PILKADA 2010: IKLAN POLITIK RUDY ARIFFIN


Oleh: HE. Benyamine

Dalam beberapa kesempatan, Rudy Ariffin mengemukakan berbagai hal tentang kemajuan Kalsel selama masa kepemimpinannya, baik yang dikemukakan secara langsung maupun liputan khusus melalui koran lokal. Sebagai calon incumbent tentu Rudy Ariffin mempunyai kesempatan yang luas dalam menunjukkan klaim keberhasilan dan kemajuan selama memimpin Kalsel, terlepas klaim tersebut sesuai dengan kenyataan atau hanya manis di atas kertas, yang jelas masyarakat juga mempunyai penilaiannya sendiri.

Iklan politik Rudy Ariffin cenderung terlalu mengandalkan berbagai penghargaan yang diterima dalam mengarahkan persepsi masyarakat untuk mengakui berbagai klaim keberhasilan, dengan menunjukkan data-data peningkatan, seperti yang sering diungkapkan tentang peningkatan APBD Kalsel yang hingga tahun 2010 dirancang lebih dari Rp. 2 triliun.

Berbagai peningkatan yang dikemukakan dalam iklan politik Rudy Ariffin, ternyata Kalsel masih menempati posisi 26 dari 33 provinsi dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yang membuka berbagai pintu pertanyaan atas data-data peningkatan dalam berbagai bidang, terutama dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan. Melihat data-data yang dikemuakan dalam iklan politik Rudy Ariffin dan penghargaan yang mengiringinya, sebenarnya sulit untuk meragukannya, dan hal itu bisa menunjukkan kebenaran bahwa telah terjadi peningkatan tetapi pada kelompok masyarakat yang sangat terbatas, yang sekaligus menunjukkan terlalu besarnya kesenjangan dalam berbagai aspek kehidupan.

Dalam peningkatan APBD Kalsel merupakan fakta yang tidak dapat dibantah, tetapi sebenarnya hal ini memang terjadi pada setiap periode kepemimpinan, tidak hanya pada masa kepemimpinan Rudy Ariffin. Peningkatan APBD hingga menjadi triliunan tidak berbanding lurus dengan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), bahkan kalah jauh dengan provinsi Kalimantan Tengah yang mempunyai APBD lebih rendah dari Kalsel. Anggaran besar yang dalam realisasinya entah untuk apa dan bagaimana digunakannya. Besar dalam anggaran kecil manfaat, yang menunjukkan masih tidak efektif dan efesien penggunaan anggaran atau malah salah sasaran.

Peningkatan APBD juga diikuti dengan peningkatan biaya untuk berbagai bencana yang terjadi, di luar biaya yang harus ditanggung masyarakat sendiri, karena kerusakan alam akibat eksploitasi sumberdaya alam yang lebih beroreintasi pada nilai ekonomi dan kepentingan sesaat yang dinikmati hanya segelintir orang. Sebagian masyarakat yang terlibat dalam eksploitasi sumberdaya alam hanya mendapatkan upah saja, bukan bagian hasil dari nilai sumberdaya alamnya, dan sebagian besar masyarakat lainnya hanya dapat berdo’a terhindar dari bencana alam dan sosial. Kasus pencemaran sungai yang berdampak tidak hanya pada lokasi eksploitasi, tapi mengikuti daerah aliran sungai (DAS) dan anak-anak sungainya, yang menjangkau lebih jauh dari pusat pencemaran, lebih cenderung dianggap selesai setelah diberikan kompensasi kepada sebagian masyarakat yang dekat dengan sumber pencemaran.

Sebagai calon incumbent, Rudy Ariffin melalui iklan politiknya terkesan terlalu menganggap masyarakat tidak mempunyai mata dan telinga, sehingga begitu memaksakan untuk menyatakan adanya kemajuan dan peningkatan selama kepemimpinannya melalui data-data yang diikuti berbagai penghargaan dari pemerintah pusat. Masyarakat menyadari kondisi riil yang mereka hadapi, yang sebagiannya jauh berbeda dengan gemerlapnya ucapan selamat dalam berbagai penghargaan yang diterima melalui media cetak.

Memperhatikan iklan politik Rudy Ariffin menjelang Pilkada 2010, selain dari menyampaikan klaim keberhasilan, tidak nampak visi untuk membawa Kalsel dalam perubahan yang lebih berpengharapan pada periode berikutnya, padahal pengalaman selama menjadi gubernur dapat menjadi dasar dalam menentukan visi Kalsel ke depan. Berbagai tantangan dan peluang Kalsel menyongsong masa depan dapat disampaikan agar mendapatkan respon yang beragam dari masyarakat, untuk menguji visi yang dipilih dalam melanjutkan kepemimpinan. Hal ini hingga saat ini tidak nampak pada iklan politik Rudy Ariffin, sehingga nampak kepemimpinan lebih didekati sebagai milik personal bukan sebagai jalan perjuangan untuk kepentingan yang lebih besar.

Iklan politik Rudy Ariffin seharusnya mampu memberikan apa dan bagaimana Kalsel ke depan, karena sudah berpengalaman menjadi gubernur, tidak lagi terlalu mengarah pada pilihlah Rudy Ariffin sebagai personal. Pengalaman sebagai gubernur yang seharusnya diformalisasikan dalam iklan politik, agar nampak suatu keadaan yang mengarah pada kelanjutan kepemimpinan, bukan orang lain pada periode berikutnya. Bagaimana masyarakat dapat tetap percaya pada kepemimpinan Rudy Ariffin, jika sudah berpengalaman jadi gubernur masih kesulitan dalam membangun visi harapan bagi Kalsel masa depan?

Jadi, Rudy Ariffin dan tim kampanye harus mulai memikirkan pembentukan opini dan pencitraan yang lebih mengacu pada pengalaman sebagai gubernur, tidak terjebak pada data-data klaim peningkatan berbagai bidang dengan dasar penghargaan yang diterima. Pengalaman adalah guru paling berharga, dan itu harus dapat diformalisasikan dalam bentuk program berdasarkan visi Kalsel masa depan, minimal dalam lima tahun periode pemerintahan. Jika, Rudy Ariffin dan tim kampanye tidak mampu memformalisasikan pengalamannya sebagai gubernur, maka peluang calon yang lain sangat terbuka lebar menjadi pilihan karena tumbuh kecenderungan psikologi ada harapan pada yang baru.

7 Responses

  1. semoga menghasilkan pemimpin yang amanah dari pilkada nanti
    sukses untuk kalimantan selatan

  2. Tidak dapat disangkal, bahwa pada tataran praksis iklan politik kita sangat ‘terbatas’, baik pada tataran isu maupun metode. Sangat jauh bicara dari soal-soal macam IPM dan sejenisnya.

    Namun, hal ini justru membuat saya curiga, bahwa sebenarnya ini adalah realita, mayoritas publik pun memahami dan memaknai pembangunan secara terbatas. Jika memang benar demikian, maka harus ada perubahan mind set yang mendesak. karena jika tidak, maka publik hanya akan jadi penonton, atau bahkan obyek penderita.

    *
    apa kabar Pak Ben? semoga selalu dalam keadaan yang terbaik. ini adalah kesempatan pertama saya untuk benar-benar keliling, termasuk kembali ke blog ini. maaf, lama sekali saya terpaksa libur.

    HEB: Alhamdulillah, keadaan baik, moga Pakacil juga demikian.

  3. Begitulah salah satu cara seorang ‘juara bertahan’ untuk menarik perhatian.

    Informasi kritis semacam masukan bapak perlu terus disosialisasikan untuk membuka mata publik agar pemilih semakin jeli dalam menentukan.

    Bravo Pak Benyamine.

  4. Politik politik!!!
    Para aktor politik memang akan melakukan apapun demi kehendaknya tercapai. Namun mereka sering lupa bahwa rakyat kini sudah tak buta lagi.
    Semoga Kalimantan Selatan akan memperoleh pemimpin yang benar2 amanah.

  5. banyak pemimpin (baca: pejabat) yang enggan meninggalkan singgasananya sehingga segala cara dilakukan untuk bertahan.

    prestasi yang baik akan terlihat dengan sendirinya oleh mata hati yang jernih bukan, mas heb? yah, mudah-mudahan masyarakat kita lebih cerdas dan bijak membaca kampanye.

  6. Assalaamu’alaikum

    Alhamdulillah, sampai juga ke laman sahabat baik dari Banjarmasin ini. Ketika membaca artikel di atas, walau kurang memahami banyak perkara kerana bidang politik ini bagi saya amat sukar juga untuk dimengertikan, dapat menambah ilmu dan pengetahuan berhubung politik semasa yang berlaku di lingkungan negara sahabat.

    Mudahan pimpinan yang bakal menerajui kepimpinan adalah dalam kalangan mereka yang berkaliber serta memahami makna tanggungjawab yang diamanahkan oleh rakyat yang memilih. Salam mesra selalu dari saya di Sarawak, Malaysia.

  7. sebagai warga negara yang baik ikutilah aturan yang berlaku, jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan. kerjakanlah sesuai dengan perudang-undangan yang berlaku di negara kita Indonesia. memilih pemimpin tidak sama dengan memilih baju di pasar asal cocok di badan sudah di beli, tapi kalau memilih pemimpin betul-betul melihat apa visi dan misinya untuk perubahan warga/masyarakat yang dipimpinnya. tidak juga memilh kucing dalam karung. pemimipin yang baik adalah yang mau mendengarkan aspirasi warga/masyarakatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: