PENGETAHUAN LOKAL SESUAI LOGIKA PENGETAHUAN MODERN


Oleh: HE. Benyamine

Pengetahuan dan teknologi lokal, berdasarkan beberapa penelitian, seperti sistem tumpang sari (multiplecropping), perladangan yang meniru ekosistem hutan tropis (Geertz, 1976), atau pertanian Sistem Orang Banjar (Banjarese system) dalam pemanfaatan lahan pasang surut di Kalimantan Selatan (Rifani, 1998), menunjukkan kesesuaian dengan logika ilmu pengetahuan modern. Seperti dalam menilai sifat-sifat tanah, pengetahuan lokal lebih merupakan penilaian kualitatif, tetapi hasilnya lebih banyak kesesuaian dengan hasil dari analisis sains, sebagaimana dinyatakan Abu Muhammad Shajaat Ali (2002) mengenai pengetahuan petani di Bangladesh, “their soil classification method is based upon the qualitative visual and perceptual observation and assessment of the local characteristics of the physical environment and how those characteristics influence the soil-plant relationships and farming practices. …, the scientfic classification of the village soils is based on quantitative measurement of physical and chemical properties of topsoil of a large number of sampled plots”.

Perbedaan dalam tipologi tanah antara pengetahuan lokal dengan ilmu pengetahuan (scientific) karena beragamnya di dalam tujuan dan pendekatan dalam studi tanah perdesaan. Di samping itu, kepentingan petani pada tanah adalah untuk tanaman yang mereka pilih, di mana klasifikasi tanah berdasarkan kondisi-kondisi tanah atas (topsoil).

Menurut Studley (1998) bahwa perbandingan antara sistem pengetahuan lokal dan sistem pengetahuan modern selain secara politik juga perbedaan sistem pengetahuan (systems of knowledge), perbedaan cara pemahaman (ways of understanding), perasaan (perceiving), pengalaman dan pendefinisian realita (experiencing and of defining reality), jadi dalam perbandingan sistem pengetahuan lokal dan modern perlu diperhatikan berikut ini, (1) elemen-elemen berbeda yang membandingkan sistem pengetahuan adalah tidak terpisahkan dari salah satu sistem, (2) dominasi dari satu elemen di dalam kelompok budaya tidak mencegah beberapa individu dalam kelompok yang sama menjadi sangat fungsional di dalam elemen yang lain, dan (3) perubahan sosial terjadi di dalam masyarakat modern dan lokal/asli (indigenous), seperti nilai-nilai baru dan cara-cara berpikir sedang bermunculan di dalam kedua masyarakat tersebut (modern dan indigenous).

Sistem pengetahuan adalah dinamis dan secara konstan berubah melalui asimilasi dengan pengetahuan dari luar dan terhadap paradigma-paradigma alternatif juga terhadap pandangan-pandangan dunia. Jadi keduanya, sistem pengetahuan modern maupun sistem pengetahuan lokal mempunyai kekuatan-kekuatan dan keterbatasan-keterbatasannya masing-masing dalam pengelolaan sumberdaya dan keduanya sekarang memberikan inspirasi untuk dihubungkan.

Reid et.al. (2002) melihat bahwa penggunaan pengetahuan lokal cenderung disejajarkan dengan pengetahuan modern atau sains (Barat). Berdasarkan sejarah dari kebanyakan masyarakat asli di dalam relasi dengan Barat adalah penuh dengan peristiwa perampasan lahan dan proses marginalisasi, sebagai konsekuensi oleh proses invasi, kolonialisasi, dan asimilasi. Di samping itu, masih kuatnya tekanan pangaruh masyarakat Barat dan teknologinya, sehingga terjadi apa yang dinamakan kehilangan identitas melalui kehilangan budaya, dan juga terjadi pertentangan antara cara-cara yang berbeda dalam pengetahuan dan pemberian nilai.

Berdasarkan perbandingan sistem pengetahuan di atas, sebenarnya bila dilihat dari sisi sistem pengetahuan modern saat ini, akan cukup sulit untuk menerapkan pembangunan yang berkelanjutan secara ekologis. Odum dalam Polunin (1997) mengatakan bahwa ekosistem secara luas diterima sebagai konsep penting teori, namun tidak dalam praktek.

Penerapan teori ekosistem ke dalam masalah-masalah praktis demikian lambat. Alasannya, pertama perbaikan cepat sering bekerja sangat baik dalam dunia politik dan ekonomi jangka pendek, contohnya penggunaan bahan kimia dalam membasmi hama, tetapi tidak menyelesaikan masalah sentralnya. Kedua, bahwa ilmu telah sedemikian reduksionis, dengan keuntungan ekonomi dari pendekatan ini, yang berlandaskan pada tabung percobaan/laboratorium. Padahal, sistem dunia nyata tidak dapat ditangani bagian demi bagian dan terpisah dari sistem-sistem lainnya. Ketiga, masih kuatnya pendapat yang menyatakan bahwa keseluruhan tidak lebih dari sekedar jumlah bagian-bagiannya, sehingga keseluruhan dapat dipahami atas dasar kajian terinci dari komponen-komponen utamanya.

Menurut Odum dalam Polunin (1997) bahwa daya dukung biosfer bagi manusia tidaklah diketahui, dan hampir tidak mungkin menafsirkannya dengan ilmu apa saja. Jadi manusia harus secara terus menerus tergantung kepada indikator seperti polusi udara, kekurangan makanan, bencana, dan lain-lain. Dalam upaya menjaga keberlanjutan ekologi, saat ini dikenal dengan pembangunan berkelanjutan, maka pendekatan pada tingkat ekosistem menjadi keharusan, yang pada tingkat ini sifat dan proses utama dihasilkan dari integrasi dan koevolusi komunitas biotik dan lingkungan abiotik.

Akhir-akhir ini, beberapa pendekatan partisipatori untuk pembangunan perdesaan telah bermunculan, dan secara kuat menekankan pentingnya sistem pengetahuan lokal. Pertengahan 1970-an, di negara berkembang telah muncul pendekatan baru pada riset pertanian, dalam bentuk riset sistem petani (farming system research). Pendekatan ini melibatkan petani dalam mengidentifikasi yang menjadi pembatas-pembatas pada sistem produksi saat ini dan paket teknologi baru.

Oleh karena itu, dengan memperhatikan pengetahuan lokal, sambil memfokuskan pada pengurangan kemiskinan, juga dapat bekerja bersama dengan kelompok target tersebut untuk mencari strategi alternatif yang sederhana, murah dan dapat beradaptasi pada kondisi-kondisi setempat. Hal ini memberikan gambaran bahwa pengetahuan lokal masih penting, dan berbagai pihak dapat mendorong dalam pertukaran pengetahuan lokal ini pada tingkat regional, nasional dan internasional. Jadi, sebagaimana Roth (2001) katakan bahwa dalam mencari solusi untuk masalah-masalah pembangunan lokal harus dilaksanakan dengan sumberdaya lokal.

(Tulisan ini dimuat dalam rubrik Opini Koran Radar Banjarmasin, 25 Maret 2010: 3)

2 Responses

  1. Artikel menarik ney, bang Ben.
    “Pembangunan lokal harus dilaksanakan dengan sumberdaya lokal.”
    Salam!!!

  2. Assalaamu’alaikum sahabat

    Mengunjungi sahabat HE.Benyamine untuk bertanya berita di sana. Mudahan sihat dan terus sukses dalam berkarya untuk pembangunan minda dan kesejahteraan masyarakat umum. maaf kerana lama tidak bersapa atas kesibukan di dunia nyata yang menghadkan kunjungan di dunia maya.

    kekuatan yang ada pada ilmu manusia ialah bagaimana dia memikirkan pembangunan yang sesuai dengan masyarakat setempat dan mengeluarkan kos yang mesra rakyat namun punyai kualiti yang tinggi dan memberi manfaat untuk semua.

    Salam hangat dan ceria selalu dari saya di Sarikei, Sarawak.

    HEB: Wa’alaikum salam.
    Alhamdulillah dan terima kasih do’anya, senang dikunjungi. Salam hangat selalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: