SASTRAWAN MENIKAM DIRINYA SENDIRI


Oleh: HE. Benyamine

Dunia sastra dan seni dipandang sebagai dunia yang sepi dan sunyi, karena adanya pendapat bahwa politik tidak layak mengotori keindahan kata-kata sastrawan dan merusak gerak laku seniman, sehingga terlalu banyak karya sastra atau seni seperti hilang tertiup angin. Dunia sastra dan seni terlepas dari kehidupan hiruk pikuknya politik, yang membuat karya sastra atau seni tidak menjadi bagian dari warna kehidupan itu sendiri, yang hanya hadir dalam lingkungan terbatas dan berbatas. Bahkan, terkesan sastrawan atau seniman berpolitik dalam kelompok atau lingkarannya sendiri, bebas dari dunia nyata.

Para sastrawan dan seniman yang berupaya terus sadar dengan detak kehidupan masyarakat, juga mengalami dunia yang sepi dan sunyi, karena mereka lebih terkurung dan terasing dari arus kekuasaan yang mempunyai begitu banyak panggung dan media. Beberapa dari sastrawan dan seniman ini malah terkuras daya hidupnya sebelum mendapatkan panggung atau media untuk menyampaikan karya.

Politik yang terbebas dari para sastrawan atau seniman cenderung semakin menjauh dari kondisi riil sosial masyarakat, yang menjadikan politik sebagai suatu bentuk penindasan dan kekejaman para elit kekuasaan. Kondisi riil masyarakat menjadi sesuatu yang palsu, yang tergantung pada penafsiran elit kekuasaan, yang mengarahkan para sastrawan atau seniman menghasilkan karya sastra atau seni sesuai pesanan penguasa.

Sastrawan atau seniman mempunyai hak untuk menunjukkan keberpihakan kepada salah satu ideologi politik dan elit kekuasaan, yang dianggap merupakan ideologi yang dapat mengarahkan pada kesejahteraan dan kedamaian masyarakat, sehingga para sastrawan atau seniman mengarahkan daya kreatif dan imajinatif untuk menggerakkan masyarakat dalam jalan perjuangan bersama. Di sini, para sastrawan atau seniman masuk dalam hiruk pikuk politik, tentu sebagai salah satu subjek atau aktor yang terlibat dalam memperjuangkan keyakinan dan harapannya menjadikan masyarakat yang sejahtera.

Pemihakan sebagian sastrawan atau seniman pada penguasa atau kekuasaan perlu mendapatkan apresiasi dari para sastrawan dan seniman, yang memungkinkan sebagian yang lainnya mempunyai pemahaman dan pemihakan yang berbeda, sehingga dapat terus membangkitkan semangat untuk terus berkarya dan berusaha menghasilkan karya yang terbaik. Tidak menjadi khawatir menghasilkan karya yang memihak atau mendapatkan cap karya untuk kepentingan politik.

Pemahaman bahwa politik tidak perlu hadir dalam karya sastra atau seni, sama saja mengatakan bahwa sastra atau seni terjerembab pada keindahan yang tidak terlihat, yang pada saat dibutuhkan politik untuk kepentingannya baru bisa terlihat pada panggung-panggung pencitraan para politisi. Saat kepentingan politisi membutuhkan media, maka sastrawan atau seniman mendapatkan kemudahan dan medan aktualisasi diri, yang seakan mendapatkan pengakuan atas hasil karya mereka dengan tersedianya dana untuk membiayai pencetakan buku dan berbagai pegelaran seni.

Para sastrawan atau seniman yang mengesampingkan politik sebagai bentuk keberpihakan yang memungkinkan mereka terlibat di dalamnya, secara tidak langsung juga mengesampingkan ketajaman dan kekuatan kata-kata, yang menghasilkan buah karya yang kesulitan menemukan makna, yang selalu menunggu datangnya kepentingan kekuasaan, tanpa bisa menjadikan karya itu berbuah manis yang bisa dirasakan masyarakat.

Sastrawan dan seniman sebagai bagian dari masyarakat, tentu mempunyai kesadaran tentang perbedaan, yang pada titik tertentu terlibat dalam kehidupan masyarakat yang mempunyai kecederungan keberpihakan, dan cenderung pada pemahaman dan pandangan yang memihak pada suatu nilai dan norma tertentu yang tidak terlepas pada dunia politik kehidupan itu sendiri.

Dalam pemihakan politis, para sastrawan atau seniman sebagai kelompok sadar, tentu mempunyai nilai-nilai masing-masing, yang memperjuangkan paham dan pandangan sendiri dalam keberpihakan sebagai wujud pilihan ideologi yang diyakininya, sehingga tidak terjebak pada kepentingan sesaat dari elit politik untuk meraih kekuasaannya. Berada di luar atau di dalam kekuasaan, hanya merupakan suatu tempat berpijak dalam berpihak dengan tetap menghasilkan karya.

Keberpihakan merupakan jalan yang lapang dan bermakna bagi para sastrawan atau seniman dalam menghasilkan karya, yang berbeda strategi keberpihakan, yang memungkinkan adanya kutub yang berlawanan. Seniman atau sastrawan yang tidak mempunyai naluri dan nurani keberpihakan pada kondisi riil sosial masyarakatnya, sebenarnya telah menikam diri sindiri.

(Tulisan ini dimuat dalam lembar Cakrawala Radar Banjarmasin, 10 Januari 2010: 5)

7 Responses

  1. Saya asalnya beranggapan , justru seniman haruslah orang yang independen dalam menghasilkan karya nya

    Tanpa independensi berarti seniman tersebut berpihak pada penguasa.

    Sebuah posting yang ‘membelokkan’ arah pikiran saya sebelumnya.

    Terima kasih karena telah memberi pandangan / wacana yang berbeda, Bang Ben.

  2. saya sama sekali tidak masalah jika suatu kelompok masyarakat berpihak, karena bagi saya hidup itu sendiri adalah pilihan dan keputusan. termasuk keberpihakan politik, suatu hal yang sangat biasa.

    mengutip dari “sajak sebatang lisong” :
    apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan
    apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan

  3. Walaupun Arief (Ulun) sangat tertarik dengan dunia sastra,tapi bagaimana pun Ulun takkan menyerah tuk terjun kedalamnya.Yeahh…!!!

    Salam sukses selalu dr blogger Pesantren…

  4. Keberpihakan seniman terhadap golongan politik tertentu bisa dimengerti sepanjang dia tetap konsisten terhadap perjuangan untuk rakyat banyak, bukan demi kepentingan kelompoknya sendiri. Justru melalui itulah secara legal formal perjuangan mempertahankan idealisme dapat dilakukan, dari pada hanya menggelar pertunjukan jalanan yang belum tentu dapat terperhatikan.

  5. Oops, komen saya sebelum ini tampaknya ketangkep akismet. Tlg dilepas, Bang.

  6. sudah lama diskursus antara sastra dan politik didiskusikan, bang ben. seperti biasa, ada yang pro, ada yang kontra, seperti halnya ketika memperdebatkan antara slogan “seni utk seni” dan “seni utk masyarakat”. kalau memang sastra ditahbiskan utk ikut melakukan perubahan, jelas sastra tak bisa meninggalkan politik. tapi kalau sastra ingin terus berada di puncak menara gading, agaknya sastra masih perlu memuja keindahan dengan berbagai kata2 indah yang kurang membumi, hehe …

  7. Assalaamu’alaikum

    Saya bersetuju bahawa seniman harus berada di luar lingkungan politik agar lebih bebas dalam berkarya dan dapat mencapai kepuasan yang dingini sesuai dengan dunia seninya. Kebebasan berkarya tanpa campur tangan dari politik akan menyemarakan daya fikir yang lebih luwes bagi menghasilkan karya asli yang dapat membangkitkan semangat juang dalam masyarakat.

    Walau bagaimanapun, terdapat pro dan kontranya di mana keperihatinan pihak berwajib dalam meneruskan aktiviti seni dan sastera dapat membantu dalam menyemarakkan aktiviti dunia seni melalui saluran pelbagai dana bagi meneruskan keaktifan dunia seniman yang mungkin tidak memadai dalam mempromosi seni budaya sesebuah bangsa yang mewakili negara tersebut.

    Satu penulisan yang bisa membuka minda para seniman dan mereka yang berkenaan untuk melihat sejauh manakah gandingan antara golongan seniman dan politik dapat disepadukan bagi mengangkat martabat seni itu sendiri.

    Salam mesra selalu dari Sarawak bumi Kenyalang, Malaysia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: