KONTES “BALULUCUAN” CALON WALIKOTA BANJARMASIN


Oleh: HE. Benyamine

Siaran langsung debat Calon Walikota dan Wakil Walikota Banjarmasin 2010 – 2015 (25 Mei 2010), melalui Duta TV, secara tidak langsung menyuguhkan acara yang mempermalukan para calon walikota dengan penampilan mereka yang lebih terlihat seperti acara balulucuan. Masalah yang dibahas tidak terlihat penting, terabaikan, dan seakan diremehkan. Para calon walikota, tanpa kecuali, seperti terbawa suasana ketoprak humor yang ditampilkan tanpa persiapan, sehingga mereka terlihat seperti tidak siap dengan tema debat. Mereka tentu sudah mempersiapkan diri sebelum acara debat tentang materi yang akan disampaikan, namun pada pelaksanaannya seperti ada kesulitan dalam mengemukakannya dan begitu jelas terlihat demam panggung.

Menurut Ketua Pokja Kampanye KPU Kota Banjarmasin bahwa debat publik tidak untuk mencari-cari kelemahan pasangan calon, tetapi untuk pembelajaran demokrasi yang lebih baik dan memberikan pemahaman kepada masyarakat (Radar Banjarmasin, 26 Mei 2010; 6). Namun acara debat malam itu sebenarnya mempermalukan para calon walikota karena memperlihatkan mereka dalam suasana yang gaduh, banyak celetok, gagap, kehilangan referensi, tidak serius, dan sangat nampak candanya. Malah tidak terlihat pembelajaran demokrasi dan usaha untuk memberikan pemahaman kepada warga masyarakat.

Para Calon Walikota terlihat sama, mirip, dan seperti calon yang sedang mengikuti suatu kontes pelawak dengan panelis sebagai jurinya. Terkadang calon walikota seperti kehilangan pendengarannya, sehingga waktu yang terbatas habis hanya untuk mengulang satu kata saja, sebelum yang bersangkutan sempat mengemukakan pendapatnya untuk menanggapi suatu hal.

Mengacu pada sejumlah permasalahan Kota Banjarmasin yang menjadi tema debat malam itu, seperti problematika sosial, tata kota dan lingkungan, hukum dan tata kelola pemerintahan, dan kesejahteraan, jelas membutuhkan tanggapan yang serius dan terukur dengan menyesuaikan forum yang digunakan, bukan dengan cara seperti sedang kampanye di lapangan terbuka. Jikapun ingin mencairkan suasana dan mengatasi ketegangan dapat dilakukan pada saat yang tepat dan tidak terbawa suasana yang kemudian lupa sedang berada dalam acara debat.

Para calon walikota (dan wakilnya) menjadi sulit dibedakan, mana yang benar-benar memahami permasalahan dan mempunyai pemecahannya menjadi kabur, satu dengan yang lain terjebak pada suasana yang mempermalukan karena tidak dapat mengemukakan pemikiran sesuai dengan waktu yang tersedia.

Para penelis juga terlihat seperti larut dalam suasana tersebut. Mereka memposisikan diri sebagai ahli yang memberikan ceramah kepada calon walikota dan wakil walikota, yang harus didengar pendapatnya, dan menganggap para calon walikota tidak begitu memahami tentang permasalahan kota Banjarmasin yang mereka kemukakan. Padahal, apakah calon walikota/wakil walikota memahami atau tidak permasalahan kota Banjarmasin bukan kewajibannya untuk meluruskan dan memberikan pemahaman.

Peran panelis harus dapat membuat para calon walikota/wakil walikota lebih menunjukkan pemikirannya terhadap permasalahan yang dikemukakan, sehingga masyarakat yang menyaksikan debat publik tersebut dapat menilai sendiri calon yang bersangkutan. Peran para panelis di dalam debat terbuka itu tidak dimaksudkan sebagai seorang yang dimintakan pendapatnya tentang suatu permasalahan, tapi bagaimana mereka dengan keahlian masing-masing dapat membuat para calon walikota/wakil walikota menampilkan pemikirannya dalam mengatasi dan memecahkan permasalahan yang dihadapi kota Banjarmasin berdasarkan tema debat yang telah ditentukan.

Jadi, debat publik yang diharapkan sebagai pembelajaran demokrasi dan memberikan pemahaman tentang pemikiran calon walikota dan wakil walikota namun terselenggara seperti ketuprak humor dan larut pada suasana balulucuan haja, yang disiarkan TV secara langsung (dan tentunya ditonton warga masyarakat), malah condong mempermalukan para calon walikota dan wakil walikota. Para calon walikota seakan seperti sedang mawarung, nampak akrab dan meriah, suasana cair dan penuh canda, hingga waktu berlalu tidak terasa.

Para calon walikota (wakil) harus mempersiapkan diri untuk mengikuti debat publik, siap dengan data, siap gagasan dan pilihan cara penyampaiannya, dan siap untuk tidak terlibat dan larut dalam suasana balulucuan dalam acara yang serius dalam pemikiran. Bila tidak, maka calon walikota hanya terlihat seperti sedang mempermalukan diri sendiri dihadapan masyarakat.

Kemampuan para calon walikota dalam beberapa hal, terlihat saat mereka dihadapkan secara langsung pada suatu suasana, apakah mereka terseret suasana tersebut atau tidak, dan apakah mereka dapat tetap fokus pada permasalahan meskipun suasana menggiringnya ke arah yang lain.

(Radar Banjarmasin, 27 Mei 2010: 3

3 Responses

  1. wah ini calon walikota ya pak,… ngeri ya gimana nanti

  2. baru calon udah demam panggung ya?? gimana nanti kalau terpilih dan harus menghadap rakyat.

  3. demam panggng……….ntar kalau dah jadi gub…..demam uang……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: