ANGGOTA DPD ASAL KALSEL BAGAI SILUMAN “Kerja Kami Tak Diketahui Masyarakat”


Oleh: HE. Benyamine

Empat anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Kalimantan Selatan saat mengunjungi kantor media massa di daerah (1/4/2010), untuk menjalin hubungan baik dengan kalangan media, sekaligus untuk memberikan keterangan bahwa mereka selama ini telah bekerja keras di pusat kekuasaan negeri ini, namun ternyata kerja mereka tidak diketahui masyarakat dan membuat timbulnya pandangan negatif bahwa mereka tidak punya kerjaan.

Anggota DPD asal Kalsel secara langsung maupun tidak langsung menyudutkan media yang ada di daerah, dengan mengatakan bahwa kerja keras mereka tidak diketahui masyarakat. Dengan menyatakan peran media sangat penting untuk menunjang tugas, menyampaikan informasi dan memberikan evaluasi atas kerja para anggota DPD, namun pada kenyataannya selama ini kinerja mereka dianggap banyak kalangan masyarakat tidak ada buktinya yang mengarah pada karena media tidak melakukan peran pentingnya tersebut. Karena tidak dirasakan kinerjanya, muncullah penilaian agar lembaga tersebut dibubarkan saja.

Anggota DPD merasa sedih jika ada artikel atau opini yang meminta agar DPD dibubarkan saja, karena tidak ada pekerjaannya, yang menunjukkan bahwa anggota DPD tidak mempunyai pemahaman atas pandangan masyarakat tersebut terhadap keberadaan mereka dalam lembaga parlemen, yang salah satunya karena memang tidak ada “buriniknya” apa yang mereka telah kerjakan. Apalagi, media massa di daerah seperti tidak merasa penting dengan keberadaan DPD, seakan tidak ada yang layak untuk dijadikan berita atau sebagai bahan liputan.

Sangat sulit menemukan berita atau informasi bagaimana anggota DPD sedang melakukan perjuangan untuk daerahnya, mereka seperti orang-orang bisu saja, setelah terpilih diam seribu bahasa, sehingga tidak terlihat atau terdengar mereka sedang melakukan apa dan bagaimana mereka melakukannya. Katanya, mereka sering melakukan dengar pendapat dengan anggota DPR RI, namun tidak diketahui tentang apa dan kepentingannya untuk daerah. Atau, mereka sering melakukan pembahasan rancangan undang-undang, tapi tetap saja apa penting dan berhubungan dengan daerah tidak pernah mereka sampaikan, seperti dipendam dalam hati saja. Mereka juga sering melakukan pertemuan dengan menteri atau Dirjen, juga tidak jelas tentang apa, adakah mereka bicara tentang kepentingan daerah.

Dengan membisunya anggota DPD, tentu wajar jika mereka dianggap tidak melakukan sesuatu, kecuali kehadiran mereka sebagai pribadi di pusat kekuasaan. Hal ini juga memberikan gambaran bahwa ternyata, anggota DPD tidak membutuhkan masukan dan pendapat orang-orang di daerah, karena mereka tidak pernah menyatakan sedang melakukan apa dan hasilnya bagaimana serta apa kendala yang mereka hadapi, sehingga orang-orang di daerah seperti dianggap tidak penting rasa kepeduliannya untuk memberikan bantuan pemikiran.

Anggota DPD sebenarnya mempunyai peluang untuk menyampaikan apa yang sendang mereka lakukan melalui media atau saluran lainnya, tidak hanya hasilnya, tapi dari prosesnya juga bisa dilakukan dengan menyatakan pemikiran yang mereka perjuangkan dalam dengar pendapat dan pembahasan rancangan undang-undang, sehingga dapat terlihat sesuai atau tidak dengan kepentingan daerah, dan orang-orang di daerah bisa mengetahui materi yang sedang diperjuangkan untuk memberikan peluang dan kesempatan orang-orang di daerah memberikan masukan dan urun rembuk pemikiran.

Namun, pada kenyataannya anggota DPD seperti ditelan pusat kekuasaan, mereka seperti tidak bersentuhan dengan media atau saluran lainnya, yang membuat mereka tidak menarik untuk dijadikan bahan berita. Kalau hanya ikut hadir dengar pendapat atau pembahasan undang-undang, hal itu tidak merupakan berita yang menarik atau tidak bisa dikatakan sebagai berita, jadi wajar saja media tidak tertarik memberitakannya. Karena anggota DPD tidak terlihat kerja, atau hanya sekedar hadir pertemuan, setelahnya tidak ada yang disampaikan atau sebenarnya memang tidak ada yang perlu disampaikan karena tidak ada hal penting yang telah dikerjakan.

Jadi, penilaian miring terhadap lembaga DPD RI adalah akibat kinerja anggotanya yang memang tidak terlihat dan tidak ada bukti yang menunjukkan mereka sedang memperjuangkan kepentingan daerah. Berbicara saja tidak, apalagi menyampaikan kerja yang sedang mereka lakukan baik materi, peluangnya, hambatannya, maupun tantangannya, sehingga seakan selesai dengan tanda tangan kehadiran mereka pada pertemuan atau rapat-rapat yang dilaksanakan. Pernyataan anggota DPD asal Kalsel bahwa mereka telah melakukan kerja keras selama berada di parlemen, namun tidak diketahui masyarakat Kalsel, seakan menyatakan bahwa masyarakat Kalsel tidak memahami realitas yang sedang berlangsung, terutama tentang keberadaan DPD. Atau, jangan-jangan anggota DPD merasa dirinya adalah siluman, yang kerjanya tidak diketahui masyarakat.

3 Responses

  1. wah klo mang kaya siluman aneh yah….. semoga aja talk less do more

  2. Untung saya tidak ngerti soal politik, jadi saya tenang-tenang saja, hehe..

  3. makanya kalo rapat harus terbuka…..

    jangan ada yg disembunyikan…. Hari gini masiy korupsi…..!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: