BENANG KUSUT DEBAT CAGUB KALSEL


Oleh: HE. Benyamine

Debat terakhir calon gubernur (wakil) Kalsel yang disiarkan langsung Mitro TV (nasional) dan Duta TV (lokal) menunjukkan para calon gubernur sedang berpikir dan bersikap seperti benang kusut, seperti kehilangan pengetahuan mana ujung mana pangkal, dan terlihat seperti kaset rusak; menyatakan sesuatu hal yang berulang dan sama di manapun kaset tersebut diputar. Mungkin hal ini karena para calon gubernur sudah terlalu letih dan lelah dengan padatnya acara yang mereka harus layani dan datangi, sehingga membuat pikiran dan sikap mereka terlihat layaknya benang kusut. Atau, dan ini mudahan tidak, karena mereka selama ini memang tidak pernah mempersiapkan diri menjadi gubernur hanya untuk mengejar kekuasaannya saja sehingga bagaimana menjalankan pemerintahan nantinya adalah urusan belakangan. Juga, mudahan bukan, para calon gubernur memang tidak memahami tentang otonomi daerah dan reformasi birokrasi.

Berdasarkan data calon gubernur, hampir seluruhnya merupakan orang yang telah berada dalam posisi sebagai kepala (wakil) daerah (gubernur/walikota/bupati), dan mereka menjabat posisi itu sebagian besar dalam masa 2 (dua) periode, namun saat dihadapkan dengan tema otonomi daerah dan reformasi birokrasi dalam debat tersebut, terlihat seperti orang yang tidak mempunyai pengalaman dalam menjalankan pemerintahan (otonomi dan birokrasi), sehingga saat harus menjawab pertanyaan tentang reformasi birokrasi dan bagaimana menghadapi resiko pilihan dalam reformasi birokrasi mereka sangat tidak dapat memanfaatkan waktu yang tersedia (2 menit), yang sebenarnya, seharusnya sangat cukup untuk menjelaskan dengan gamblang dan tepat sebagai orang yang berpengalaman; khusus mereka yang menjabat 2 periode pemerintahan.

Menonton para calon gubernur yang menjawab seperti benang kusut tentang masalah yang selama ini sebagian dari mereka sudah menjalaninya sebagai kepala daerah, memperlihatkan bagaimana sosok calon gubernur tersebut dari rekam jejak mereka dalam menjalankan roda pemerintahan. Bagaimana mungkin selama 2 (dua) periode memimpin suatu daerah tidak dapat menjelaskan tentang otonomi daerah dan reformasi birokrasi dengan tepat, padat, dan berdasarkan data. Para calon gubernur dapat memberikan contoh bagaimana melaksanakan otonomi daerah dan reformasi birokrasi di daerah masing-masing. Petahana (incumbent) gubernur berdasarkan pengalamannya 5 (tahun) menjabat gubernur, tinggal menunjukkan saja apa saja yang sudah dilakukan. Mereka dapat memperlihatkan hasil yang telah dilakukan dan diupayakan dalam reformasi birokrasi, baik dalam kelembagaan, kesejahteraan, dan mentalnya. Namun, saat debat terakhir, mereka tetap tidak dapat menunjukkan apa saja yang mereka lakukan selama mereka telah menjadi kepala daerah.

Mengapa para calon gubernur tidak menunjukkan apa dan bagaimana yang mereka lakukan selama menjadi kepala daerah. Padahal, berdasarkan pengalaman masing-masing itulah yang dapat menjadikan perdebatan lebih membumi dan riil, karena tentunya ditunjang dengan data yang tepat dan fakta lapangan. Bagaimana mereka melakukan reformasi birokrasi, apa saja yang menjadi prioritas mereka, bagaimana menghadapi resiko atas pilihan tersebut, dan sampai pada hasil dari pelaksanaan pilihan tersebut. Perubahan apa saja yang dapat ditunjukkan dalam reformasi birokrasi dari daerah yang dipimpinnya. Seperti pembinaan mental aparatur yang dilakukan Zairullah Azhar dengan Manajemen Illahiyah, misalnya, tentu dapat dijadikan contoh yang bersangkutan, bagaimana hasilnya dalam mempengaruhi mental aparatur pemerintah.

Dengan penampilan yang terlihat seperti tidak dipersiapkan, dengan pemikiran seperti benang kusut dalam menanggapi panelis, dan seperti tanpa pengalaman sebagai kepala daerah, maka wajar saja para calon gubernur menjawab pertanyaan panelis sebagaimana ungkapan “lain cancut lain salawar” dan nampak begitu textbook yang tidak tepat. Hal ini memperlihatkan bahwa para calon gubernur tidak mempunyai pengalaman dalam otonomi daerah dan reformasi birokrasi, yang menggambarkan bahwa mereka selama menjabat sebagai kepala daerah tidak ada yang mereka lakukan, karena mereka tidak dapat memberikan contoh-contoh (berhasil atau gagal) apa yang telah mereka lakukan yang dapat dijadikan rujukan bahwa daerah tersebut terus mengalami perubahan. Malah yang bisa ditunjukkan para calon gubernur adalah penghargaan yang diterima dari pemerintah pusat, entah bagaimana mereka melaksanakan bidang tersebut hingga mendapatkan penghargaan tersebut, tidak dapat dijadikan contoh nyata.

Dalam debat tersebut para calon gubernur memperlihatkan sosok yang bersangkutan, tersurat maupun tersirat, yang sedikit banyak memperlihatkan sikap dan tindakan mereka dalam menghadapi suatu hal. Ada yang begitu lambat dalam mengemukakan pendapat pada setiap pertanyaan panelis dan mencari-cari contekan textbook, entah terlalu lelah atau terlalu banyak hal yang ingin dikemukakan, hingga batas waktu habis tidak mampu mengemukakan pemikirannya. Ada juga yang merujuk pada sejarah Islam, tetapi tidak mampu mengemukakan pemikiran dalam menanggapi pertanyaan panelis, karena waktu tidak dapat dikelola dengan baik. Ada yang jujur dengan menjawab apa adanya, namun begitu banyak menyisakan waktu yang tersedia. Ada yang cepat menjawabnya tetapi normatif. Dan, ada yang lancar, runtun, dan taktis seperti seorang manejer yang begitu terikat dengan SOP yang juga normatif.

Memperhatikan para calon gubernur yang sedang dalam kondisi seperti benang kusut, tentu peran para penelis yang hanya dapat jatah masing-masing satu pertanyaan, patut disyukuri dan menyelamatkan para calon gubernur, karena tidak memperlama penampilan mereka yang dapat semakin menjadikan pikiran semakin kusut. Meskipun sangat sayang keberadaan panelis hanya dengan satu pertanyaan, yang sebenarnya masih banyak hal tentang otonomi daerah dan reformasi birokrasi yang perlu dimintakan tanggapannya kepada para calon gubernur, apalagi kepada mereka yang sudah berada dalam pusat kekuasaan selama 2 (dua) periode.

Pada saat pertanyaan antar calon gubernur, masing-masing calon dapat lebih rileks dan mencoba melihat apa yang dilakukan bersangkutan sebagai rujukan, namun masih tidak dapat dikemukakan dengan ringkas dan padat. Sehingga, tidak dapat melihat suatu kondisi daerah yang bersangkutan berdasarkan data, para calon gubernur tidak dapat memfungsikan tim kampanyenya dalam menyediakan data resmi tentang suatu daerah dari calon lainnya. Apakah benar Kabupaten Tanah Bumbu merupakan kabupaten terbaik se Indonesia? Bagaimana data kabupaten tersebut sebenarnya? Begitu juga dengan Kabupaten HST yang tidak mengandalkan SDA yang tidak dapat diperbaharui, apa pertanian mengalami kemajuan? Data kemiskinan yang diamini sebesar 500 ribu, setidaknya diakui jujur oleh Rosehan, tapi tidak dapat dibahas oleh Rudy Ariffin yang selalu menyatakan kemiskinan terus berkurang, atau sebenarnya data tentang kemiskinan itu tidak jelas.

Secara keseluruhan debat terakhir calon gubernur Kalsel memperlihatkan bahwa para calon gubernur tidak serius dalam mempersiapkan diri untuk acara debat tersebut, mereka menyembunyikan pengalaman sebagai kepala daerah, tidak peduli data, terlalu percaya diri, dan tidak sanggup memberikan suatu harapan terhadap Kalsel yang lebih mandiri, bermartabat, dan bermunajab serta produktif dan berdaya saing. Atau, sebenarnya debat (terakhir) calon gubernur adalah gambaran dari rendahnya IPM Kalsel, yang begitu kentara terlihat saat debat berlangsung, dan menjadi maklum posisi IPM rendah. Hal ini juga memperlihatkan bahwa Kalsel, secara tersirat, selama ini tidak ada pemerintahan (tanpa negara) karena membiarkan rakyatnya terus dihadapkan dengan berbagai ancaman bencana.

Jika berdasarkan debat-debat calon gubernur yang menunjukkan pemikiran benang kusut tersebut, tentu sangat membuat pesimis Kalsel dapat lebih sejahtera dan berkeadilan, karena lebih memperlihat suatu perdebatan ke arah menggumpal benang kusut. Namun, Pemilu Kada 2010 Kalsel sudah memasuki masa tenang dan tahap penentuan yang memberikan kepada masyarakat untuk menentukan pilihannya yang tentu saja tidak hanya berdasarkan debat-debat calon gubernur, masih banyak indikator lainnya, semoga saja menghasilkan gubernur yang mempunyai kesungguhan dalam mengemban amanah, terbuka dalam menerima kritik, cepat menyadari kekeliruan dalam kebijakan, mau terus belajar dan terus berupaya menghimpun sumberdaya banua serta berkomitmen dalam pemberantasan korupsi.

(Radar Banjarmasin, 31 Mei 2010: 3)

3 Responses

  1. […] Sedikit banyak, tulisan ini juga hadir setelah terinspirasi tulisan Tetuha kita bersama, Pak Ben. […]

  2. Semoga Kalimantan Selatan memperoleh kepala daerah yang benar2 amanah, Bang.

  3. Sepertinya memang sangat sulit sekali ya pak. Mudah-mudahan ada kemajuan karena saya nyoblos pemilu kali ini *baru tau juga kalau jari manis harus di kasih tinta*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: