-istilah yang dikemukakan, seperti pengetahuan masyarakat asli (indigeneous knowledge), pengetahuan tradisional (traditional knowledge), pengetahuan ekologi tradisional (traditional ecological knowledge), pengetahuan lingkungan masyarakat asli (indigenous environmental knowledge), pengetahuan komuniti (community knowledge), pengetahuan orang desa (rural peoples’ knowledge) dan pengetahuan petani (farmers’ knowledge), dan semua peristilahan tersebut sering merujuk pada hal yang sama.

Pengetahuan lokal atau pengetahuan tradisional ini dianggap penting oleh Bank Dunia. Hal in dapat dilihat pada A Framework for Action yang disusun oleh Knowledge and Learning Center Africa Region World Bank (1998) yaitu, antara lain: (1) Pengetahuan lokal atau tradisional menyediakan strategi-strategi pemecahan masalah untuk komunitas-komunitas lokal, khususnya untuk mereka yang miskin, (2) Pengetahuan lokal atau tradisional sebagai representasi dari kontribusi penting untuk pengetahuan pembangunan global, (3) Sistem-sistem pengetahuan lokal atau tradisional terancam menjadi punah, (4) Pengetahuan lokal atau tradisional relevan untuk proses pembangunan, dan (5) Pengetahuan lokal atau tradisional menggunakan sumberdaya secara minimal (under-utilized resource) dalam proses pembangunan.

Jadi, pemerintah daerah harus mulai memikirkan bagaimana pengetahuan lokal dapat menjadi bagian dari proses pembangunan. Pengetahuan lokal merupakan aset daerah yang masih terabaikan dan bahkan tidak dianggap, yang sudah seharusnya menjadi perhatian elit kekuasaan daerah untuk tetap mendayagunakannya sebagai pilihan strategi pemecahan masalah kemiskinan dan kesejahteraan masyarakat.

(Tulisan ini dimuat pada Koran Radar Banjarmasin, 11 Januari 2010: 3)

12 Responses

  1. wah jelas setuju pak, pemberdayaan lokal bukan memperdayai lokal
    jelas saja kalau artikel ini masuk BB, lhawong didukung kekuatan yuridis
    salam kreatif dari ampah

    HEB : hahaha yaa … bukan memperdayai lokal.

  2. berbagai pengetahuan lokal akan berguna bila dapat dimanfaatkan secara komprehensif.

    namun apakah pengetahuan lokal masyarakat masih bermanfaat dalam mengatasi kemiskinan mengingat kecenderungan hidup masyarakat dewasa ini yang semakin konsumtif dan hedonis, mas?

    HEB : Kecenderungan konsumtif dan hedonis biasanya juga diikuti kecenderungan sebaliknya. Masyarakat menjadi konsumtif karena lebih diarahkan menjadi sasaran pemasaran hasil dari pengetahuan “modern”, yang terkadang sampai menjadikan mereka tidak menghargai cara pandang yang sebenarnya mereka kuasai dan fahami, dianggap ketinggalan zaman dan keterbelakangan.

  3. wah, komentar saya hilan!
    *lapor polisi*

    HEB : Jangan lapor polisi dulu, kan belum hilang 24 jam? hehehe ….

  4. Semua pejabat pengen memberantas kemiskinan di negri kita tercinta ini,tapi kenapa kian tahun kemiskinan selalu bertambah,adakah cara penanggulangannya?

  5. ya, pemerintah memang seharusnya merencanakan pembangunan, juga, berdasarkan kearifan/ pengetahuan lokal; tapi bukannya berdasarkan asumsi2 atas apa yg disebut pengetahuan tradisional saklek, yg sudah tak dapat lagi mengatasi problem kekinian. pengetahuan lokal, adalah pengetahuan yang dibangun atas observasi langsung atas masalah2 lokal yang mendesak, berkaitan dengan konservasi alam sekitar dan kesejahteraan masyarakat setempat, dan persepsi jangka panjangnya.
    tapi berkaitan dengan globalitas dan kepentingan2 kapitalistik yang luas, masihkah relevan juga isu lokalitas ini? karena jika diperhadapkan dengan tknologi2 yang dikembangkan atas pengalaman2 serupa di lokal2 lain, utamanya juga karena kepentingan kapitalistik global itu telah menjangkau wilayah yang bahkan org2 tua kita dahulu tak memahaminya dan tak dapat mengatasinya, maka sungguh pengetahuan lokal kita kadang begitu naifnya.

    entahlah (mungkin omongan saya hanya ngelantur)…

  6. Semoga hari-hari selalu sukses

  7. Salam kenal, semoga semakin sukses.

  8. Kunjungan malam
    Kembali baca lagi Pak😛

  9. Assalaamu’alaikum

    Apa khabar ? Selalu ada doa buat sahabatku HEB dalam kondisi yang sihat dan bahagia. Sungguh kagum dengan penulisan saudara HEB dalam kepedulian ke atas masyarakat di Banjarmasin dan lingkungannya.

    Wah… membaca seluruh tulisan saudara menjadikan saya pusing sekali. Hal ini disebabkan banyak perkataan yang saya tidak faham dan perlukan translator .. hehehe… siapa ya yang mahu membantu saya…. walau bagaimana pun saya berdoa agar perjuangan saudara akan semakin menyerlah dan sukses agar apa yang diperjuangkan suatu hari nanti akan dijelma dalam makna yang sangat bermanfaat.

    Salam hangat di musim hujan yang dingin dari saya di Sarikei, Sarawak buat saudara HEB di Banjarmasin.

  10. kalau mulok di sekolah2 itu termasuk budaya lokal g ya? hehe

  11. analisis yang tuntas dan runtut, bang ben. masyarakat lokal dengan nilai2 kearifan lokalnya, menurut hemat saya, masih akan terus bertahan, meski peradaban terus berganti. nilai2 kearifan lokal semacam inilah yang menurut saya akan mampu memuliakan martabat kemanusiaan di tengah2 dinamika global yang dinilai makin abai terhadap persoalan2 kemanusiaan.

  12. Kadang hal seperti ini yang tidak pernah dilakukan para birokrat. Ah…. Anggarannya entah dialokasikan kemana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: