SARAN UNTUK PUSTARDA BANJARBARU


Oleh: HE. Benyamine

Gedung Perpustakaan dan Arsip Daerah (Pustarda) Kota Banjarbaru sekarang terlihat sudah cukup megah, gedung baru yang cukup terawat dan nampak asri, dan saat pohon-pohon yang ditanam di sekitar gedung tumbuh besar tentu akan semakin teduh dan lebih memberikan suasana nyaman. Apalagi area gedung perpustakaan juga sudah disediakan hotspot untuk berkelana di dunia maya yang tentu dapat menjangkau melebihi keberadaan gedung baru tersebut. Di samping itu, pelayanan perpustakaan terus mengalami kemajuan dan peningkatan baik dari segi fasilitas maupun sentuhan keramahannya.

Gambaran tentang perpustakaan Kota Banjarbaru di atas, seakan mendapatkan penegasan ketika membaca wawancara dengan Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah (Pustarda) Kota Banjarbaru (Radar Banjarmasin, 29 Agustus 2010: 4), yang memperlihatkan adanya semangat dan kesungguhan dalam memajukan keberadaan perpustakaan untuk meningkatkan minat baca masyarakat ke arah menjadi kebutuhan membaca yang lebih membuka peluang untuk semua orang mendapatkan kesempatan membaca. Selain itu, wawancara tersebut juga sedikit banyak memperlihatkan strategi dan taktik dari perpustakaan dalam menjadikan perpustakaan sebagai jendela dunia dan meningkat minat baca; sehingga menarik seperti jendela/pintu Doraemon.

Berdasarkan wawancara tersebut ada beberapa hal yang menarik untuk diperhatikan yang mungkin karena keterbatasan ruang media tidak cukup untuk dijelaskan, berikut: (1) tergambar adanya penegasan dan komitmen dari Pemko Banjarbaru  terhadap keberadaan perpustakaan yang representatif dan mengikuti perkembangan zaman; meskipun anggaran bisa mengalami penurunan hingga 50 persen dari tahun sebelumnya dan pengadaan yang hanya diadakan setahun sekali, (2) kantor perpustakaan terlihat lebih bekerja ke dalam; yang mungkin sebagai langkah konsolidasi organisasi, (3) pemisahan ruang baca anak-anak dengan orang dewasa, yang sekaligus pemisahan buku-buku berdasarkan usia pembaca, dan (4) belum terlihat upaya menyentuh partisipasi masyarakat.

Perpustakaan daerah yang begitu penting keberadaannya, sudah seharusnya dan sepatutnya dapat melibatkan masyarakat untuk turut andil dalam mengupayakan tumbuh dan perkembangannya. Karena, keberadaan perpustakaan yang representatif dan maju merupakan kepentingan bersama. Pihak kantor perpustakaan perlu mendorong partisipasi masyarakat dengan berbagai upaya, seperti dalam hal pengadaan buku; misalnya dengan melakukan sosialisasi langsung kepada beberapa pihak khususnya mereka yang berada pada strata atas dalam tingkat kesejahteraan, yang memberi peluang ketersentuhan dan jalan yang selama ini sebenarnya mereka harapkan untuk dapat terlibat dalam kepedulian untuk kepentingan bersama tetapi karena lain hal mereka tidak sempat memikirkannya.

Upaya mendorong partisipasi masyarakat, pihak kantor perpustakaan tidak perlu merasa malu atau segan untuk memasang spanduk atau membuat pamflet yang intinya “Anda Bisa Menyumbang Buku, Perpustakaan Kota Banjarbaru Selalu Kekurangan Buku”, atau kata-kata lainnya seperti “Sumbangan Buku Anda Pada Perpustakaan Kota Banjarbaru Mengilhami Banyak Orang” atau bisa juga “ Sedekah Buku Anda Pada Perpustakaan Kota Banjarbaru Membuka Jalan Kemajuan Umat”, yang diharapkan dapat membangkitkan rasa bahwa masyarakat merupakan bagian penting dari keberadaan perpustakaan tersebut.

Adapun pemisahan ruang baca anak-anak dengan orang dewasa, untuk alasan bahwa anak-anak cenderung lebih ramai dari orang dewasa masih perlu dilihat kembali, karena alasan ini bisa saja menjadikan anak-anak akan tidak mengenal perilaku di dalam ruang perpustakaan. Begitu juga alasan agar anak-anak tidak bisa mengakses bacaan yang bukan untuk umurnya, cenderung membatasi minat baca anak-anak yang terkesan berlebihan, karena di ruang baca yang katanya untuk orang dewasa banyak ilmu pengetahuan yang tersedia, hal ini seharusnya dapat menjadikan mereka lebih tertarik untuk membacanya. Jika, alasan bacaan sesuai umurnya, lalu di tempat anak-anak banyak buku komik, apakah sudah diperhatikan komik-komik tersebut, karena sebagian dari komik tersebut juga tidak layak untuk dibaca anak-anak. Apalagi, ada larangan anak-anak (berseragam SD) masuk ke ruang perpustakaan yang katanya untuk orang dewasa dengan selalu mengarahkan mereka ke ruang untuk anak-anak, merupakan suatu kebijakan yang keluar dari tujuan perpustakaan itu sendiri.

Sedangkan kantor perpustakaan yang terlihat lebih bekerja ke dalam atau katakan sebagai konsilidasi, cenderung memisahkan keterlibatan masyarakat dalam kemajuan perpustakaan, meskipun hal itu menjadikan pelayanan semakin prima, tetapi menjadi lingkup yang terbatas dan kalangan tertentu saja. Berbagai lomba yang diselenggarakan kantor perpustakaan Kota Banjarbaru merupakan suatu langkah dalam melibatkan masyarakat, atau paling tidak sudah mendekatkan masyarakat pada perpustakaan, namun masih cenderung ke dalam, masih perlu bekerja keluar yaitu dengan menyentuh partisipasi masyarakat. Seperti kedatangan rombongan anggota dewan Kota Banjarbaru, tidak hanya terhenti dengan keterheranan dan kekaguman tapi bagaimana mereka dapat menjadi bagian aktif dalam memperjuangkan kemajuan perpustakaan, karena tempat ini dapat dinimati oleh semua kalangan. Perpustakaan juga dapat menyelenggarakan diskusi buku, mungkin sebulan sekali, yang melibatkan kalangan pendidik, pelajar, dan mahasiswa serta masyarakat umum baik  menjadi nara sumber maupun peserta.

Berkenaan dengan komitmen Pemko Banjarbaru, dengan berdirinya gedung perpustakaan yang baru, tentu sudah tidak perlu diragukan lagi. Namun demikian, berkenaan dengan anggaran untuk perpustakaan perlu terus diingatkan atas komitmen tersebut, karena kemajuan perpustakaan berhubungan dengan sesuatu yang sangat dinamis dan cepat perkembangannya. Pemko Banjarbaru sudah seharusnya dapat memprioritaskan anggaran perpustakaan, jikapun sedang mengalami penurunan anggaran belanja tidak seharusnya pemerintah kota sampai tega juga memotongnya hingga 50 persen, seakan tidak ada pos yang lain yang dapat dikurangi tanpa harus mengurani anggaran perpustakaan. Di sini, peranan anggota dewan Kota Banjarbaru seharusnya dapat memperjuangkan anggaran yang layak, karena anggota dewan seharusnya termasuk yang sangat berkepentingan dengan buku. Jadi, kemajuan perpustakaan Kota Banjarbaru merupakan kebanggaan bersama untuk kepentingan bersama dan sudah seharusnya diperhatikan bersama.

(Radar Banjarmasin, 2 September 2010: 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: