BUDAYA BANJAR TERSEMBUNYI DI MUSEUM


Oleh: HE. Benyamine

Budaya Banjar adalah bagian masa lalu dan telah menjadi sejarah daerah ini. Pernyataan yang tidak seharusnya benar-benar terjadi, ataupun meskipun baru menuju ke arah itu. Manusia Banjar masih ada, namun mempunyai kecenderungan sudah hidup dalam budaya baru. Mereka masih mengaku dan memang orang Banjar, tapi tidak kenal lagi tatacara kehidupan sebagaimana budaya orang tuanya, yang mungkin juga karena orang tuanya sudah hidup dalam budaya baru tersebut. Orang Banjar yang lahir di banua bisa dikatakan sama saja dengan orang Banjar yang lahir dan besar di luar daerah, telah sama orientasi budayanya.

Perubahan yang berlangsung lebih cenderung meninggalkan budaya Banjar, yang secara cepat telah mengarahkan manusia Banjar terus terseret budaya baru yang serba cepat dan instan, yang sebagiannya tidak dapat direnungi dan disadari seakan tidak terjadi perubahan dalam budaya. Perubahan ini sangat dipengaruhi oleh begitu banyaknya sumberdaya alam yang secara ekonomi bernilai tinggi yang tersedia, walaupun hanya dalam bentuk bahan mentah tetap menggiurkan secara ekonomi, sehingga memberikan peluang dan kesempatan untuk eksploitasi secara besar-besaran yang tentunya tidak mempunyai ketergantungan dengan budaya setempat (Banjar), karena tidak diperlukan daya cipta dan karya, hanya bahan mentah yang di ekspor, selain kecuali hanya bernilai ekonomi.

Pada saat booming hasil kayu hutan, budaya Banjar tidak dapat mengikuti cepatnya gilasan mesin-mesin eksploitasi, dan para pemimpinnya tidak mempunyai kepekaan budaya sehingga tidak dapat memanfaatkan sebagian hasil kayu hutan sebagai sumberdaya hutan alami dalam memberikan daya hidup dan daya rekat budaya Banjar, malah yang terjadi sebagian besar para pemimpinnya turut larut dalam menikmati keuntungan ekonomi semata.

Begitu juga dengan eksploitasi batu bara saat ini, satu di antara kekayaan yang dimiliki banua tersebut ternyata juga tidak dapat dimanfaatkan untuk memperkuat dan mendorong perkembangan budaya Banjar, para pemimpinnya juga tidak nampak adanya kebanggaan budaya walaupun selalu mengatakan sebagai urang Banjar.

Para pemimpin Banjar yang tidak mempunyai kepekaan dan kebanggaan budaya Banjar, dalam menentukan kebijakan cenderung mengabaikan aspirasi rakyat, begitu juga dalam pilihan kebijakan tidak pernah memperhatikan keterikatannya dengan sistem nilai budaya Banjar, karena para pemimpin yang demikian sebenarnya dalam memutuskan kebijakan tidak berbudaya. Apa yang dapat diharapkan dari pemimpin yang tidak berbudaya? Tidak ada yang dapat diharapkan, kecuali menyebarkan malapetaka.

Secara sekilas, budaya Banjar sudah mulai tidak terlihat sebagaimana saat orang luar daerah berkunjung, mereka hanya menemukan suatu kota yang tidak jauh berbeda dengan daerah lainnya yang kehilangan identitas. Bentuk bangunan sudah sama dengan kota-kota lainnya, malah lebih terlihat gengsi asing dalam pilihan desain bangunan, yang seakan identitas Banjar telah ketinggalan zaman dan tidak mempunyai prestise dalam kehidupan manusia modern. Kemegahan hanya milik yang berasal dari luar, apapun itu, asal dari luar lebih bergengsi sebagai pilihan.

Manusia Banjar harus mulai menyadari perubahan yang begitu cepat dan instan dalam kehidupan mereka, sebagaimana cepatnya eksploitasi sumberdaya alam yang melimpah di banua, yang lebih cenderung meninggalkan dan mengesampingkan budaya yang lebih lambat geraknya, yang secara tidak sadar telah mengarahkan budaya Banjar tersembunyi di museum saja. Manusia Banjar memang tidak dapat terhindar dari perubahan, dengan kecepatan tersedianya fasilitas teknologi dan informasi, tetapi harus dapat tetap menjalaninya dengan rasa Banjar sebagai identitas dan sistem nilai.

Jadi, Manusia Banjar sudah seharusnya berusaha agar budaya Banjar tidak tersembunyi di museum. Para pemimpin dan tokoh masyarakat harus menyadari bahwa mereka bagian dari budaya Banjar, yang dapat memulai menampakkan kebanggaan atas budaya Banjar yang hidup dan mempengaruhi segala kebijakan dan kebejikasanaannya.

(Tulisan ini dimuat dalam rubrik Opini Koran Radar Banjarmasin, 1 April 2010:3)

3 Responses

  1. Semakin hari memang budaya itu semakin menghilang ya pak..! Untuk melestarikannya sepertinya perlu kerja keras semua pihak seperti yang bapak contohkan tadi sebenarnya banyak rumah-rumah Banjar yang berusia tua namun tidak terawat dan belum ada perhatian dari pihak pemerintah untuk dijadikan cagar budaya.

  2. bukan hanya banjar pak yang budayanya tergadaikan. hal seperti inihampir dialamai semua daerah di negeri ini. duh apa nanti yang kita wariskan kepada anak cucu.

  3. gimana sih pak kirim opini ke B.Post. ohya boleh tidak minta alamat sampean, siapa tahu saya sempat singgah, bisa belajar banyak dari sampean

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: