KALSEL SEJAHTERA BARU HARAPAN


(Tanggapan Tulisan Ismed Setia Bakti)

Oleh: HE. Benyamine

Pemilihan Kepala Daerah di Kalimantan Selatan untuk menentukkan pemimpin daerah (bupati/walikota dan gubernur) untuk periode 2010 – 2015 yang sudah semakin dekat, telah memasuki tahapan-tahapan penyelenggaraan pemilukada, yang tentunya juga semakin intens para bakal calon melakukan pendekatan kepada masyarakat dan berusaha menunjukkan berbagai hal yang menyatakan bahwa mereka memang yang terbaik dan mumpuni untuk melanjutkan pembangunan di Kalimantas Selatan.

Sebagaimana yang dikemukakan Ismed Setia Bakti dalam tulisannya 12 Keunggulan Kalsel Saat Ini, kita semua berharap seluruh penyelenggaraannya dapat berjalan lancar, aman, dan sukses (Radar Banjarmasin, 3 Maret 2010:3), dan yang lebih penting masyarakat dapat menentukan pilihan dengan seksema, secermat mungkin agar mendapatkan pemimpin daerah yang sungguh-sungguh serius dalam upaya mewujudkan kesejahteraan seluruh warga banua dan melakukan perubahan yang penting dalam kebijakan pembangunan yang lebih berkelanjutan. Dalam tulisan tersebut sekilas dikemukakan beberapa indikator yang dianggap sebagai keunggulan Kalsel saat ini oleh penulisnya, yang memang penting untuk diketahui dan menjadi pertimbangan masyarakat dalam menentukan pilihannya.

Lanjutan, 12 Keunggulan Kalsel Saat Ini
(Jawaban atas Tanggapan Tulisan H.E. Benyamine)
Oleh : Ismed Setia Bakti*

Indikator-indikator tersebut perlu dicermati dan dilihat dari sisi lainnya, mungkin yang dianggap sebagai keunggulan karena ada sertifikat penghargaannya misalnya atau terealisasi dalam kebijakan juga mengandung suatu kekhawatiran dalam jangka panjang. Keunggulan saat ini tapi mempunyai potensi masalah dikemudian hari, yang tentunya dapat menyengsarakan masyarakat di masa mendatang.

Memperhatikan indikator-indikator keunggulan tersebut, tentu berguna dan dapat dijadikan acuan bagi pemimpin yang terpilih nantinya untuk pembangunan Kalsel yang akan datang, sehingga indikator tersebut benar-benar mempunyai makna dan menyentuh kehidupan masyarakat dalam menggapai kesejahteraan yang berkeadilan. Untuk itu, di sini akan dicermati kembali indikator keunggulan tersebut, yakni: (1) pendapatan daerah Kalsel yang terus meningkat sangat tajam, dari 800 milyar tahun 2006 menjadi 2,2 triliun lebih pada tahun 2010 seharusnya lebih banyak yang dapat dipenuhi berbagai kebutuhan pembangunan. Namun pada kenyataannya, pendapatan daerah yang meningkat tersebut hanya 40 persen yang digunakan untuk pembangunan dan dari 40 persen tersebut sebanyak 20 persennya tidak jelas penggunaannya sebagaimana dikemukakan anggota DPD RI, Ir. HM. Said pada tahun 2008 dalam suatu konferensi pers. Jadi, sangat wajar Kalsel tidak dapat meningkatkan IPM pada posisi yang sewajarnya dengan peningkatan pendapatan daerah tersebut.

Selanjutnya, (2) Kalimantan Selatan masuk dalam kategori jumlah penduduk miskin rangking 2 terkecil seluruh Indonesia (sumber resmi BPS Kalsel) yang menggambarkan Kalsel dapat mengurangi kemiskinan yang berarti menaikkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Kategori ini ternyata tidak mengurangi kenyataan masih ada dan mungkin banyak anak yang mengalami busung lapar dan bayi kurus atau kekurangan beran badan di Kalsel, hal ini dengan gamblang dinyatakan Kepala Dinas Kesehatan Kalsel bahwa Kalsel masih terdapat bayi kurus atau kekurangan berat badan yang mencapai 16 persen atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 10 persen (Koran, 3 Maret 2010). Bayi kurus dikarenakan kekurangan energi akut namun bersifat tidak permanen, yang tentunya sangat berhubungan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat. Begitu juga dengan keberadaan bidan desa (3) yang masih perlu mendapatkan perhatian baik dalam jumlah maupun dalam kesejahteraan mereka.

Dalam hal (4) pertumbuhan ekonomi tidak selalu paralel dengan meningkatnya kemakmuran masyarakat, di Kalsel tingkat pengangguran masih tinggi dan investasi yang masuk tidak banyak menyerap tenaga kerja karena lebih pada investasi padat modal. Menjaga dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi memang bukan pekerjaan mudah, tapi bagaimana pertumbuhan itu dapat merata dirasakan masyarakat adalah pekerjaan yang lebih tidak mudah, dan Kalsel belum dapat dikatakan mampu melaksanakan pemerataan pembangunan. Masih sangat senjang antara yang kaya dan yang miskin. Pertumbuhan yang tinggi menjadi tidak bermanfaat bagi masyarakat, jika tidak terjadi pemerataan kemakmuran.

Untuk (5) menjadi penyangga pangan nasional, dapat penghargaan presiden, karena berhasil dalam meningkatkan produksi pertanian (beras), masih belum mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Petani masih jauh dari kesejahteraan, mereka masih dihadapkan pada permasalahan, seperti kelangkaan pupuk dan harga jual yang rendah saat panen. Permasalahan banjir yang terus menghantui hasil panen semakin dirasakan para petani. Sedangkan data yang menyatakan bahwa sektor pertanian menjadi penyumbang terbesar PDRB di Kalsel bahkan melampaui sektor pertambangan dan penggalian, sebenarnya menunjukkan bagaimana sektor pertambangan dan penggalian yang begitu masif dieksploitasi sangat sedikit yang didapat daerah. Bagaimana batu bara yang produksinya lebih dari 80 juta ton yang dikeruk dari bumi Kalsel, ternyata hanya menyumbang PDRB yang kalah dengan sektor pertanian. Hal ini sudah seharusnya menjadi perhatian pemimpin daerah untuk melihat kembali keberadaan pertambangan batu bara di Kalsel, masihkah Kalsel terus dibiarkan dirampok.

Keberhasilan (6) memajukan pendidikan masih membutuhkan kerja keras dan kesungguhan pemerintah daerah, karena masih banyak bangunan sekolah yang rusak parah, masih tidak ada keberanian kebijakan dalam peningkatan kesejahteraan guru. Adapun (7) pembangunan Fakultas Kedokteran Gigi dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut di Kalsel merupakan salah satu kemajuan dalam bidang pendidikan, tetapi masalah persoalan gigi masyarakat tidak hanya dapat diatasi dengan keberadaan fakultas ini.

Kemampuan Kalsel membiayai tugas-tugas kepemerintahan dan pembangunan sebagai indikator (8), harus dilihat dan sejajar dalam kemampuan menjaga sumberdaya alam sehingga dapat lebih berkelanjutan dalam pemanfaatannya. Karena, pengelolaan sumberdaya alam yang tidak berkelanjutan dan hanya berorientasi jangka pendek dalam peningkatan ekonomi merupakan ancaman serius dalam kemampuan Kalsel membiayai pembangunannya di masa mendatang.

Masalah korupsi (9), Kalsel harus terus berusaha melakukan perlawanan. Mahalnya biaya pencalonan membuka kemungkinan terjadinya tindakan korupsi, karena setidaknya ada harapan untuk mengembalikan modal politik yang telah dikeluarkan. Adapun skor tinggi hasil survei integritas sektor publik lebih berkenaan dengan pelayanan sektor publik dan upaya membantu lembaga publik mempersiapkan pencegahan korupsi yang efektif pada wilayah dan layanan sektor publik.

Indikator (10), Kalsel penerima Investment Award, karena dianggap sebagai daerah yang berhasil dalam meningkatkan investasi, menjadi tidak begitu membanggakan karena ternyata investasi yang masuk didominasi sektor pengerukan kekayaan sumberdaya alam yang ada di banua. Investasi padat modal dan cenderung menyisakan masalah lingkungan hidup yang menghantui masyarakat dan generasi selanjutnya. Hal ini dapat dilihat, bagaimana Tanah Bumbu yang memberikan izin pertambangan batu bara lebih dari 100 izin, yang tidak begitu terlihat dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, malah semakin tinggi kerentanan bencana, seperti banjir yang terus meluas. Bagaimana, lahan kritis lebih dari 550 ribu hektar dan terus mengalami peningkatan, yang tentunya terus mengancam kehidupan di masa mendatang.

Berkenaan dengan indikator (11), tiga sukses membangun infrastruktur transportasi (laut, darat, dan udara), yang terlihat dan dirasakan adalah terbebasnya jalan negara atau umum dari angkutan tambang batu bara dan perkebunan. Namun demikian, hal ini masih perlu dicermati, karena angkutan batu bara telah mengincar sungai untuk dijadikan jalur pengangkutan. Di Tapin, masyarakat sungai Puting sudah mengeluhkan berkurangnya hasil tangkapan ikan, karena dalam beberapa tahun terakhir sungai Puting dijadikan jalur angkutan batu bara. Pengawasan pemerintah daerah perlu lebih ditingkatkan dalam perlindungan lingkungan hidup, karena sungai menjadi urat nadi kehidupan masyarakat juga.

Sedangkan indikator (12), memperjuangkan pembangunan PLTU 2 x 65 MW di Asam-Asam, tidak bisa dipandang sebagai pembangunan untuk mengatasi masalah energi listrik secara berkelanjutan di daerah, tetapi lebih tepat hanya untuk sementara dapat mengatasi krisi listrik di Kalsel.

Oleh karena itu, berdasarkan 12 indikator di atas, pemimpin Kalsel yang akan datang masih harus berkeja keras dan sungguh-sungguh, tidak terpaku pada berbagai penghargaan yang diterima. Kesejahteraan masih harus diperjuangkan, 12 keunggulan Kalsel sebagaimana Ismed Setia Bakti kemukakan tidak menunjukkan kesejahteraan masyarakat semakin membaik, bahkan sebaliknya kesejahteraan Kalsel baru sebatas harapan. Bagaimana pendapatan yang terus meningkat tidak hanya dinikmati segelitir orang, sedangkan masyarakat kebanyakan harus berhadapan dengan kesulitan hidup dan berbagai bencana yang disebabkan eksploitasi sumberdaya alam. Bagaimana pemerataan hasil pembangunan dapat dirasakan secara berkeadilan, dengan pendapatan daerah yang meningkat tajam juga berimplikasi pada peningkatan dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan. Kekuasaan dalam pemerintahan hanya sementara, kehidupan masyarakat terus akan berlangsung dengan pemegang kekuasaan baru, jadi pemimpin Kalsel yang akan datang harus berpandangan jauh ke depan, tidak hanya dalam masa periode kekuasaannya, harus dapat menjangkau jauh kepada generasi mendatang yang masih akan berada Kalsel.

(Tulisan ini dimuat dalam rubrik Opini Koran Radar Banjarmasin, 9 Maret 2010: 3)

4 Responses

  1. sebuah diskusi yang menarik di media, bang ben. melalui dialog lewat tulisan yang kritis dan mencerdaskan semacam ini, masyarakat pembaca juga makin kritis dan cerdas sehingga terinspirasi utk ikut memikirkan persoalan yang tengah dihadapi di daerah. salut dg tulisan2nya.

  2. Wah, menyimak tulisan ini dan yg sebelum2nya, sy berpendapat; sesungguhnya bang Ben-lah yang layak memimpin KalSel. Serius, ney!

  3. Hidup Bang Ben…
    Bang Ben layak memimpin Kal Sel atas dasar pemikiran-pemikirannya yang kritis.

  4. Assalaamu’alaikum

    Menyapa sahabatku HE. Benyamine di Banjarmasin. Saya setuju dengan pernyataan sahabat-sahabat di atas, bahawa saudara HEB punya kelayakan untuk dipilih sebagai pemimpin baru bagi Kalsel atas komitmen yang ditumpahkan lewat idea dan kepedulian yang dihamparkan.

    Menjana kuasa kepimpinan harus diserlahkan ke ruang medan nyata agar apa yang ditulis dan menjadi harapan diri juga masyarakat lingkungan dapat dibela sesuai dengan pembangunan yang bakal direalisasikan. saya selalu mendoakan dari jauh agar sahabat baik saya ini dimudahkan jalan menuju puncak kejayaan dalam pimpinan masyarakat.

    Salam mesra dari saya di Sarikei, Sarawak, Malaysia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: