CERITA ANAK (3): AYUV … DISARANKAN MASUK SLB


Selesai sudah Taman Kanak-Kanak. “Aku berpikir sederhana. Aku memilihkan SD yang terdekat dengan rumah kami bagi Ayuv. Berdasarkan beberapa informasi dari mereka yang mempunyai anak di SD yang menjadi pilihanku untuk Ayuv adalah termasuk sekolah yang bagus dengan kepala sekolah teladan. Aku mendaftarkan Ayuv di sekolah tersebut dan diterima karena salah satu syaratnya bisa membaca dan memang di test membaca. Aku berusaha memenuhi segala persyaratan yang ditetapkan pihak sekolah. Menebus pakaian seragam. Membeli buku pelajaran. Menebus lambang sekolah. Segalanya aku rasakan begitu lancar dan membuat diriku terlihat seperti orang yang mau sekolah, bukannya Ayuv”, Ayahnya Ayuv berbicara dengan dirinya sendiri.

Ayuv yang sudah berumur 5 tahun lebih dikit, masih tidak betah duduk di kursi sekolah, lebih banyak bergerak dan terus bergerak. Hari pertama sekolah dilalui dengan bergerak dalam kelas dan di luar kelas. Anak-anak yang lain sudah begitu tertib dan betah duduk untuk mendengarkan pelajaran yang disampaikan guru. Ayuv sudah melewatkan hari pertamanya di sekolah dasar dengan pilihannya sendiri, tidak mengikuti arahan guru.

Pulang sekolah, dalam perjalanan, Ayahnya Ayuv mencoba menanyakan bagaimana sekolah barunya. Ayuv menunjukkan rasa senang. Ayuv terlihat begitu bebas di kelas dan lingkungan barunya pada hari pertama. Seperti biasa, tanggapan Ayuv selalu tidak berhubungan dengan sekolah sebagaimana yang dibayangkan tentang sekolah. Ayuv bilang kalau tadi waktu pulang bahwa ia sudah cium tangan gurunya, tentunya anak yang terakhir karena ia masih sibuk memperhatikan benda-benda yang ada di kelas. Maklumlah tempat baru, benda-benda baru, dan suasana baru. Segalanya baru.

Ayah Ayuv merasa senang juga melihat Ayuv begitu bersemangat dan yang lebih penting bahwa ia tidak perlu ditunggu, jadi tinggal menjemput saat waktu pulang saja.

Kegembiraan Ayahnya Ayuv mulai terusik, padahal belum genap seminggu Ayuv bersekolah di SD tersebut, yang sebenarnya terlalu cepat untuk menilai atas seorang murid SD. Guru kelas mulai memberikan penilaiannya terhadap Ayuv, sebagai anak yang sangat berbeda dengan murid lainnya. Pada hari kedua, guru kelas menyampaikan penilaiannya kepada tantenya Ayuv yang kebetulan menjemputnya.

“Ayuv lebih baik sekolah di tempat khusus”, kata Bu Guru dengan mimik serius dan yakin.

“Emang kenapa Bu?”, tanya Tantenya Ayuv dengan heran dan penasaran sekaligus.

“Ayuv tidak bisa diam. Konsentrasinya entah kemana. Sangat berbeda dengan murid lainnya”, jelas Bu Guru dengan rasa tidak enak menyampaikan hal itu.

“Oh, nanti saya sampaikan kepada orang tuanya”, jawab Tantenya Ayuv mengakhiri perbincangan untuk segera pulang.

“Ya, nanti kita lihat beberapa hari lagi, apa ada perubahan”, tambah Bu Guru sambil berlalu untuk menunjukkan bahwa masih ada harapan dan bisa saja dia salah nilai.

Ayahnya Ayuv diberitahu tentang penilaian Bu Guru bahwa Ayuv disarankan sekolah di tempat khusus. Rasanya kegembiraan yang mengiringi masuknya Ayuv ke sekolah dasar begitu cepat dihadapkan keanehan perilaku Ayuv di mata gurunya. Tantenya Ayuv bilang bahwa Bu Guru terlihat serius saat mengatakan hal tersebut. Ayahnya Ayuv tidak menanggapi serius, apalagi Ayuv baru 2 (dua) hari sekolah, tentu ada kejanggalan-kejanggalan dengan perilaku murid, pikirnya Ayuv masih perlu penyesuaian dengan tempat dan suasana baru.

Ternyata Bu Guru memang serius dengan ucapannya, karena hari berikutnya, yang berarti hari ke-3 Ayuv bersekolah, saat bertemu dengan Ayahnya Ayuv yang menjemput, Bu Guru kelas menyampaikan secara langsung.

“Pak, Ayuv ini anak pintar, sudah bisa baca … sebaiknya dicarikan sekolah khusus”, kata Bu Guru ketika ketemu dengan Ayahnya Ayuv yang lagi menjemput Ayuv di sekolah.

“Sekolah khusus yang bagaimana? Ibu tahu sekolah khusus tersebut. Di mana?”, jawab Ayahnya Ayuv dengan datar dan sebenarnya bingung.

“SLB … Ayuv bisa mendapatkan penanganan yang tepat. Ayuv bisa ditangani secara khusus”, Bu Guru mengatakan terlihat begitu meyakinkan.

“Oh … SLB, ya Bu”, kata Ayahnya Ayuv dengan suara kaget yang ditahan sambil melanjutkan dengan menahan diri, “Nanti saya cari tahu, terima kasih Bu sarannya”.

Bu Guru pamit meninggalkan pergi ke ruang guru. Ayahnya Ayuv masih berdiri seperti tidak bisa bergerak, sambil memegang tangan Ayuv, dan kaget saat Ayuv menarik tangan dan meminta untuk segera pulang. Sambil berjalan menuju kendaraan, Ayahnya Ayuv seakan tidak percaya bahwa dia baru saja bicara dengan Bu Guru kelas yang mengatakan Ayuv sebaiknya sekolah khusus, ya sekolah SLB.

Ayahnya Ayuv merasa dan yakin bahwa Ayuv tidak jauh berbeda dengan anak-anak lain seusianya. Ayuv tidak bisa diam dan punya rasa ingin tahu, tidaklah menjadikannya berbeda sekali dengan anak-anak lain. Apakah Ayuv dianggap autis? Jika diperhatikan perilaku Ayuv, tidaklah menunjukkan ciri-ciri dia anak autis. Ayuv berbicara dengan orang lain melalui kontak mata, ia mau bersosialisasi dengan orang lain, mengajak main dan suka bercanda, sudah bisa membaca, meski kadang-kadang dia tidak begitu peduli dengan sekitarnya tatkala sedang serius dengan sesuatu yang menarik perhatiannya. Ayuv senang berbicara dengan orang, cepat akrab dengan orang yang baru dikenalnya, suka membaca buku-buku, dan mau berbagi bekal yang dibawanya dengan teman-temannya.

Perkataan Bu Guru bahwa Ayuv sebaiknya dikirim ke SLB, sangat mengganggu pikiran Ayahnya Ayuv, bagaimana seorang guru menyimpulkan hal tersebut terhadap muridnya yang baru sekolah tidak lebih dari jari satu tangan, sebenarnya ada perasaan tersinggung dan sekaligus bingung dengan sikap guru tersebut. Seakan, semua murid harus sama dalam tingkah lakunya, harus menjadi murid rata-rata yang sesuai dengan perilaku murid satu kelas. Penyimpangan sedikit akan menjadi masalah, guru tidak mau tahu dengan psikologi muridnya, tentang perkembangan anak didiknya, sehingga kurang dari seminggu sudah dapat menentukan bahwa seorang murid seperti apa dan lebih baik dikirim ke mana.

“Ayuv di sekolah belajar apa?”, tanya Ayahnya Ayuv ingin tahu dan penasaran.

“Di sekolah banyak mainan … di lemari Bu Guru juga ada”, jawab Ayuv dengan semangat.

“Oh banyak mainan ya, belajarnya apa di kelas?”, Ayahnya Ayuv kembali bertanya.

“Bu Guru tanya huruf-huruf, Ayuv kan udah tahu”, jawab Ayuv seperti tidak bersemangat sambil melanjutkan, “Ayuv ingin tahu benda-benda di kelas, banyak sekali Ayah”.

“Teman-teman Ayuv kan semuanya duduk di kursi, dengarkan Bu Guru”, kata Ayahnya Ayuv.

“Iya, Ayah! Ayuv juga duduk, terus Ayuv jalan-jalan … lihat-lihat”, celetok Ayuv dengan datar.

“Ibu Guru kan suruh anak-anak duduk yang rapi”, selidik Ayahnya Ayuv.

“Iya, Bu Guru tanya huruf-huruf dan angka-angka terus, Ayuv kan sudah tahu”, jawab Ayuv seperti nggak serius.

Ayahnya Ayuv tidak melanjutkan pembicaraan, Ayuv sudah gelisah ingin melakukan sesuatu. Ayuv bisa tidak konsentrasi diajak bicara, jika ia sudah mulai melakukan sesuatu, Ayahnya Ayuv menyadari hal itu. Ayuv langsung mengambil beberapa mainan, ia bermain seperti sedang berada dalam dunianya sendiri. Berhenti bermain, Ayuv membuka-buka buku dengan serius yang terkadang tertawa sendiri. Atau, Ayuv menonton film kartun di televisi yang juga terlihat begitu menikmati.

Pada hari ke-5, saat Ayahnya Ayuv menjemput, Bu Guru kelas memintanya untuk bertemu dengan kepala sekolah. Ayahnya Ayuv bingung kenapa kepala sekolah ingin ketemu. Ada apa? Apakah Ayuv telah melakukan sesuatu yang sangat aneh, sehingga kepala sekolah ingin bertemu. Sambil berusaha menghalau pikiran yang tidak-tidak, Ayahnya Ayuv berjalan menuju ke kantor kepala sekolah sambil mengganding tangan Ayuv. Sesampainya di kantor kepala sekolah, Ayuv langsung masuk seakan sudah begitu akrab dengan suasana kantor tersebut, saat bersamaan kepala sekolah mempersilakan masuk kepada Ayahnya Ayuv.

“Begini Pak, Ayuv ini anak pintar, dia suka bertanya dan rasa ingin tahunya besar, dia juga sudah bisa membaca”, kepala sekolah memulai pembicaraan.

“Ya, mudahan tidak terlalu merepotkan”, Ayahnya Ayuv menjawab sambil merasakan ada sesuatu yang membingungkan.

“Tidak Pak, Ayuv sering ke sini, dia tanya-tanya alat-alat peraga itu, rasa ingin tahunya besar sekali. Menurut kami, Ayuv sebaiknya ditangani secara khusus. Saya punya teman sesama guru yang anaknya juga seperti Ayuv”, kepala sekolah yang menyandang predikat kepala sekolah teladan tersebut melanjutkan apa yang ingin disampaikannya.

“Ibu bisa kasih alamat temannya ibu itu, nanti saya ingin tanya, biar mendapat penjelasan”, sela Ayahnya Ayuv sambil berusaha menutupi perasaan jengkel dan dongkol.

“Iya, nah ini alamatnya, bapak bisa tanya dengan dia, karena anaknya dia dikirim ke SLB tersebut”, kata kepala sekolah sambil menyodorkan alamat temannya.

“Terima kasih, Bu. Saya akan bertemu dengan dia”, kata Ayahnya Ayuv langsung berdiri dan memanggil Ayuv yang sedang mengamati alat peraga bentuk tubuh manusia, kemudian pergi dengan perasaan dan pikiran mempertanyakan sosok seorang guru yang barusan dihadapi.

Setelah mengantar Ayuv ke rumah, Ayahnya Ayuv langsung berangkat mencari guru temannya kepala sekolah berdasarkan alamat yang telah diberikan. Mencari alamatnya tidak sulit, karena alamat sekolah di mana guru tersebut mengajar. Ayahnya Ayuv langsung ke ruang guru, dan kebetulan jam istirahat, jadi bisa langsung ketemu yang bersangkutan.

“Maaf Bu mengganggu, saya tadi disarankan untuk menemui ibu, menanyakan sekolah khusu, katanya ibu juga punya anak yang sekolah di SLB”, Ayahnya Ayuv memulai pembicaraan dengan menyebutkan informasi itu berasal dari kepala sekolah yang temannya.

“Tidak apa-apa, Pak. Iya, benar anak saya sekolah di SLB, karena IQ nya di bawah 70, di sana dia mendapatkan penanganan khusu. Meja khusus, yang ada lubangnya ditengah, dan anak itu dimasukkan dalam lubang itu dengan dipasang penghalang agar tidak bisa ke mana-mana, sekarang syukur alhamdulillah anak saya sudah bisa sekolah normal”, temannya kepala sekolah menjelaskan dengan ringan.

“Oh, begitu ya, sekolahnya di mana?”, Ayahnya Ayuv menahan rasa marah dengan guru-guru yang menyarankan Ayuv masuk sekolah SLB, dan untuk menghargai temannya kepala sekolah itu dengan menanyakan alamat sekolah itu sebagai basa basi saja.

Dengan perasaan yang kesal dan berusaha ditutupi dihadapan temannya kepala sekolah itu, Ayahnya Ayuv pamit pulang dan mengucapkan terima kasih telah menjelaskan sekolah khusus tersebut. Dalam perjalanan pulang, Ayahnya Ayuv sudah memutuskan bahwa Ayuv harus pindah sekolah, masa anak seperti Ayuv disarankan untuk dikirim ke SLB seperti anaknya guru temannya kepala sekolah. Besok Sabtu, Ayuv tidak usah masuk lagi di sekolah itu, harus pindah ke sekolah lain biar sekolah jelek sekalipun.

Sampai di rumah, Ayahnya Ayuv bilang kepada adiknya untuk mencarikan sekolah lain, apapun sekolahnya. Adiknya langsung menyanggupi, pokoknya beres katanya, nanti kita bawa kepada guru temannya Ibu (neneknya Ayuv) yang hampir pensiun mengajar di salah satu SDN yang juga bagus. Ternyata, guru temannya neneknya Ayuv itu bilang masukkan saja ke sini, anak-anak itu memang begitu jangan khawatir, apalagi baru kelas satu, malah ada yang menangis terus minta ditunggui sama orang tuanya.

Hari senin, Ayuv diantar masuk sekolah barunya, dalam perjalanan Ayuv sempat bilang bahwa Ayah kelewatan sekolahnya, karena memang melewati sekolah yang kurang seminggu Ayuv menjadi muridnya.

15 Responses

  1. Melihat apa yang dilakukan Ayuv di kelas, aku agak curiga Ayuv tergolong anak yang gifted. Coba Ayah Ayuv cari tau informasi tentang gifted kids di internet deh. Anak yang kecerdasannya di atas jenius, itu yang menjadi dia beda dengan perilaku anak2 biasa (termasuk perilaku anak2 jenius sekalipun).

    salam
    poppy

  2. salam.

    kunjungan pertamaxxxxxxxx😀😀😀

  3. CERPEN yang bagus pak saya numpang membacanya dulu….

  4. hey this blog is great. I’m glad I came by this blog. Maybe I can contribute in the near future. PM ME on Yahoo AmandaLovesYou702 Thank you day127

  5. Nah.. bagaimana kisah Ayuv di sekolah yang baru ini?…
    Jadi penasaran deh nih…. hks…

  6. ya ampun. kebayang rasa dongkolnya.
    anak-anak sewajarnya memang ekspresif seperti ayuv, bukan robot yang sekadar patuh seperti harapan guru. itu dulu. guru mustinya dapat melihat potensi ayuv, dan jangan cepat menghakimi hanya karena ayuv berbeda. berbeda bukan berarti tidak normal, kan? dan tak bisa dipungkiri, imej SLB, bagaimanapun sebenarnya tidak dimaksudkan demikian, telah membuat alergi sebagian besar kita.

    mudah-mudahan ayuv lebih senang di sekolahnya yang sekarang. saya yakin, ayuv will make a very bright student, dishtingusihed one, wherever he studies.

  7. Assalaamu’alaikum

    Membaca kisah Ayuv di atas, membuat saya tersenyum sahaja. iya.. memang betul… saat anak-anak memasuki SD atau sekolah rendah (Malaysia), yang paling sibuk adalah para ibu bapa seperti mereka aja yang akan bersekolah dan mereka juga yang paling gembira.

    Ayuv adalah anak yang sangat aktif dan tentunya membahagiakan. paling seronok saat mendengar bicara-bicara indahnya tentang guru, teman, sekolah dan apa yang dipelajarinya hari tersebut.

    Sayang sekali, gurunya tidak sabar menangani anak pintas seperti itu, kemahiran psikologi yang dipelajari di masa latihan perguruan seakan tidak diguna dengan semaksimum mungkin. tambah menyakitkan sebagai ibu dan bapa kalau anak sepintar itu dianggap kurang normal yang sepatutnya diberi pengayaan dalam usaha membangunan kecerdikan dan kecerdasan mindanya.

    Saya berbangga kerana ayahnya Ayuv bertindak pantas mengeluarkan anaknya dari sekolah yang dianggap punya potensi besar bagi mendidik anak dengan lebih optimis. tetapi ternyata menghampakan. Mudahan sipintar Ayuv akan mendapat yang terbaik dalam hidupnya melalui ketabahan dan perihatin ayahnya terhadap pendidikan dan masa depannya.

    Kisah Ayuv sungguh menarik perhatian saya untuk dijadikan cerita teladan. iya… kalau sudah guru, maka kisah guru selalu menyentuh hati dan perasaan ketimbang yang bersifat guru bukan sebenar guru… selalu menghancur dan memalukan profesion perguruan.

    Salam hangat dan mesra selalu buat sahabatku HEB di Banjarmasin.

  8. dari beberapa kali baca soal ayuv, sampai sekarang, saya tetap yakin bahwa ayuv memiliki kemampuan analisa melebihi teman² seusianya. dan ini adalah kelebihan.

    dari cerita di atas, ada sebuah konsep dasar yang nampaknya harus dipecahkan oleh kalangan pendidikan di tingkat lokal, yakni tentang konsep pendidikan untuk anak dengan kebutuhan khusus yang berangkat dari kelebihan seorang anak. selama ini kebutuhan khusus hanya identik dengan kekurangan.

    kalau boleh tau, itu sekolanya dimana ya pak ben? dan siapa nama kepala sekolahnya?
    kalau berkenan untuk kasih informasi tersebut, dapat dikirim melalui email saia yang digunakan untuk komentar ini saja, biar tidak perlu terbuka.

  9. ya.. gimana ya.. sik tak baca ulang lagi

  10. hemmmm membaca 1x rasanya kurang puas … izin membaca untuk yang kedua kalinya ….. selamat malam mas….

  11. Saya akan cari referensi lebih jauh mengenai SLB ini. Memang image SLB di mata kita hingga saat ini ya sekolah untuk anak2 dengan kemampuan di bawah rata2. Nah, bagaimana dengan sebutan sekolah khusus yang menangani anak dengan kemampuan di atas rata2, SLB juga kah?
    Yang jelas Ayuv anak cerdas. Orang tuanya pantas berbangga untuk itu.
    Salam!!!

    • Benar, Pak Mursyid! Image SLB cenderung untuk anak2 dengan kemampuan di bawah rata2. Ada baiknya mencari lebih jauh mengenai SLB, agar dalam memberikan saran dapat lebih tepat sesuai dengan anak yang bersangkutan.

      Dalam konteks cerita ini, SLB yang dimaksudkan sebagaimana yang disarankan untuk menemui guru temannya kepala sekolah yang mempunyai anak dengan kemampuan di bawah rata2 (IQ 70 ke bawah) sebagai acuannya.

  12. biasanya mas kalau ayah ayuv ke lewatan ngantarnya kan sekolah baru heee……

  13. kalau melihat perilaku ayuv yang cenderung hiperaktif, bahkan memilikikecenderungan IQ di atas rata2 teman sebayanya, mungkin ada benarnya kalau dia perlu disekolahkan secara khusus. dia pasti ndak akan nyaman kalau berada di tengah2 teman sebayanya yang ber-IQ normal.

  14. aku jadi inget tokoh percy jackson di novel dewa-dewa olympus yang sekarang diangkat jadi film layar lebar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: