PENINGKATAN KESEJAHTERAAN ATAU KERUSAKAN?


Oleh: HE. Benyamine

Memperhatikan visi dan misi para calon gubernur Kalsel yang penuh dengan kata peningkatan, meningkatkan; dari mengenai sumberdaya manusia, perekonomian, sarana prasarana, pangan, keagamaan, tata kelola permerintahan, dan berbagai hal yang selama ini sebenarnya masih menjadi masalah yang seakan hanya disinggung saat kampanye saja. Dengan diiringi dengan kata menurunkan, menekan, mengurangi berbagai hal yang menjadi momok pembangunan, seperti pengangguran, kemiskinan, pertambahan penduduk , dan berbagai hal yang selama ini terus mengalami peningkatannya.

Para calon gubernur memang harus memberikan harapan, meyakinkan, dan menunjukkan bahwa meraka memang akan melakukan hal tersebut saat terpilih nanti. Mereka sungguh-sungguh dalam menyatakan visi dan misi masing-masing, yang begitu banyak diproduksi dalam berbagai bentuk media, agar dapat diketahui masyarakat seluas-luasnya.

Untuk melaksanakan visi dan misi tersebut, para calon gubernur sudah seharusnya mengetahui kondisi daerah, tentu dengan pengetahuan yang memadai dengan berbagai data yang sebenarnya begitu mudah untuk mendapatkannya. Mereka tentu sudah mengerti bagaimana kondisi dan tantangan daerah, sehingga menjanjikan dengan kata peningkatan tersebut.

Para calon gubernur tentu sudah tahu tentang lahan kritis Kalsel yang lebih dari 550 ribu hektar, yang sejak 5 tahun lalu sudah sebesar itu, dan hingga kini yang dapat direboisasi tidak lebih dari 10 ribu hektar dengan tidak ada jaminan kegiatannya berhasil. Sekarang, tentu sudah semakin bertambah luas lahan kritis tersebut, dengan semakin banyaknya pertambangan batu bara yang sporadis dan asal keruk tanpa memperhatikan reklamasi yang diwajibkan. Memperhatikan lahan kritis yang terus bertambah, maka segala aktivitas manusia terhadap hutan yang tersisa akan semakin menyebabkan peningkatan berbagai ancaman terhadap kehidupan masyakarat.

Kerusakan hutan tersebut secara langsung menyebabkan kondisi 13 DAS di Kalsel mengalami kondisi kritis, karena terjadinya perubahan bentang alam kawasan DAS tersebut; akibat aktivitas pertambangan dan lahan kritis. Hal ini sudah dikemukakan Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kalsel (Koran Lokal, 3/03/2010), Rachmadi Kurdi, bahwa kawasan DAS yang seharusnya dapat menjadi resapan pada kenyataannya semuanya rusak dan menjadi semak belukar. Sebagian dari DAS tersebut telah terjadi pencemaran logam berat (2/03/2010), seperti DAS Barito yang mengandung Merkuri (Hg) sebesar 0,4855 yang jauh melebihi baku mutu 0,001. Begitu juga dengan logam berat lainnya yang melebihi baku mutu yang dibolehkan, yang tentu saja sangat berbahaya bagi kehidupan masyarakat baik langsung (konsumsi air) maupun tidak langsung (ikan sungai).

Pencemaran sungai ini juga dilakukan perusahaan pertambangan besar, yang hanya selesai setelah masyarakat mendapatkan santunan, tanpa memikirkan resiko yang akan datang akibat pencemaran tersebut. Karena, akibat pencemaran ada yang dirasakan pada waktu mendatang, seperti kasus Minamata (Jepang) dan Buyat. Menurut Kepala BLHD Kalsel (www.mediaindonesia.com) bahwa ratusan perusahaan pertambangan batu bara pemegang izin kuasa pertambangan (KP) di Kalsel diduga melakukan pencemaran lingkungan, dan mereka tidak memiliki instalasi pengelolaan limbah tambang dan tidak memiliki tenaga teknis lingkungan. Hal ini sudah dirasakan warga masyarakat yang sangat mengganggu peri kehidupan mereka, dari kebanjiran kebun dan sawah hingga terjadinya kematian massal ikan.

Dengan alasan peningkatan pendapatan asli daerah, sektor pertambangan dan perkebunan kelapa sawit terus ditingkatkan dan dilakukan dengan sangat cepat, seakan berkejaran dengan masa kekuasaan yang singkat. Perkebunan kelapa sawit juga mendatangkan malapetaka bagi warga masyarakat, karena cenderung suatu kawasan berubah menjadi monokultur yang membinasakan banyak species dari kawasan tersebut, yang secara langsung menghancurkan keanekaragaman hayati, yang bisa menyebabkan merebaknya hama dan penyakit bagi lingkungan kehidupan masyarakat. Apalagi, perkebunan kelapa sawit menggunakan pestisida, yang bila dilihat dari skala luasan perkebunannya jelas sangat banyak menggunakannya, sehingga pencemaran terhadap sumber kehidupan warga sangat besar; seperti air di mana kebanyakan warga pedesaan masih bergantung dengan sungai.

Data tentang kerusakan hutan, pencemaran lingkungan, lahan kritis, dan terganggunya mata pencaharian warga menunjukkan suatu keadaan yang sangat memprihatinkan dan memilukan, yang kesemuanya itu berbanding terbalik dengan peningkatan asli daerah yang sering dibanggakan para kepala dearah beserta elit kekuasaannya. Berdasarkan data tentang keadaan daerah yang mengandung berbagai ancaman terhadap kehidupan warga masyarakat, dan juga bencana yang terus menghancurkan kehidupan mereka, seperti banjir yang semakin besar dan dalam waktu yang semakin sering, bagaimana mungkin melakukan yang katanya peningkatan tersebut karena segalanya seperti selalu kembali dari awal lagi. Misalnya, menanam padi dengan input pertanian yang besar, dijaga dan dirawat sesuai dengan cara pengelolaan yang dianjurkan, namun ternyata tidak berdaya karena banjir lalu pemerintah memberikan bibit baru dan subsidi pupuk lagi, dari awal kembali.

Kerusakan alam dan pencemaran lingkungan yang terjadi di daerah ini menunjukkan bahwa tiadanya pemerintahan, sama saja negara tidak ada, warga dibiarkan berhadapan langsung dengan berbagai akibat buruk dari eksploitasi sumberdaya alam yang keruk habis dan seenaknya. Hal ini juga jelas terlihat dari visi dan misi calon gubernur Kalsel, yang terus memberikan harapan tentang peningkatan yang tidak terlihat bagaimana pemerataannya, yang sangat bangga dengan kekayaan sumberdaya alam yang melimpah dan dengan cara paling gampang hanya mengambil lalu menjualnya, yang terkesan seperti para penyantun yang budiman dengan memberikan dana bantuan kepada masyarakat untuk pengembangan desa tetapi membiarkan mereka berhadapan dengan ancaman bencana.

Para calon gubernur Kalsel harus memperhatikan data tentang keadaan daerah yang mengalami kerusakan alam dan pencemaran lingkungan, untuk membuktikan bahwa adanya pemerintahan atau negara di banua ini, dan tentu harus mempunyai kemampuan untuk bertindak layaknya sebagai seorang pemimpin yang diamanahkan segala sumberdaya daerah di tangannya. Bila ini tidak diperhatikan, sama saja Kalsel tanpa negara, hanya simbol saja ada gubernur.

(Radar Banjarmasin, 24 Mei 2010: 3)

One Response

  1. Referensi yang menarik saya catat dulu pak. Dan tentang kelemahan-kelemahan dalam pembangunan, sepertinya memang ada peningkatan dan pengurangan, namun hal tersebut masih bersifat kasat mata di masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: