IPM KALSEL TETAP PERINGKAT BAWAH (Tanggapan Tulisan Ismed Setia Bakti)


Oleh: HE. Benyamine

IPM Kalsel memang terus naik, hanya tidak pantas untuk ukuran daerah dengan kekayaan SDA yang melimpah yang terus dan sudah begitu banyak dieksploitasi dengan nilai yang luar biasa. Bayangkan saja nilai ekspor batu bara Kalsel, yang melebihi 70 juta ton, yang nilainya berlipat-lipat jauh melebihi APBD Kalsel. Apalagi, APBD Kalsel terus menunjukkan peningkatan yang luar biasa hingga lebih 1,8 triliun, yang seharusnya memberikan peluang dan kemudahan bagi Pemprov Kalsel melaksanakan berbagai program pembangunan yang pada ujungnya seharusnya dapat mendongkrak peringkat IPM Kalsel pada posisi yang pantas dan sesuai sebagai daerah kaya sumberdaya.

Dengan berhasilnya Kalsel memperbaiki IPM, hingga pada 2008 masuk dalam 10 (sepuluh) besar peringkat tertinggi angka reduksi shortfall IPM Nasional (Ismed Setia Bakti, IPM Kalsel Naik, Radar Banjarmasin, 13 Mei 2010:3), menunjukkan adanya upaya yang patut dihargai, meski masih tidak mampu menggeser posisi peringkat IPM secara nasional pada posisi yang lebih baik.

Memperhatikan komponen pembentuk IPM; angka melek huruf, lama sekolah, daya beli masyarakat dan angka harapan hidup, yang merupakan komponen dasar bagi kehidupan masyarakat, dengan peringkat IPM pada posisi rendah sebenarnya menunjukkan bagaimana penyelenggaraan pemerintahan daerah dan bagaimana program-program pembangunan yang dilaksanakan bisa jadi tidak tepat sasaran atau hanya bagus di atas kertas; anggaran yang besar tidak menjamin terlaksananya program pembangunan dapat efisien dan efektif. Keadaan ini ditunjang oleh kinerja anggota DPRD yang tidak pernah terdengar, bahkan tidak bersuara, padahal seharusnya mampu menjadi kontrol dalam pelaksanaan program dan dapat mempengaruhi keputusan pemerintah dalam menentukan program berdasarkan skala prioritas.

Meskipun pada 3 komponen yang membentuk IPM Kalsel mengalami peningkatan yang berarti melebihi kenaikan Nasional, namun masih tidak mampu menyesuaikan dengan berlimpahnya sumberdaya alam dan peningkatan APBD, malah terlihat seperti suatu daerah yang tidak mempunyai sumberdaya alam dan APBD yang sedikit.

Keadaan paradox, kekayaan alam yang melimpah tidak berarti kemakmuran, tapi ancaman bencan yang melimpah. Ancaman bencana yang meluas akibat kerusakan alam dan pencemaran adalah bagian dari ketiadaannya pemerintah dalam menggunakan sumberdaya yang diamanatkan kepada mereka.

Sedangkan dalam aspek Usia Harapan Hidup (UHH) yang masih rendah karena sangat dipengaruhi oleh Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) yang masih tinggi, yang disejajarkan secara karakteristik dengan daerah NTB (berapa APBD NTB bila dibandingkan dengan Kalsel), seharusnya menyadarkan Pemprov Kalsel untuk lebih memperhatikan permasalahan ini. NTB saja ada melakukan penelitian tentang masalah ini, yang dijadikan rujukan Ismed Setia Bakti, bahwa hal ini penyebab utamanya adalah perilaku masyarakat; dengan istilah the culture of silence. Sebenarnya mensejajarkan Kalsel dengan NTB dalam masalah Usia Harapan Hidup terlalu jauh, yang lebih dekat dan bahkan satu pulau yaitu Kalteng dapat dijadikan rujukan karena lebih dekat dalam berbagai aspek sosial dan budaya serta lingkungan hidup.

Jadi, Usia Harapan Hidup (UHH) sekarang sebagai suatu upaya 5 bahkan 10 tahun sebelumnya adalah suatu kenyataan dalam menilai peningkatannya. Tapi, bila lebih dipengaruhi oleh Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI), maka UHH ini perlu dipertanyakan karena keduanya AKB dan AKI adalah indikasi saat sekarang. Kebijakan 1 bidan 1 desa dapat dianggap sebagai upaya yang harus diteruskan, tapi harus terus ditangani permasalahan utamanya, yang bila tetap meminjam hasil penelitian di NTB tentang perilaku masyarakat tersebut. Lebih baik lagi, bila pemerintah daerah melakukan penelitian sendiri, untuk lebih mendekatkan pada sasaran yang lebih tepat.

Usia Harapan Hidup yang masih rendah ini secara tidak langsung mempertanyakan laju pertumbuhan ekonomi Kalsel yang terus membaik dalam hal siapa sebenarnya yang meningkamatinya, karena AKB dan AKI juga sangat dipengaruhi ekonomi keluarga selain dari perilaku dan budaya masyarakat. Permasalahan gizi buruk seperti gunung es, hanya permukaannya yang terliput pemberitaan, yang sangat berhubungan dalam mempengaruhi AKB dan AKI.

Demikian juga dengan memperhatikan prediksi 2010 perekonomian Kalsel yang diyakini dapat tumbuh mencapai 7 persen, yang berkenaan dengan membaiknya nilai ekspor Kalsel seperti karet, klinker, batu bara, dan CPO kelapa sawait, yang menunjukkan hanya orang-orang tertentu saja atau sebagian segelintir orang saja yang mendapatkan kemakmuran dari membaiknya nilai ekspor tersebut.

Pengeluaran masyarakat yang terus meningkat, sedikit banyak saat ini juga dipengaruhi oleh banyak pengeluaran mereka yang terlibat dalam Pemilukada 2010 (provinsi dan kabupaten/kota).

Hal ini menjadi tantangan bagi calon kepala daerah dalam upaya pemenuhan masalah dasar seperti yang terdapat dalam 4 komponen IPM, sangat memalukan apabila peringkat IPM masih tetap berada di bawah yang seakan menunjukkan bahwa kita tidak bisa bersyukur atas melimpahnya sumberdaya alam di daerah ini. Peningkatan IPM saat ini masih harus diperjuangkan untuk lebih pantas dan sesuai dengan melimpahnya sumberdaya alam. Pertumbuhan ekonomi Kalsel harus mampu diimbangi dengan pemerataan yang lebih berkeadilan, sangat memalukan bila pertumbuhan yang melebihi pertumbuhan secara nasional tapi masih ada bayi gizi buruk.

(Radar Banjarmasin, 14 Mei 2010: 3)

One Response

  1. Memang itulah realita. . .Disaat berbagai sisi sangat membutuhkan perjuangan ekstra. . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: