PUISI (21): PERJALANAN (4)


Berontak meledak terserak-serak
Lelah mengeluh susah berpilu kesah
Bersimpuh terjebak merobek-robek
Leleh susuri duka tangis yang merambah
Bertekuk membujuk diri meski asa merangkak
Luluh lantak bersama tabiat tubuh

Masih ada terbengkalai kata
Berderet menatap meratapi titah
Melambai gerombolan penghisap tahta
Berkubang darah membungkam amarah
Melayari tumpukan duka melata
Berlalu pesta usai menjarah

Terhampar mulut menari perut
Lentur buncit membusung mekar
Terisi wabah saluran tersumbat
Lemah menancap pinta sekedar
Telah kering lupa waktu leher terjerat
Lunglai ukir kata lawan hingga akhir

Banjarbaru, 7 Juni 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: