NOVEL ASAP BAGAI CATATAN AKTIVIS


Oleh: HE. Benyamine

Kepedulian terhadap lingkungan hidup dan permasalahan keserakahan dalam pemanfaatan sumberdaya alam dapat dilakukan melalui berbagai saluran, satu di antaranya lewat novel sebagaimana yang ditulis oleh Ersis Warmasnsyah Abbas dengan judul ASAP yang diterbitkan Penerbit Wahana Jaya Abadi, Bandung 2010, yang sekaligus merupakan ungkapan keberkaitan dengan keyakinan penulisnya bahwa “Alam adalah kehidupan, tanda-tanda KebesaranNya” yang tertulis pada sampul bukunya.

Novel ASAP bercerita tentang aktivitas kampus, khususnya warna-warni mahasiswa aktivis yang masih cenderung idealis dan bersemangat, yang mempunyai kepedulian dengan berbagai persoalan yang terhampar dengan jelas di hadapan mereka; yang dalam novel ini dipilih tentang kerusakan alam akibat pemanfaatan yang tidak memperhatikan kaidah keseimbangan dan kemanfaatan kepada kemajuan dan perkembangan daerah.

Bangunan cerita yang lurus, dengan kalimat pendek-pendek, dan gaya penulisan mengalir yang bercerita tentang masalah krusial saat ini kerusakan lingkungan dan terlalu sedikitnya kebermanfaatan sumberdaya alam yang seharusnya menjadi anugerah bagi daerah tapi pada kenyataannya nihil (h.1), yang digambarkan dengan lugas berikut: “Para pembabat itu tidak menanam sebatang pohon pun. Menebang, menebang, dan hanya menebang. Setelah itu mengeruk batu bara atau biji besi di bekasnya. Buahnya kebakaran di musim kemarau, banjir di musim hujan.” (h.3), membuat buku ini menarik untuk dibaca karena seperti suatu catatan perjalanan daerah tentang betapa keserakahan merusak semuanya. Lebih khusus lagi, seperti catatan aktivis mahasiswa Kota Banjarbaru, karena setting cerita seputar Kota Banjarbaru.

Konflik besarnya yang terjadi dalam novel ini antara perusahaan PMA (PT. CMC) dengan aktivis mahasiswa UPB (Universitas Pendidikan Banjarbaru) yang diwakili oleh anak-anak muda kritis yang tergabung dalam Markas Gerilya. Konflik ini sebenarnya terkesan terlalu menyederhanakan masalah, seakan hanya disebabkan perusahaan asing yang menyebabkan kerusakan alam Kalimantan, sehingga tidak terlihat adanya konflik antara aktivis mahasiswa dengan pihak pemerintah daerah. Dalam hal pemerintah daerah, dipandang sebagai pihak yang sangat pro lingkungan seperti pada gambaran tentang kegiatan penanaman 10.000 pohon di Mandiangin yang dibantu oleh gubernur Kalsel, bupati Banjar, dan walikota Banjarbaru dalam berbagai keperluan (h.58) dan jelas terlihat dalam ungkapan “Sepuluh tahun ke depan, hutan akan menjadi. Kembali seperti semula. Semoga kita terus memiliki Gubernur, Walikota, Bupati, dan petinggi-petinggi yang peduli lingkungan” (h.77). Mungkin begitulah pandangan penulisnya dalam melihat peran pemerintah daerah, yang ditegaskan sangat terikat dengan peraturan pusat.

Dalam pemilihan setting, yang hampir seluruhnya di daerah Kota Banjarbaru, yang menggambarkan dengan lengkap beberapa lokasi dan secara langsung mengangkat tempat rekreasi Mandiangin dengan segala fasilitasnya seperti dalam bab 8: Kolam Belanda (h.71) yang tergambar tidak terawat dan dibiarkan begitu saja, ada bangkai binatang, sehingga sulit mencari tempat duduk yang nyaman (h.71).

Keadaan setting yang digambarkan dalam novel ini secara garis besar sesuai dengan keadaan Kota Banjarbaru dan tempat-tempat lainnya, hanya ada satu yang cukup mengganggu cerita yaitu keberadaan Universitas Pendidikan Banjarbaru ( bab 7, h.61) yang digambarkan sebagai yang “setara universitas terbaik di Asia. UPB menempati peringkat 20 perguruan tinggi tingkat Asia. Selevel UI, ITB, UPI, dan Unibraw.” Dengan gambaran universitas yang sangat prestisius, yang rindang dan teduh dengan berbagai pohon dalam hutan taman, masjid kapasitas 10.000 dan pelatarannya saat Idul Adha digunakan sholat Id yang diikuti 50.000 warga Banjarbaru (h.65). Badan-badan dunia menjalin kerjasama dengan UPB, selain tentunya dengan pemerintah daerah (gubernur, bupati, walikota) Kalsel dan pemerintah pusat, hingga Uni Eropa membantu dana triliuan euro (sebanyak apa ya?) (h.62). Keberadaan UPB terlalu senjang dengan kondisi Kalsel umumnya dan Banjarbaru khususnya yang digambarkan dalam novel ini, mungkin di sini ada mimpi penulisnya tentang sebuah universitas dengan arsitektur Banjar dan modern sebagai kompensasi dari pengerukan sumberdaya alam.

Dalam hal kepedulian, hampir semua tokoh dalam novel ini digambarkan sebagai orang yang peduli dengan lingkungan hidup dan menyadari betapa sumberdaya alam hanya menjadi petaka bila tidak dikelola dengan bijaksana. Aktivis, pengusaha daerah, pemerintah daerah, aparatur penegak hukum (Sungai Pagu sebagai Kapolres Banjarbaru) dan para kalangan intektual yang diwakili dari UPB, semuanya mempunyai kepedulian yang sama terhadap keadaan daerah yang porak poranda akibat eksploitasi sumberdaya alam.

Secara keseluruhan, novel ini menarik untuk dibaca, dan merupakan catatan penulisnya yang berdiri sebagai aktivis mahasiswa yang tidak hanya berdiskusi dan bercuap-cuap tentang kepedulian pada daerah, tapi lebih jauh dalam hal berbuat dan meninggalkan kebiasaan mengeluh melihat keadaan daerah. Penulis menutup novel dengan kalimat, “Kehidupan adalah pembelajaran. Mereka bertekad membelajarkan diri memperjuangkan kebenaran”, yang menegaskan pandangan penulis untuk terus belajar dan berbuat. Anda perlu membaca, karena mungkin ada sebagian atau penggalan ceritanya adalah bagian dari kehidupan sendiri, yang terus diharuskan melewati proses tahap demi tahap.

(Radar Banjarmasin, 8 Agustus 2010: 5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: