MELESTARIKAN KESENIAN TRADISIONAL BANJAR


Oleh: HE. Benyamine

Kesenian tradisional sudah ada yang dianggap hilang, atau paling tidak sudah sulit menemukan seniman yang masih menggelutinya, sehingga banyak seni tradisional tersebut yang tidak begitu dikenal lagi oleh generasi berikutnya. Berbagai pihak telah mengingatkan bahwa seni tradisional terancam punah, salah satunya karena pemerintah daerah tidak mempunyai perhatian dan tergerak untuk memberikan fasilitas dan dukungan yang memadai, apalagi mengangkat harkat dan martabat para seniman tradisional tersebut. Betapa sulitnya membayangkan Madihin, Mamanda, Lamut, Wayang Gong, tari Tirik, Bagandut, Babasingaan, Bajapin, Manopeng (tarian topeng), dan masih banyak bentuk kesenian lainnya, yang seharusnya mendapatkan panggung untuk tidak hanya sekedar membayangkan sesuatu seni yang tidak dipertunjukkan.

Untuk melestarikan kesenian tradisional tersebut, sangat menjadi penting para penggelut dan seniman dalam bidang seni tradisional diposisikan sebagai profesional dalam bidang kesenian tersebut, karena mereka yang terus menggeluti dan melakukan proses kreatif. Jadi, memposisikan seniman tradisional pada tempat yang menjadikan mereka sebagai tenaga trampil atau ahli dibidangnya adalah bagian penting dalam melestarikan kesenian tradisional, bahkan dapat memberikan improvesasi yang kreatif dan membuka peluang adanya inovasi pertunjukan.

Penyair Arsyad Indradi mengungkapkan bagaimana para penggiat seni tradisional harus berjuang dalam hidupnya dengan mata pencaharian sebagai buruh kasar dengan mengandalkan tenaga kasar, mereka tidak bisa hidup dengan keterampilan dalam seni tradisional tersebut. Pekerjaan sebagai buruh/tenaga kasar, bagi para seniman seni tradisional, membuat seni tradisional lebih dilihat sebagai bagian keterbelakangan dan kemiskinan, karena para pelakunya tidak mempunyai peluang untuk diletakkan pada posisi sebagai pekerja seni atau seniman itu sendiri. Mereka lebih terlihat sebagai pekerja kasar yang mengandalkan tenaga otot, bukan bagaimana olah keterampilan dan perasaan yang menghasilkan pertujukkan yang indah.

Apa yang dilihat oleh Arsyad Indradi yang menemukan bahwa kebanyakan para penggiat seni tradisional harus bekerja lebih mengandalkan tenaga kasar atau hanya peluang sebagai buruh kasar, seharusnya merupakan informasi yang sangat berharga bagi pemerintah daerah, suatu keadaan yang memprihatinkan terhadap seni tradisional itu sendiri, karena mereka yang menguasai seni tradisional seperti dilumpuhkan dengan keharusan dan keterpaksaan untuk hidup sebagai buruh kasar.

Memperhatikan kebijakan pemerintah daerah dalam upaya meraih piala Adipura misalnya, dengan membuat tenaga kontrak untuk penyapu jalanan atau tenaga kebersihan, dan biaya operasional lainnya yang cukup besar, ternyata dapat dilaksanakan dengan mudah dan anggaran yang cukup, dengan membangun taman-taman kecil dan mengelola serta pemeliharaannya. Ada yang mempekerjakan tenaga kontrak kebersihan kota sampai 300 orang lebih, suatu kebijakan yang bisa dijadikan preseden dalam mengangkat harkat dan martabat penggiat atau seniman kesenian tradisional, terutama dalam menjadikan mereka sebagai tenaga kontrak yang mempunyai keterampilan atau keahlian.

Para seniman yang bergelut dalam seni tradisional, dengan menghargai mereka sebagai tenaga trampil atau ahli, akan memberikan suatu kebanggaan pada seni tradisional itu sendiri, sehingga mereka yang menggelutinya tidak dipandang sebagai bagian dari keterbelakangan atau sudah tidak layak zaman lagi. Pemerintah daerah dapat menetapkan suatu standar tertentu tentang ketrampilan atau keahlian seni tradisional, untuk menentukan kelayakan sebagai tenaga kontrak dengan keahlian khusus, yang mana hal ini bisa dibicarakan dengan berbagai pihak, yang jika perlu untuk mendapatkan sertifikat keahlian tersebut melalui dewan kesenian atau instansi pariwisata dan kebudayaan atau instansi terkait lainnya. Mereka dapat diberikan kontrak sebagai tenaga ahli atau trampil dalam bidangnya, untuk ditempatkan pada sekolah-sekolah dasar dan menengah, minimal satu sekolah satu orang seniman tradisional, yang mengajar para murid dalam bidang seni tradisional.

Jadi, melestarikan kesenian tradisional Banjar merupakan suatu upaya mengangkat harkat dan martabat seniman atau penggelut kesenian tradisional tersebut, dan memposisikan mereka sebagai tenaga trampil atau ahli dalam bidangnya, yang menunjukkan harga suatu profesionalitas dari kesenian tradisional sama dengan profesi bidang lainnya. Peran pemerintah daerah, para kepala dearah yang memegang kendali anggaran, sangat dituntut kepekaan dan keberpihakan pada kesenian tradisional Banjar, yang seharusnya dapat mengakui profesi ini dengan segala konsekuensinya yang melekat pada sebuah profesi.

(Radar Banjarmasin, 6 April 2010: 3)

One Response

  1. ulun setuju wan pian pa ay.. makanya kami di MAN Kotabaru berinisiatif membeli seperangkat alat musik panting, mengadakan lomba kesenian banjar secara rutin tiap tahun di madrasah di antaranya tari hadrah, jepin dan lomba nyanyi lagu banjar. Yg juga sudah hampir 3 tahun ini dirintis ialah proyek mamanda / teater namun dipoles dlm bentuk kabaret utk lebih mendekatkan secara perlahan budaya banjar ke siswa(i) kami. Yg kini ingin dirintis ialah menciptakan bibit-bibit seniman lokal di kalangan usia remaja yg bisa menjaga ghirah budaya banjar di hatinya. Persoalannya di kotabaru hanya pada keterbatasan jumlah seniman-seniman senior yg bisa dimintai tolong berbagi ilmu dan keterampilannya..juga keterbatasan dana utk pengembangan ke arah yg lebih maksimal. Namun kami para guru yg relatif masih muda-muda senantiasa berupaya dan berimprovisasi di tengah kendala dan keterbatasan yg ada…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: