KONSEP DARAMAN MENJAGA KEANEKARAGAMAN PADI LOKAL


Oleh: HE. Benyamine

Masyarakat Desa Belimbing Lama Kecamatan Sungai Pinang Kabupaten Banjar mengenal beberapa varietas padi lokal, yang merupakan sebagian dari keanekaragaman varietas padi lokal di Kalimantan Selatan. Keanekaragaman varietas padi lokal ini masih menjadi pilihan para petani/peladang untuk ditanam, yang dalam penanamannya tidak bergantung dengan input pertanian, sehingga dapat dikatakan sebagai padi organik. Varietas padi lokal ini sudah seharusnya mendapatkan perhatian dari semua pemangku kepentingan, karena sebagiannya mulai terancam hilang atau tidak dikenali lagi. Keanekaragaman varietas padi lokal yang ada di desa Belimbing Lama dan di tempat atau wilayah lainnya merupakan kekayaan sumberdaya hayati, sebagai plasma nutfah, harus dilindungi agar tidak menjadi punah.

Berdasarkan pengetahuan masyarakat Desa Belimbing Lama, yang masih mereka tanam dan/atau masih diingat namanya, dapat disebutkan oleh mereka beberapa varietas padi lokal, yakni:

duyung halus, duyung ganal, duyung kuning, sabai bintat, sabai bintangai, sabai undang, sabai ganal, sabai bintungan, sabai hujan, mayang sari, banih batakan, gadagai, gadagai panjang, srikandi, karang dukuh, sa’ban, banih manau, banih juliak, banih pucuk, banih durimun, banih lurus, banih rundun, banih sunduk, banih barawaci, duyung gimpal, banih liang, raden sanggul, raden saraup, raden penganten, dan kalungkungan.

Varietas padi lokal yang dapat dicatat di atas sebanyak 30 varietas. Kemungkinan masih ada varietas padi lokal yang belum tercatat di desa tersebut, yang memang masih harus ditelusuri dan diteliti lebih serius.

Pengetahuan masyarakat Desa Belimbing Lama tentang varietas padi lokal berdasarkan jenis padi, ukuran, bentuk, warna, fungsi, kualitas, cara mengolah, dan keserasian atau kecocokan dengan penanamnya (daraman). Masyarakat Desa Belimbing Lama cenderung masih memperhatikan keserasian atau kecocokan (daraman) untuk menentukan sikap, perilaku, dan tindakan mereka dalam berladang dan menentukan pilihan varietas padi untuk ditanam. Hal ini juga ditemukan Lahajir (2001) bahwa etnoekologi padi yang terpenting adalah dimensi jiwa padi, batas padi, dan metafor padi yang menentukan sikap, perilaku, dan tindakan dalam berladang dan memelihara serta menggunakan padi.

Dimensi daraman pada masyarakat Desa Belimbing Lama merupakan hasil uji-coba (trial and error) yang dilakukan oleh masing-masing peladang, untuk menemukan varietas padi tertentu yang serasi atau cocok dengan dirinya. Varietas padi yang serasi atau cocok dengan peladang diyakini dapat memberikan hasil yang diharapkan, lebih banyak hasilnya dan sangat sedikit gangguan. Untuk menemukan varietas padi yang daraman, para peladang melakukannya dengan beberapa kali penanaman dari beberapa varietas padi lokal, yang bisa saja hingga beberapa kali musim tanam. Hal ini mengarahkan para peladang lebih cenderung memilih varietas padi lokal yang daraman dengan dirinya, tidak berdasarkan harga ekonomi dan kualitas padi.

Padi duyung halus merupakan varietas padi lokal yang mempunyai harga jual paling mahal dan kualitas paling baik, dengan aroma wangi, namun tidak semua peladang menanam varietas ini karena keyakinan tentang konsep daraman. Para peladang masih tetap memilih padi berdasarkan konsep daraman, bukan berdasarkan harga jual padi. Di Desa Belimbing Lama, para peladang menanam berbagai varietas padi lokal sesuai dengan konsep daraman, yang tentunya akan terus mempertahankan keanekaragaman varietas padi lokal.

Konsep daraman merupakan suatu kearifan lokal dalam mempertahankan keanekaragaman varietas padi lokal untuk tetap terjaga karena tetap ada yang menanamnya. Kepercayaan tentang daraman yang menentukan benih padi yang akan ditanam. Daraman adalah keserasian dan kecocokan antara petani dengan padi yang ditanamnya, yang bisa menentukan hasil panen bagi petani yang bersangkutan. Keanekaragaman varietas padi lokal dapat terus terjaga, karena sebagian dari hasil panen dijadikan paung (benih) untuk ditanam pada musim berikutnya.

Keanekaragaman varietas padi lokal masih banyak yang belum teridentifikasi, 30 varietas padi di atas itu baru dari desa Belimbing Lama dan sekitarnya yang bisa tercatat, yang tentunya masih banyak yang terdapat di tempat atau wilayah lainnya di Kalimantan Selatan dengan varietas yang sama dan/atau berbeda. Data tentang varietas padi lokal sangat penting keberadaannya, apalagi sebagian masyarakat di desa-desa masih menjaga dan melestarikannya dengan cara tetap menanamnya, yang tentunya lebih memudahkan dalam mendapatkan data tentang varietas padi lokal tersebut. Sangat diharapkan, ada pihak-pihak yang mau melakukan penelitian tentang berbagai varietas padi lokal tersebut. Di beberapa daerah sudah ada varietas padi yang punah, dan mungkin saja di Kalimantan Selatan juga sudah ada varietas padi yang punah, yang sangat tidak diharapkan hal ini terjadi pada varietas padi lokal lainnya yang hingga saat ini masih dipertahankan keanekaragamannya oleh para peladang dengan konsep daraman (atau nama lainnya).

(Tulisan ini dimuat dalam rubrik Opini Radar Banjarmasin, 22 Maret 2010:3)

One Response

  1. waduh berarti sampean pengisi tetap banjarmasinpost ya pak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: