MENATAP CALON GUBERNUR KALSEL DI TV


Oleh: HE. Benyamine

Penyampaian visi dan misi para calon gubernur Kalsel periode 2010 – 2015 yang disiarkan langsung oleh televisi lokal pada hari Minggu (16/5/2010) menunjukkan kesiapan mereka seandainya terpilih nanti untuk membawa Kalsel sebagaimana yang dinyatakan dalam visi dan misi masing-masing. Semuanya terlihat sangat meyakinkan dan bersemangat. Semuanya bagus, meski dalam penyampaiannya masih terlihat adanya suara yang bergetar menahan keteganganan.

Materi yang dilontarkan telah memperlihatkan adanya keinginan untuk membawa Kalsel ke arah yang lebih baik. Penuh pengharapan. Nyata sekali bahwa para calon gubernur mengetahui keadaan daerah yang masih membutuhkan loncatan yang tinggi dalam berbagai bidang; seperti pendidikan dan kesehatan. Para  calon gubernur menyadari berbagai kekurangan dan kemelaratan yang menyelimuti masyarakat sebagaimana nampak dalam program-program yang akan dilaksanakan, dan secara jelas terlihat pengakuan bahwa kondisi masyarakat juga masih harus berhadapan dengan menghilangnya peran pemerintah untuk mengatasinya dan tersumbatnya suara masyarakat lewat saluran wakilnya di DPRD.

Melalui visi masing-masing yang diformulasikan dengan sederhana, secara tidak langsung merupakan suatu pengakuan bahwa keadaan sebelumnya sangat bertolak belakang dengan yang visi ke depan tersebut. Ada  yang menegaskan dengan BERMARTABAT, yang melihat bahwa selama ini Kalsel masih tidak bermartabat sebagai suatu daerah yang kaya sumberdaya alam; bahkan melimpah sebenarnya. Begitu juga MANDIRI, yang mengungkapkan keadaan Kalsel selama ini tidak mandiri masih seperti anak kecil yang sangat bergantung pada harta yang tersedia. Hal ini nampak pula pada BERMUNAJAD, yang seolah selama ini Kalsel terlalu gelap mata dalam kehidupannya sehingga mengabaikan bahwa Allah selalu mengawasi; Allah tidak pernah tidur. Juga LUMBUNG ENERGI, yang mengungkapkan bahwa selama ini Kalsel hanya lumbungnya saja tapi isinya tidak pernah dinikmati atau digunakan untuk sebesar-besarnya bagi kepentingan masyarakatnya.

Kesadaran atas semua masalah yang dihadapai daerah yang terlihat dalam visi dan misi yang disampaikan para calon gubernur, dengan semangat yang begitu tinggi untuk mengatasinya, yang semuanya tidak jauh berbeda, secara tidak langsung juga memperlihatkan suatu kerakusan yang terkandung dalam visi dan misi tersebut. Bagaimana cara mencapai dari visi dan misi yang sebenarnya kurang lebih atau sama saja tersebut? Apalagi, saat penyampaian visi dan misi tersebut tidak terlihat adanya asumsi yang digunakan sebagai pijakan untuk melaksanakannya. Sehingga memberikan suatu peluang bagi yang menonton penyampaian visi dan misi tersebut untuk berasumsi sendiri, dan yang paling gampang adalah bahwa Kalsel adalah daerah yang kaya sumberdaya alam yang memberikan sumberdaya untuk pelaksanaan dan pencapaian dari visi dan misi tersebut.

Para calon gubernur melalui visi dan misi yang disampaikan, seakan menunjukkan watak kerakusan kekuasaan untuk selanjutnya mengatasnamakan pembangunan untuk rakyat dengan tidak menyatakan asumsi yang digunakan dalam menentukan visi dan misi tersebut. Mereka seolah-olah tidak peduli dengan keadaan daerah yang dihadapkan dengan kerusakan alam dan pencemaran lingkungan serta kehilangan budaya, hanya terlihat bagaimana mereka mengambil sumberdaya alam tersebut yang dikatakan untuk pencapaian visi dan misi tersebut.

Kerakusan kekuasaan ini menjadi lebih nyata, saat dalam visi dan misi tersebut tidak terlihat adanya nilai penting budaya yang sebenarnya merupakan nilai dalam hidup dan kehidupan banua ini, sebagai pondasi dalam menentukan program pembangunan, dan memberikan suatu jalan kebaikan dan kebajikan. Kepemimpinan yang terlepas dari budaya daerah yang dipimpinnya, lebih cenderung menampakkan kerakusan kekuasaan, yang bertindak hanya untuk kepentingan pragmatis lingkaran kekuasaannya.

Apakah masih bisa mengatakan sebagai gubernur untuk Kalsel bermartabat atau mandiri atau bermunajad jika tidak mendasarkan pada budaya? Hal inilah yang tidak terlihat dalam penyampaian visi dan misi para calon gubernur Kalsel di hadapan sidang istemewa DPRD Kalsel. Sehingga yang nampak adalah para calon gubernur yang siap memimpin Kalsel yang sanggup mengesampingkan budaya, yang pada ujungnya siap mengorbankan apa saja untuk mencapai tujuannya, dan siap melahap apa saja yang bisa diambilnya apa yang ada dihadapanya. Budaya yang diabaikan sebenarnya menambah paradox daerah yang kaya sumberdaya alam ini, melimpahnya sumberdaya alam tidak mampu menghidupi warganya dengan layak, bahkan masih ada gizi buruk, karena pemimpinnya tidak berbudaya.

Jadi, jika benar-benar ingin bermartabat, mandiri, dan bermunajad maka para pemimpinnya harus berbudaya. Karena, dengan mendasarkan pada budaya segala visi dan misi akan dapat menjadikan daerah ini bermartabat, mandiri, dan bermunajad. Daerah yang dipimpin oleh pemimpin yang tidak berbudaya, tidak akan pernah dapat menjadi daerah yang bermartabat, mandiri, dan bermunajad, malah sebaliknya hanya akan mendatangkan kesengsaraan dan bencana karena kerakusan kekuasaan yang hanya tahunya mengeruk dan mengambil yang tersedia.

(Radar Banjarmasin, 18 Mei 2010: 3)

One Response

  1. semoga benar-benar amanah, siapapun nati yang memimpin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: