PAKAIAN ADAT BANJAR DI HARI KARTINI


Oleh: HE. Benyamine

“…. aku besok, tanggal 21 April tidak mau sekolah, karena perempuan diharuskan pakai kebaya atau pakaian muslim sedangkan laki-laki berpakaian bebas … itu namanya perempuan tidak mempunyai kebebasan, laki-laki saja yang punya

(Meutia Swarna Maharani, siswi SDN Banjarbaru Utara 4, kelas 3)

Setiap tanggal 21 April diperingati sebagai hari Kartini, pelajar yang perempuan diminta untuk berpakaian kebaya, untuk mengenang Kartini sebagai pahlawan yang memperjuangkan hak-hak perempuan untuk mendapatkan kesempatan dalam berbagai bidang dan menghargai peran penting perempuan dalam kehidupan, khususnya dalam bidang pendidikan. Begitu juga dengan sebagian perempuan di seluruh Indonesia dengan berbagai cara memperingati, dengan cara yang paling nampak adalah simbol kebayanya, yang dikenakan pada beberapa kesempatan, seperti penyiar televisi dan ibu-ibu pejabat.

Pakaian kebaya seakan telah menjadi keharusan dalam memperingati hari Kartini. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal itu, karena Kartini adalah orang Jawa yang memang memakai kebaya. Mengenai keharusan pakaian kebaya ini, secara tidak sengaja mendengar pembicaraan murid SD dengan orang yang menjemputnya, seperti tertulis di atas, yang terlihat sebagai bentuk protes adanya perbedaan antara murid perempuan dengan laki-laki. Murid SD tersebut malah mempertanyakan makna kebebasan bagi perempuan yang dibandingkan dengan laki-laki dalam berpakaian. Padahal bukan masalah pakaiannya tentang peringatan Hari Kartini.

Teringat dengan pembicaraan murid SD di atas, secara spontan juga teringat pakaian remaja pada kesultanan Banjar dalam lukisan yang ada di Museum Lambung Mangkurat, yang sebenarnya bisa dijadikan pakaian para pelajar perempuan dalam memperingati Hari Kartini. Seandainya memang diharuskan, pakaian seperti dalam lukisan tersebut dapat dijadikan model untuk dikenakan, tidak lagi harus model kebaya sebagaimana Kartini. Para pelajar laki-laki, juga diharuskan memakai pakaian adat, untuk menunjukkan adanya kebersamaan penghargaan atas apa yang diperjuangkan Kartini.

Peringatan Hari Kartini sudah seharusnya dapat menjadi saat yang tepat untuk mengangkat pakaian adat yang ada di daerah masing-masing, tidak lagi harus memakai kebaya, karena pemaknaan perjuangan seorang Kartini tidak dilihat dari keharusan menyamakan dalam pakaian tetapi pada apa yang diperjuangkannya.

Memperhatikan perempuan-perempuan yang ada di pasar terapung, terlihat bagaimana mereka begitu kuat dan tangguh dalam berusaha, yang sejajar dengan kaum lelakinya dalam melakukan perjuangan hidup. Perempuan-perempuan yang sejak dulu sudah terlibat dalam urusan bisnis perniagaan, yang menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya berurusan dengan pekerjaan domestik. Begitu juga dengan perempuan di sawah-sawah dan ladang-ladang, mereka terlibat sebagai bagian yang setara dalam pengelolaannya, yang jelas tidak hanya masalah urusan domestik. Gambaran perempuan-perempuan tersebut seakan mematahkan pandangan bahwa perempuan diperlakukan sebagai subordinat dan hanya ditempatkan pada urusan domestik. Peran mereka tidak dapat hanya dipandang sebagaimana pandangan yang menempatkan perempuan dengan peran domestiknya.

Peringatan Hari Kartini merupakan peringatan bagi perempuan-perempuan yang berjuang dalam hidup dan kehidupannya, yang tidak terikat dengan pandangan peran domestik atau peran publik, tapi mereka yang berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. Perempuan-perempuan pasar terapung yang begitu cekatan dalam perniagaan, dengan keterampilan mengendalikan jukung-jukung seraya menggunakan otot-ototnya untuk mendayung, dan secara bersama suami menghidupi keluarganya. Sama saja dengan perempuan-perempuan ladang yang terlibat dalam tahapan berladang.

Jadi, seandainya harus memakai pakaian kebaya, maka pakaian adat daerah Banjar yang harus dianjurkan, karena pakaian itulah yang dipakai oleh perempuan-perempuan Banjar dalam memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bersama keluarganya. Perempuan Banjar telah melaksanakan apa yang diperjuangkan Kartini, bahkan mereka terlibat dalam berbagai urusan mata pencaharian dan pendidikan anak-anaknya.

Apa yang dikatakan oleh murid SD di atas, sebenarnya mengingatkan untuk tidak terjebak pada keharusan pada pakaian kebaya sebagaimana Kartini pakai, tapi pada sikap dan tindakan yang sesuai dengan apa yang diperjuangkannya. Sehingga, pada peringatan Hari Kartini, pakaian adat di daerah masing-masing yang harus ditampilkan, seperti pakaian remaja kesultanan Banjar seperti yang ada dalam lukisan di Museum Lambung Mangkurat untuk para pelajar perempuan dan pakaian adat lainnya untuk laki-lakinya.

Melalui pakaian adat, secara langsung dan tidak langsung, dapat menumbuhkan kebanggaan pada tokoh perempuan daerah yang dalam hidupnya tidak jauh berbeda dengan perjuangan Kartini, sehingga dapat lebih mengenal mereka sebagai sosok perempuan yang juga mempunyai cita-cita dan perjuangan untuk kemajuan perempuan.

Oleh karena itu, galuh-galuh Banjar sudah seharusnya mengenakan pakaian adat Banjar dalam memperingati Hari Kartini, sebagai perwujudan penghargaan atas cita-cita dan perjuangan perempuan Banjar yang sebenarnya sejalan dengan cita-cita Kartini, bahkan perempuan Banjar melakoni dalam kehidupannya. Pakaian adat Banjar itulah yang dipakai perempuan-perempuan Banjar dalam meraih kehidupan yang lebih baik. Sedangkan laki-laki diharuskan memakai pakaian adat Banjar juga, untuk menunjukkan bahwa perayaan Hari Kartini tidak hanya bagi perempuan tapi juga sangat penting bagi laki-laki. Perempuan dan laki-laki dianjurkan dan diupayakan memakai pakaian adat Banjar, yang tidak bisa/mau silakan memilih pakaian bebas, agar pikiran sederhana murid SD di atas tidak mendapatkan pembenaran tentang arti kebebasan.

(Radar Banjarmasin, 21 April 2010: 3)

5 Responses

  1. ya secara sederhana anak tersebut benar, dia terpaksa..tdak bebas seperti teman laki-lakinya
    Memang sekolah dan pemda harus lebih arif dan bijak dalam memaknai hari kartini. karena kartini bukan berarti jawanisasi

  2. Kajiannya manstab, bang Ben.

  3. anak yang cerdas.
    pakaian adat banjar? hmm, ide menarik….

  4. ibu-ibu penjual di pasar terapung di jukungnya: (mungkin) merekalah inspirator hukum parpantangan itu, yang merupakan penerapan kesetaraan dalam hukum (islam) oleh datu arsyad di tanah banjar…

    HEB: Ya … kitab al-Faraidh yang membahas tentang hukum kewarisan tersebut, harta perpantangan (harta bersama) yang merupakan ijtihat beliau tentang hukum warisan berdasarkan adanya perbedaan kehidupan keluarga di masyarakat Arab dengan masyarakat Banjar. Jadi, bila salah satu ada yang meninggal, maka 50% diserahkan kepada pasangan yang masih hidup, baru kemudian sisanya yang 50% dibagi berdasarkan hukum waris. Harta perpantangan ini dikiaskan dengan hukum syirkatul abdan (perkongsian). Selain itu, juga ada dengan cara ishlah.

  5. Assalaamu’alaikum

    Alhamdulillah.. lama baru berkunjung semula ke ruang ilmu sahabat HE. Benyamine. Didoakan sihat dan ceria selalu.

    Ternyata Hari Kartini bukan setakat memaknai perjuangan Bunda Kartini yang hebat dalam memperjuangkan hak wanita tetapi diingati melalui cara tampil pakaian yang dipakai oleh beliau. Mudahan remaja masa kini mengetahui tentang erti perjuangan dalam membebaskan diri dari kebejatan akhlak yang meruntuhkan sahsiah.

    Walau bagaimanapun, saya bersetuju jika penggunaan pakaian dalam memperingati Hari Kartini diperluaskan kepada pemakaian tradisional atau pakaian adat. Hal ini akan memberi ruang kepada generasi baru dalam mengenali pakaian adat tersebut.

    Alangkah baiknya kalau pakaian adat Banjar itu dipamerkan diposting ini agar dapatlah saya sebagai orang luar, mengenali rupa bentuk pakaian adat tersebut.

    Salam mesra dan hangat selalu dari saya di Sarikei, Sarawak.

    HEB: Wa’alaikum salam.
    Terima kasih do’anya, dan teriring do’a untuk SFA dalam keadaan sihat dan damai selalu.
    Terasa lama memang, belum berkunjung ke tempat SFA, namun tetap ingat dan teringat untuk berkunjung kembali.
    Salam mesra dan hangat selalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: