BERAS BERKELAP KELIP DI LANGIT


Oleh: HE. Benyamine

Yulian Bjm Manan (Facebook, 6/7/10): Sembako dan beras semakin melambung harganya seakan tak terkendali lagi , listrik masih sering padam, masih adakah kepedulian para Pejabat di daerah ini….????!!! koq… sepertinya adem adem saja…..!!

Harga-harga kebutuhan pokok sudah dirasakan sebagai beban yang menggantung di pundak masyarakat, tambah berat meski takaran makin berkurang, yang lama kelamaan dapat menjerat leher-leher mereka sekaligus karena semakin tak terjangkau. Ungkapan Yulian Bjm Manan pada status facebook di atas begitu jelas menggambarkan kondisi masyarakat yang mengalami kesulitan dalam berhadapan dengan melambungnya harga beras dan sembako lainnya. Pemerintah (pejabat) daerah dipertanyakan kepeduliaannya, karena terkesan tidak melakukan tindakan untuk mengatasi melambungnya harga beras. Beras merupakan kebutuhan pokok utama masyarakat segala lapisan, dan sangat mempengaruhi pola kehidupan masyarakat kelas bawah, yang terkadang sudah cukup dengan adanya nasi (tambah sedikit garam) untuk makan.

Daerah Kalimantan Selatan, sebagai penerima penghargaan swasembada beras tingkat nasional, yang memang layak untuk berbangga atas jerih payang petani tersebut dalam meningkatkan produksi beras, tentu mempunyai persediaan beras yang cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduknya. Produksi beras secara keseluruhan Kalsel dinyatakan mengalami surplus, melebihi dari kebutuhan penduduknya akan beras, yang menunjukkan bahwa persediaan beras daerah tidak mengalami kelangkaan. Atas keberhasilan dalam swasembada beras tersebut, secara linier dikatakan terjadi peningkatan kesejahteraan petani karena keberhasilan dalam produksi yang sesuai bahkan melebihi dengan harapan, yang pada saat harga beras semakin melambung harganya seakan tak terkendali lagi (pinjam istilah Yulian Bjm Manan) tentu memberikan keuntungan yang lebih terhadap para petani.

Harga beras mengalami kenaikan hampir 100 %, seperti beras unus seharga Rp.5.500,- menjadi Rp.9.500,- yang telah menguras penghasilan warga masyarakat, seakan kondisi Kalsel sedang mengalami kelangkaan beras yang tidak sesuai dengan penghargaan yang diterima daerah ini dalam swasembada beras; dengan gema seolah telah mampu menjaga ketahanan pangan. Kenaikan harga beras hingga 2 (dua) kali lipat tidak serta merta dirasakan para petani sebagai berkah, karena mereka juga merasakan hal yang sama saat membeli beras di pasaran untuk kebutuhan konsumsi, yang bahkan memberikan beban tersendiri bagi kehidupan mereka karena melambungnya harga beras tersebut.

Warga masyarakat sedang menghadapi tingginya kebutuhan pokok, sedangkan pemerintah daerah tidak terlihat kepeduliaannya khususnya melalui instansi terkait, setidaknya bagaimana upaya pemerintah daerah dalam membantu mengendalikan harga beras tersebut di pasaran untuk meredam kenaikan yang sungguh fantastis bagi daerah yang mengalami surplus beras.

Elit politik (khususnya anggota dewan) juga tidak begitu tanggap dengan kondisi ini, mungkin karena mereka sudah hidup lebih dari cukup dan mendapat berbagai fasilitas penunjang yang lebih (khususnya jatah beras), sehingga mereka tidak begitu merasakan kondisi kenaikan harga yang bagi sebagian besar warga masyarakat sangat mempengaruhi penghidupan dan penurunan tingkat kesejahteraan.

Kenaikan harga beras (segala jenis) hampir 100% tersebut memaksa sebagian besar keluarga mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan gizi lainnya, yang tentu saja dapat mengganggu pemenuhan gizi keluarga, yang pada akhirnya dapat meningkatkan resiko penyakit sebagai masalah yang selalu menjadi kembarannya dalam keadaan seperti ini.

Pemerintah daerah sudah seharusnya mengambil tindakan segera untuk mengatasi keadaan yang memaksa warga masyarakat membeli beras 2 (dua) kali lipat, dan merasa malu menyandang predikat sebagai daerah swasembada beras jika tidak dapat mengendalikan harga beras pada tingkat yang tidak menjerat leher sebagian besar warga masyarakat. Hal ini tak ubahnya seperti bintang di langit yang berkelap kelip, tapi tidak pernah dapat dijangkau, seakan beras bertaburan di langit dengan berkelap kelip, sementara warga masyarakat butuh makan.

Jadi, ungkapan Yulian Bjm Manan di atas merupakan ungkapan sebagian besar warga masyarakat dalam menghadapi keadaan seperti mengalami kelakaan beras (bukan swasembada), dan mungkin hal demikian tidak berlaku bagi anggota dewan dan para pejabat. Namun demikian, kondisi ini sudah seharusnya menjadi perhatian yang serius dan segera dari para elit kekuasaan di daerah swasembada beras ini untuk bertindak layaknya sebagai pemerintah yang dipercayakan kepada meraka untuk mensejahterakan kehidupan masyarakat. Jikapun tidak mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, setidaknya tidak memberikan peluang kondisi yang memaksa warga masyarakat untuk membeli beras dengan harga 2 (dua) kali lipat. Bertindaklah segera wahai para pejabat dan elit kekuasaan daerah, sesuaikan antara predikat swasembada beras dengan harga beras untuk memenuhi kebutuhan warga masyarakat.

(Radar Banjarmasin, 12 Juli 2010: 3)

3 Responses

  1. +Dikaramputi buhannya pulang kita lak ai.
    -Nang mana kah dipilih, kaini jua kainanya nang ai.

  2. wah itulah tampilan sosok …….( disensor) …. ini pak … tergantung masing-masing individu kita untuk menyikapinya … apalagi di Ampah pak .. mati lampunya sesuka hati tanpa mengenal waktu … seperti lampu disco saja .. heee..

  3. oooh…. emang naik dr sananya tho….
    pantesan di bppn harganya luar binasa muahal…
    merk J*R Unus 5 kilo = 85 ribu…. ckckckckc….
    unus emang TOP deh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: