PENGETAHUAN TERGUSUR BERSAMA TRANS LABURAN


Oleh: HE. Benyamine

Betapa mudahnya perusahaan tambang batubara dengan dukungan pemerintah daerah membuat rencana penggusuran suatu kawasan transmigrasi demi perluasan lahan operasional pertambangan, sebagaimana yang dialami transmigrasi Laburan Desa Padang Panjang, Kecamatan Tanta Kabupaten Tabalong untuk kepentingan tambang PT. Adaro Indonesia (Radar Banjarmasin, 5 Februari 2010).

Trans Laburan merupakan transmigrasi yang sudah mulai beradaptasi dengan ekologi setempat, dengan 109 kepala keluarga (KK), sudah terjadi pembauran dengan warga asli Tabalong, yang telah menjadi pedesaan padat dan ramai karena keberadaannya sudah cukup lama. Program pemerintah untuk transmigrasi tidak semudah yang dibayangkan, tidak sedikit yang gagal dan anggaran yang begitu besar seperti tak berbekas, dan Trans Laburan yang menjadi pedesaan yang padat dan ramai serta terjadi pembauran dengan warga asli merupakan suatu bentuk keberhasilan dalam transmigrasi.

Meskipun perusahaan memberikan jaminan untuk membangun dan melaksanakan kesepakatan pada lahan pengganti dengan segala fasilitasnya dalam pembebasan tersebut, sebenarnya masih banyak hal yang tidak begitu saja dapat tergantikan dengan pembangunan fisik yang lebih bagus sekalipun. Antara lain, pengetahuan yang sudah mereka miliki dalam beradaptasi dengan sistem ekologi setempat, yang memerlukan waktu yang cukup lama dan kesesuaian dengan lahan pengganti baru. Apalagi, pendidikan terakhir kebanyakan tamat SD dan SMP, yang tentu masih sangat mengadalkan dengan pengetahuan yang mereka miliki dalam proses adaptasi dengan sistem ekologi setempat.

Warga Trans Laburan sudah dapat dikatakan hidup dengan pengetahuan yang berakar pada suatu tempat khusus dan kumpulan dari pengalaman-pengalaman mereka dalam berinteraksi dengan sistem ekologi setempat, sehingga mereka sudah menjadi masyarakat setempat yang masih mengandalkan pengetahuan lokal. Ellen dan Harris (1996) mengemukakan beberapa karakteristik yang secara umum dapat diterima berdasarkan kelebihan-kelebihan khusus yang menempel pada pengetahuan tradisional atau masyarakat asli, yang membedakannya dengan pengetahuan yang lain, yaitu: (1) pengetahuan masyarakat asli (indigenous knowledge) adalah lokal: yang berakar pada suatu tempat khusus dan kumpulan dari pengalaman-pengalaman, yang dihasilkan oleh orang yang hidup di tempat itu. Sehingga, bila dilaksanakan di tempat lain akan potensial berisiko mengalami ketidakcocokan tempat pengetahuan tersebut, (2) pengetahuan masyarakat asli diteruskan secara oral (orallytransmitted), atau diteruskan melalui peniruan dan peragaan. Jadi sangat wajar, kalau ditulis bisa merubah beberapa sifat-sifatnya yang fundamental, dan bisa mendorong pada ketidakcocokan tempat, (3) pengetahuan masyarakat asli adalah konsekuensi dari bentuk kehidupan sehari-hari, dan yang secara konstan diperkuat oleh pengalaman dan uji-coba (trial and error).

Selanjutnya, (4) pengetahuan masyarakat asli adalah lebih empirik daripada pengetahuan secara teori, karena pengalaman dan uji-coba diuji dengan teliti sebagai bentuk bertahan dari komunitas lokal secara konstan memperkuat pengetahuan tersebut, (5) pengulangan (repetition) adalah karakteristik dari tradisi, bahkan ketika pengetahuan baru bertambah. Pengulangan membantu pengingatan dan memperkuat ide, (6) tradisi selalu mengalami perubahan tanpa akhir yang nyata, sehingga bila dilakukan pada pengetahuan maka negosiasi merupakan konsep sentralnya. Pengetahuan masyarakat asli, di manapun, secara konstan berubah, baik membuat maupun membuat kembali, baik menemukan maupun kehilangan, meskipun sering direpresentasikan sebagai sesuatu yang statis, (7) pengetahuan masyarakat asli secara khas memberikan lebih banyak tingkatan daripada pengetahuan bentuk yang lain, termasuk sains global. Inilah mengapa pengetahuan ini kadang-kadang disebut “sains masyarakat”, sebutan untuk produksi sehari-hari, (8) meskipun pengetahuan masyarakat asli difokuskan pada individu-induvidu khusus dan bisa mencapai tingkat pertalian di dalam ritual dan bentuk simbolik lainnya, distribusinya selalu secara fragmen, (9) klasifikasi pengetahuan berdasarkan pada kriteria bukan fungsional, di mana pengetahuan masyarakat asli ada pada kekomplekannya dan penerapan organisasinya secara langsung adalah secara esensial fungsional, dan (10) pengetahuan masyarakat asli secara karakteristik situasi dalam tradisi budaya yang luas; yang memisahkan teknik dari non-teknik, rasional dari non-rasional merupakan suatu problematik tersendiri.

Begitu juga yang dikemukakan Grenier (1998) bahwa perkembangan sistem-sistem pengetahuan lokal, meliputi semua aspek kehidupan, termasuk pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup, telah menjadi bagian untuk survive bagi masyarakat yang menghasilkan sistem ini. Seperti sistem-sistem pengetahuan adalah kumulatif, menggambarkan pengalaman-pengalaman generasi, pengamatan-pengamatan yang hati-hati, dan percobaan uji-coba (trial and error).

Oleh karena itu, memindahkan suatu kawasan pedesaan padat dimana warganya sudah mengalami adaptasi dengan sistem ekologi setempat dan mengalami pembauran dengan warga asli Tabalong, tidak hanya dipandang sebagai pemindahan seluruh fasilitas warga masyarakat transmigrasi, seperti rumah, lahan perkebunan, dan fasilitas lainnya, serta seluruh asset pemerintah yang ada di kawasan tersebut, tetapi harus juga diperhatikan tentang pengetahuan lokal yang mereka miliki karena hal ini sangat berhubungan bagaimana mereka hidup dan berkehidupan di tempat yang baru. Pengetahuan ini sangat berhubungan dengan bagaimana dengan mata pencaharian mereka, kemampuan bertahan, bagaimana mereka beradaptasi dengan lingkungan baru.

Jadi, perusahaan PT. Adaro Indonesia dan Pemkab Tabalong tidak menganggap mudah pemindahan suatu kawasan pedesaan padat dan sudah beradaptasi dengan sistem ekologi setempat, hanya dengan menyanggupi pengganti seluruh fasilitas fisik dan memberikan kompensasi lainnya tanpa melihat bagaimana pengetahuan yang mereka kembangkan dalam beradaptasi dengan lingkungan setempat. Pengetahuan ini sungguh mahal, dan tidak tiba2 mereka kuasai, tapi membutuhkan waktu yang lama dan mengalami berbagai kegagalan dan kendala, yang merupakan konsekuensi bentuk kehidupan mereka sehari-hari. Harus diingat, bahwa operasi pertambangan bisa hengkang begitu saja, tapi kehidupan masyarakat tidak hanya untuk sementara namun masih ada generasi baru yang akan terus menetap di wilayah itu.

(Tulisan ini dimuat dalam Koran Radar Banjarmasin, 13 Februari 2010: 3)

6 Responses

  1. kalo saya malah berharap, tanah kapling saya mau digusur jadi bisa saya sengketakan dan dimejahijaukan pihak terkait, dan saya akan menuntut harga mahal untuk per meter perseginya

    • setelah dirimu dapat ganti rugi, langsung habis bahkan nombok buat bayar seluruh biaya berperkara.. mau?
      whuihihihihi…😀

  2. Kalau jadi, maka 109 KK yang kini akan dipindahkan harus bersiap-siap dengan menghadapi hidup dan kehidupan ditempat yang baru dengan pengetahuan lokal yang mereka miliki.

    Hidup memang selalu ada perubahan, mudah2an ada upaya yang dapat dilakukan oleh Adaro Indonesia dan pemerintah daerah memperhatikan tidak hanya fasilitasnya saja, tetapi juga pasca pemindahan sampai dengan periode tertentu, untuk mengevaluasi dampaknya, serta melakukan tindakan tindakan yang perlu dilakukan.

  3. ketika yang dipikir berapa keuntungan yang saya dapat sekarang
    masyarakat menjadi nomor duapuluh tujuh

  4. biasalah, mas heb. saat dihadapkan pada keuntungan material yang besar, hal lain pun menjadi tak berarti untuk menjadi bahan pertimbangan. apalagi hanya “sekadar” pengetahuan lokal masyarakat yang sudah beradaptasi. tak jadi hitungan.

  5. beuh… selalu bikin kesal hal² macam ini 😦
    mungkin ada baiknya itu para perusahaan dan pejabat yang mengambil kebijakan macam ini, dimagangkan dulu sebagai penduduk di sebuah wilayah baru dibuka macam transmigrasi, minimal 2 tahun !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: