UJIAN NASIONAL ALAT TEROR PENJAJAH


Oleh: HE. Benyamine

Ujian Nasional merupakan alat penjajah, yang dihasilkan dari mentalitas penjajah dan cara pandang penjajah. Ujian Nasional menyebarkan teror yang terstruktur dan sistemik, sehingga merasuki pikiran dan batin semua pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan menjadi penuh dengan ketakutan dan hanya mengikuti kemauan penjajah.

Penjajah hanya mengenal tujuan terpenuhi kepentingan dan hasrat kekuasaannya. Mereka hanya bisa menuntut hasil yang sesuai dengan tujuannya, meskipun harus mengeluarkan dana yang sangat besar untuk memuluskan pencapaiannya. Para penjajah pendidikan tidak perduli input dan proses belajar yang masih jauh dari terstandarisasi di seluruh wilayah jajahannya, yang diinginkan mereka hanyalah output terstandarisasi melalui Ujian Nasional.

Para penjajah selalu menyatakan bahwa pendidikan dasar dan menengah tidak dipungut biaya, begitu juga UN tidak boleh ada pungutan dengan membuka posko pengaduan, tapi semua pemangku kepentingan dunia pendidikan tidak diperdulikan harus mengeluarkan biaya yang lebih besar dari biaya sekolah yang tidak gratis tersebut maupun pungutan UN yang sekali pungut. Orang tua harus mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk berbagai les persiapan Ujian Nasional, biaya fasilitas pendukung lainnya untuk anak (pelajar) mengikuti les-les tersebut. Jelas terlihat bagaimana guru, murid, dan orang tua murid diposisikan sebagai manusia terjajah, yang terus diperas dan dirampas berbagai sumberdaya yang mereka miliki hanya untuk menunjung tujuan penjajah; output yang terstandarisasi melalui UN.

Ujian Nasional lebih memperlihatkan sikap dan tindakan penjajah, yang tentu saja sebenarnya tidak perduli dengan pendidikan dan tujuan dari pendidikan itu sendiri, tapi lebih mengarah bagaimana melumpuhkan dan memeras sumberdaya yang ada pada pelajar, guru, dan orang tua murid, serta pemerintah daerah. Semua pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan dicekam dan ditekan, yang tentu saja bertolak belakang dengan makna pendidikan yang membebaskan dan mencerahkan, sehingga dunia pendidikan lebih bermuka penjajah yang menghisap ilmu pengetahuan untuk dirinya sendiri dan tidak sampai pada manusia-manusia yang menjadi jajahannya.

Penjajah hanya mengenal keseragaman dalam pendidikan, agar manusia jajahan terus menjadi patuh dan tetap lumpuh, yang membuat manusia-manusia jajahan tidak mempunyai kesempatan untuk berpikir tentang kelebihan dan kekurangannya, tidak mengetahui tentang potensi yang ada dalam dirinya, tentang bagaimana menghargai kelebihan yang berbeda dari masing-masing diri.

Penjajah mengarahkan pendidikan sebagai alat menyuburkan kepatuhan dan ketergantungan, yang sebagiannya dilakukan dengan teror dan intimidasi, untuk meratakan rasa takut jika keluar dari lingkaran kepatuhan dan ketergantungan, yang secara halus menguburkan segala potensi yang ada karena dipahami dapat mengganggu kepentingan tujuan penjajahan.

Ujian Nasional telah menjadi alat teror penjajah, yang membuat semua pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan, baik langsung maupun tidak langsung mengalami kecemasan, ketakutan, dan ketidakberdayaan. Pendidikan telah menjadi ancaman dan malapetaka bagi semua, dan alat yang ampuh bagi penjajah untuk mempertahankan kekuasaan dan penindasannya. Mereka yang terjajah hanya pasrah, hanya do’a kepada yang Maha kuasa yang masih bisa dilakukan, sehingga terlihat banyak yang melakukan do’a bersama sebelum menghadapi alat teror penjajah. Para penjajah terus menunjukkan kerangka penindasannya dengan menggunakan aparat keamanan untuk menjaga berbagai kepentingan Ujian Nasional, sebagai pesan untuk tidak keluar dari kepatuhan dan ketergantungan.

Penjajah tidak pernah mau mendengar siapapun, mereka hanya tahu bagaimana cara menghisap dan menindas untuk mempertahankan kepentingan dan tujuannya, sehingga upaya berbagai kalangan yang menyuarakan bahwa Ujian Nasional telah menjadi alat teror yang sangat mengerikan dalam dunia pendidikan tidak pernah diperdulikan apalagi menjadi pertimbangan untuk menghentikannya, begitu juga dengan keputusan hukum yang dianggap sebagai keputusan yang tak berarti. Padahal, negeri yang pernah menjajah Indonesia tidak menerapkan pendidikan yang menjajah bagi tunas-tunas generasi baru mereka.

Membiarkan penjajahan dalam dunia pendidikan sama saja memberikan jalan bangsa ini terjerembab dalam kubangan penjajahan, yang mungkin saja penjajahan oleh anak bangsa sendiri, dan penjajahan bentuk baru lainnya. Para pelajar sebagai obyek yang dijadikan sasaran alat teror Ujian Nasional merupakan tunas-tunas bangsa yang harus diselamatkan untuk bisa menjadi generasi yang terbebaskan dan tercerahkan, yang mencintai ilmu pengetahuan agar menyadari potensi mereka masing-masing.

Para pelajar dapat menggalang solidaritas pembebasan dari penjajah, melakukan boikot UN, karena upaya yang dilakukan berbagai kalangan tidak berhasil menghentikan teror penjajah. Pelajar sebagai obyek sasaran teror merupakan subyek yang mempunyai peluang dan kesempatan yang paling besar untuk menghentikan penjajahan dalam bidang pendidikan ini. Dengan semakin majunya teknologi komunikasi, para pelajar dapat melakukan gerakan perlawanan damai terhadap Ujian Nasional, dengan boikot UN secara bersama. Penjajah harus dilawan, dan pelajar seluruh Indonesia sudah seharusnya tidak ingin penjajahan kembali dalam bentuk apapun. Pemangku kepentingan dunia pendidikan harus turut serta melawan dengan mendukung boikot UN oleh para pelajar, tak terkecuali pemerintah daerah.

One Response

  1. berarti UN ini juga berdampak sistemik ya pak?
    Pembelajaran yang Aktif Inovatif Kreatif dan Menyenangkan (PAIKEM) menjadi tidak berlaku ketika dihadapkan dengan hantu yang namanya UN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: