HARI LINGKUNGAN HIDUP 2010: MANY SPECIES. ONE PLANET. ONE FUTURE


Oleh: HE. Benyamine

Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup 2010, dengan tema Many Species. One Planet. One Future, yang mengingatkan pada semua tentang keanekaragaman makhluk di muka bumi, dan harus menjadi kesadaran bersama bahwa keanekaragaman tersebut berada di satu planet untuk masa depan bersama. Manusia hanya satu spesies dari banyak spesies yang ada, diperkirakan di antara 5 juta – 100 juta spesies, yang hingga sekarang para saintis baru dapat mengidentifikasi kira-kira 2 juta spesies, yang tentunya sangat masih banyak yang tidak diketahui tentang planet di mana kita berbagi kehidupan.

Diperkirakan sebanyak 17 ribu lebih spesies yang diketahui terancam punah, dari yang sedikit diketahui mengenai tanaman dan serangga hingga berbagai jenis burung dan mamalia, dan tentunya bahkan sebagaian spesies menghilang sebelum ditemukan atau dapat diidentifikasi. Hal ini sangat berhubungan dengan aktivitas manusia, yang begitu banyak mengambil dalam berbagai bentuk dan jumlah, dan mengembalikannya dalam berbagai bentuk limbah yang sebagiannya sangat sulit mengalami daur ulang untuk dapat diserap kembali oleh lingkungan.

Kerusakan hutan dengan kecepatan paling sedikit 1.8 juta hektar per tahun dan reboisasi yang tidak lebih dari 50 ribu per tahun yang juga masih belum tentu berhasil, perubahan hutan menjadi perkebunan monokultur yang begitu cepat (terutama sawit), dan porak porandanya bentang alam akibat pertambangan (terutama batu bara untuk sekarang), sebenarnya dengan gamblang menjelaskan tentang ancaman kepunahan dari sebagian keanekaragaman spesies dan merupakan suatu bentuk yang logis peluang semakin menghilangnya sebagian spesies yang belum diketahui. Program reboisasi dengan anggaran yang besar, tetapi dilaksanakan seperti hanya sebagai syarat bahwa telah dilakukan upaya mengatasi kerusakan hutan dan terlihat ada kegiatan seremonial yang meriah, yang pada kenyataannya seperti menabur garam di lautan.

Kerusakan alam dan pencemaran yang dilakukan manusia secara langsung juga menyebabkan terjadinya pemanasan global (global warming), sebagai konsekuensi dari pilihan pendekatan pembangunan yang begitu beroreintasi peningkatan produksi dengan mengesampingkan daya dukung lingkungan dan kemampuan alam dalam memulihkan keseimbangannya. Dalam peningkatan produksi tersebut, secara tidak langsung mengakibatkan terjadinya kepunahan spesies lebih dari 1000 kali dari tingkat kepunahan alami. Aktivitas manusia yang mempercepat laju kepunahan spesies, karena didukung semakin canggihnya teknologi eksploitasi dan berbagai penemuan yang merupakan racun terhadap keanekaragaman spesies, penggunaan pestisida dan insektisida, serta input pertanian lainnya, seperti dalam perkebunan kelapa sawit dalam skala yang sangat luas.

Kerusakan alam dan pencemaran yang terus berlangsung, padahal sesungguhnya sudah dirasakan dan diketahui bersama, yang semakin terus mengalami percepatan akibat alam kehilangan keseimbangannya, secara nyata meningkatkan resiko bagi semua karena kehilangan kemampuan untuk bertahan; khususnya dari yang terlemah. Keanekaragaman spesies yang mampu menjaga keseimbangan alam, yang dapat tetap memberikan dan menyediakan berbagai kebutuhan untuk kehidupan, dan satu dengan yang lain merupakan bagian yang saling tergantung untuk tetap menjaga keseimbangan. Bahkan sekalipun hanya satu spesies yang diambil dari jaring kehidupan dapat menjadi bencana, seperti dalam hal hama wereng karena musuh alaminya menghilang yang dapat menjadi bencana bagi petani.

Kesadaran tentang pentingnya keanekaragaman spesies yang menghidupi planet bumi ini dan ancaman yang semakin nyata pada sebagian spesies (sama seluruhnya), yang menjadi alasan The United Nations (UN) menetapkan tahun 2010 sebagai the Internasional Year of Biodiversity. Untuk mengingatkan pada semua bahwa betapa pentingnya keanekaragaman hayati untuk kehidupan manusia dan keanekaragaman hayati itu sendiri, sehingga mendorong untuk tetap menjaganya dan berusaha lebih keras dalam mengurangi kepunahan.

Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup (WED) 2010, yang diperingati setiap 5 Juni, tema yang dipilih “Many Species. One Planet. One Future” untuk menyesuaikan dengan penetapan tahun 2010 sebagai The International Year of Biodiversity. Pilihan tema ini tentu saja untuk lebih menegaskan tentang pentingnya keanekaragaman hayati dan pentingnya untuk tetap menjaga keberadaannya, karena dunia tanpa keanekaragaman hayati atau semakin banyak yang punah hanya menyediakan prospek yang sangat suram bagi kehidupan.

Keanekaragaman hayati mempunyai peranan penting dalam membuat ekosistem berfungsi dan menyediakan berbagai jasa yang dihasilkan dari proses dari ekosistem tersebut. Kerusakan alam dan pencemaran membuat gangguan terhadap ekosistem yang secara langsung juga mengganggu keanekaragaman hayati dan dapat menjadikannya keluar dari sistem web of life, yang berakibat pada terganggunya jasa ekosistem dalam menyediakan makanan, air bersih, kayu, sumber genetik dan lainnya, begitu juga dapat merusak fungsi regulasi dalam menjaga banjir, penyakit, kualitas air, dan penyerbukan (pollination), serta jasa pendukung dalam pemeliharaan kesuburan tanah. Hal ini yang menyebabkan berbagai bencana, baik secara langsung maupun tidak, yang tentunya lebih mempercepat terjadinya semakin rendahnya tingkat keanekaragaman hayati.

Gangguan terhadap ekosistem melebihi kemampuannya untuk kembali pada keseimbangan, tentu saja mengancam keanekaragaman hayati, karena dapat membuat spesies yang ada dalam ekositem tersebut tidak dapat bertahan dalam melawan serbuan spesies lainnya. Perubahan interaksi dalam ekosistem antara spesies dapat mendorong pengaruh negatif pada proses ekosistem, yang dapat menghilangkan spesies tertentu, sehingga dapat mengacaukan jasa ekosistem dalam waktu yang lama. Seperti menurunnya keanekaragaman serangga penyerbuk dalam ekosistem yang rusak, dapat mempengaruhi reproduksi beragam tumbuhan yang tentu saja juga menjadi berkurang keanekaragamannya. Begitu juga terhadap mikroba yang hidup di laut akan terganggu kontribusinya dalam pengendalian polutan dalam hal racun.

Sudah banyak kerusakan alam dan pencemaran, yang nampak begitu jelas, hutan alam yang terus dijarah, sungai-sungai (DAS) yang kritis dan airnya tercemar, lahan kritis yang terus bertambah, udara yang semakin tercemar, yang semuanya mengarah pada semakin luasnya acaman terhadap tingkat keanekaragaman hayati; bahkan spesies yang belum ditemukan menghilang sebelum teridentifikasi. Baik individual maupun secara kolektif mengupayakan keanekaragaman hayati tetap dapat terjaga, dan spesies tidak terus mengalami kepunahan. Memulihkan beberapa habitat alam yang terdekat, sebagai bagian dari gerak seluruh dunia.

Oleh karena itu, sangat penting untuk menyadari bahwa manusia dan beranekaragam species, semuanya hidup dan berkehidupan dalam planet yang sama, dan hanya bila saling mendukung satu dengan yang lain yang dapat menjadikan kehidupan yang mempunyai prospek masa depan yang lebih aman dan berpengharapan. Bersama melawan kepunahan. Kepunahan satu spesies, membuka jalan kepunahan spesies lainnya.

(Radar Banjarmasin, 5 Juni 2010: 3)

3 Responses

  1. paparan yang sangat lengkap
    selamat hari lingkungan hidup sedunia

  2. Selamat hari lingkungan hidup. Ngomong-ngomong linkungan hidup…… ah parah banget pak. Kemarin saya jalan-jalan ke pantai Pagatan, eh ternyata pantainya abrasi….

  3. Jadi ingat keadaan di sekolah tempat saya mengabdikan diri 15 tahun lalu, beberapa burung kepodang dengan keindahan warna dan kicauannya yang khas setiap pagi selalu setia mengiringi kami mengawali aktifitas.Namun kini? Hemh…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: