MENJADI WALIKOTA BANJARMASIN BERBAHASA BANJAR


Oleh: HE. Benyamine

“Karena Ulun urang asli Banjar, maka saya sering menggunakan bahasa sederhana, bahasa Banjar. Sebab mana tahu masyarakat kalau berbicara dengan bahasa Indonesia ilmiah, makanya saya tidak mempelajarinya,” kata H.Muhidin (4/05/2010).

Menjadi pejabat publik, seperti sebagai walikota, tentu saja banyak berhubungan dengan berbagai acara, baik resmi maupun tidak resmi, yang dalam acara itu ada kewajiban yang melekat pada bersangkutan adalah memberikan pidato atau kata sambutan. Penggunaan bahasa yang tepat dapat membantu pesan dalam pidato tersebut sampai pada sasaran (pendengar) dengan baik dan efektif. Pada acara resmi, seorang walikota, dapat saja meminta kepada pihak lain untuk mempersiapkan naskah pidato, yang pada saat acara berlangsung tinggal dibacakan oleh yang bersangkutan. Saat meminta pihak lain membuatkan naskah pidato, yang pada dasarnya terbuka peluang untuk sambil belajar tentang materi pidato dari si pembuat, dan tentunya dapat menambah pengetahuan dari sumber lainnya.

Penyataan H. Muhidin di atas dapat dimaknai sebagai adanya kekhawatiran dan ketidakpercayaan diri (karena berbahasa Banjar) tentang bagaimana nantinya memberikan pidato atau kata sambutan saat menjadi walikota, karena kesadaran diri tentang tidak begitu terlatih dalam penggunaan bahasa ilmiah atau pengetahuan umum, dengan memposisikan diri lebih terbiasa menggunakan bahasa sederhana yang dimaksud sebagai bahasa Banjar. Mengatakan bahasa Banjar sebagai bahasa sederhana, sebenarnya tidak tepat, mungkin yang dimaksudkan sederhana adalah bahasa yang biasa digunakan kebanyakan masyarakat Banjar sehingga lebih mudah dipahami dan tidak rumit.

Adanya keinginan untuk mendatangkan konsultan bahasa (ilmiah) untuk membantu melatih penggunaan bahasa ilmiah dan pengetahuan umum, merupakan suatu sikap yang jujur, namun tidak harus penggunaannya sebagai suatu keharusan. Penggunaan bahasa yang berbau ilmiah tidak selalu tepat dan efektif, atau dapat memberikan kesan intelek, malah bisa menjadi penghalang dalam berkomunikasi, karena sebagai walikota Kota Banjarmasin, di mana masyarakatnya lebih cenderung masih menggunakan bahasa Banjar sebagai bahasa sehari-hari (bahasa ibu), akan lebih tepat bila berkomunikasi dengan bahasa yang dipahami oleh masyarakatnya; bahasa Banjar.

Sebagai seorang walikota Kota Banjarmasin sudah saatnya merasa bangga dapat menggunakan bahasa Banjar, baik dalam acara resmi maupun tidak resmi, karena bahasa Banjar masih menjadi bahasa pengantar sehari-hari masyarakat dan merupakan identitas Banjar yang masih digunakan secara luas. Kemampuan dalam berbahasa Banjar itulah yang harus terus ditingkatkan dan digunakan, apalagi saat ini muatan lokal sekolah adalah bahasa Banjar (dengan spanduk “Anda Memasuki Kawasan Bahasa Banjar” pada hari tertentu), yang tentu harus dimulai dari pemimpinnya untuk merasa bangga menggunakannya.

Apalagi perda tentang bahasa Banjar juga sudah ada. Sudah saatnya, seorang walikota (atau gubernur juga bupati) di Kalimantan Selatan, dalam masa jabatannya lebih banyak menggunakan bahasa Banjar sebagai bahasa pengantar, untuk menunjukkan adanya suatu kedekatan dengan pikiran masyarakat dalam pemaknaan kehidupannya dan menegaskan cara pandang budaya.

Untuk penggunaan bahasa yang berbau ilmiah, pada saat tertentu memang diperlukan, dan hal ini dapat dengan menggunakan bantuan staf khusus untuk membuatnya, seperti dalam mengikuti acara di luar daerah. Penggunaan bahasa Banjar dapat lebih menyelami apa dan bagaimana alam pikiran masyarakatnya, yang terkadang tidak dapat secara tepat dicarikan padanannya dalam bahasa lainnya, sehingga kemampuan bahasa Banjar harus dapat menjadi cara yang tepat dalam berdialog dengan masyarakatnya.

Begitu juga dengan istri walikota yang otomatis sebagai ketua PKK Kota Banjarmasin, lebih baik memulai menggunakan bahasa pengantar bahasa Banjar, baik dalam berkomunikasi maupun dalam berpidato atau menyampaikan kata sambutan dalam acara-acara di Kota Banjarmasin (kecuali keluar daerah), sebagai suatu kewajaran dalam berkomunikasi karena memang itu bahasa yang digunakan masyarakat dan kebanggaan dengan bahasa Banjar yang lebih dapat mendekatkan dalam pemaknaan atas cara pandang hidup dan berkehidupan di daerah yang berbudaya Banjar.

Dalam penggunaan bahasa Banjar, yang bukan bahasa sederhana sebagai suatu bahasa, harus dapat menggunakan dengan baik dan benar yang tentunya masih perlu bantuan ahli bahasa Banjar. Jangan sampai, di rak buku atau meja kerja walikota Banjarmasin tidak ada kamus bahasa Banjar, karena meskipun sudah terbiasa berbahasa Banjar masih diperlukan keberadaan kamus tersebut dalam membantu kata-kata yang sulit atau sudah tidak begitu dipakai lagi sehingga terasa sulit digunakannya.

Penggunaan bahasa Banjar dalam menjalankan pemerintahan di daerah di mana masyarakatnya masih menggunakan sebagai bahasa pengantar merupakan suatu upaya untuk menjaga bahasa tersebut mengalami kepunahan. Siapa lagi yang merasa bangga menggunakan bahasa daerah, tidak ada yang lain kecuali masyarakat daerah tersebut.

Jadi, menjadi walikota (siapapun yang terpilih) yang berbahasa Banjar merupakan suatu kesempatan yang langka dan penting untuk budaya Banjar, yang tidak harus merasa malu karena mempunyai kemampuan dalam bahasa Banjar, yang harus diberdayakan dengan menggunakannya sebagai bahasa pengantar walikota baik dalam acara resmi maupun tidak resmi. Untuk pengetahuan bahasa selain bahasa Banjar, tentu masih dapat dipelajari dan tetap perlu dipelajari, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana menggunakan bahasa tersebut tidak menjadi penghalang mendekati pemikiran masyarakatnya. Walikota Kota Banjarmasin (siapapun yang terpilih) adalah walikota yang berbahasa Banjar.

(Radar Banjarmasin, 8 Juni 2010: 3)

3 Responses

  1. wah semoga sukses ya,,,

  2. Hidup Bahasa Banjar!!!!

  3. “…….. Sebab mana tahu masyarakat kalau berbicara dengan bahasa Indonesia ilmiah, makanya saya tidak mempelajarinya,” tiba-tiba saya pesimis baca kutipan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: