MEMAKNAI LAILAH AL-QADR


Oleh: HE. Benyamine

Bulan Ramadhan 1431 H yang sebentar lagi mengikuti kepatuhan pada ketentuan Allah, berganti dengan bulan berikutnya, yang meskipun demikian tetap saja membuat kesedihan bagi umat muslim atas kepergiannya. Bulan Ramadhan juga disebut syahral-Qur’an, karena di bulan inilah diturunkannya Al-Qur’an yang menjadi petunjuk bagi manusia, penjelas, dan pembeda. Al-Qur’an sebagai bacaan yang diperuntukkan bagi manusia, yang menjadi pelita dalam mengarungi kehidupan di dunia dan  jalan keselamatan di akhirat.

Al-Qur’an diturunkan ke dunia pada bulan Ramadhan di suatu malam yang disebut Lailah al-Qadr, malam yang penuh kemuliaan. Sehingga, setiap bulan Ramadhan, setiap muslim begitu mengharapkan dan menginginkan mendapatkannya pada salah satu malamnya karena penuh kemuliaan, dengan memperbanyak ibadah dan melakukan amal perbuatan yang mulia. Pemahaman atas Lailah Al-Qadr berikut: (1) penetapan dan pengaturan, yang dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi kehidupan manusia, yang secara individu mengharapkan kemuliaan pada dirinya, (2) kemuliaan, malam mulia yang tiada bandingnya, khair min alf syahr (lebih baik dari seribu bulan), karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Qur’an yang menjadi petunjuk dari segala kemuliaan yang dapat diraih di dunia dan akhirat, dan (3) sempit, karena pada malam itu banyak malaikat dan Jibril (ruh) yang turun atas izin Allah untuk mengatur segala urusan.

Malam diturunkannya Al-Qur’an menjadi malam mulia yang lebih baik dari seribu bulan, merupakan suatu petunjuk kepada umat Islam bahwa betapa Al-Qur’an merupakan bacaan mulia bagi manusia yang harus menjadi pegangan hidup dan kehidupan, karena malam yang terpilih sebagai malam diturunkan Al-Qur’an kemuliaannya luar biasa, tentu apalagi Al’Qur’an itu sendiri. Di samping itu, Al-Qur’an setelah Lailah al-Qadr, hadir secara utuh dalam bentuk kitab suci yang setiap saat dapat dibaca oleh umat Islam, tanpa harus menunggu waktu tertentu. Betapa beruntungnya umat Islam yang mendapatkan kitab suci, yang mana Allah sendiri yang menjaganya, yang kehadirannya menjadikan suatu malam menjadi lebih baik dari seribu bulan.

Mengharapkan dan menginginkan Lailah al-Qadr pada bulan Ramadhan, dapat dimaknai sebagai peneguhan untuk kembali kepada Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an sudah ada dihadapan dan dapat langsung disentuh, yang tentu sebenarnya tiada penghalang untuk membacanya, untuk dipelajari, tidak hanya ditempatkan di rak buku atau di atas meja untuk jadi pajangan yang akhirnya hanya sempat membersihkannya debu saja. Membaca Al-Qur’an sudah mendapatkan pahala, meskipun dengan tertatih-tatih, apalagi bila diikuti upaya memahami, menghayati, dan mengamalkannya.

Sebagaimana Lailah al-Qadr dipahami sebagai malam penetapan dan pengaturan, maka kandungan Al-Qur’an sudah mengandung berbagai penetapan dan pengaturan dalam hidup dan kehidupan manusia, bahkan menjadi penetapan dan pengaturan yang rahmatan li al’alamin, yang dimudahkan dalam penyampaiannya. Diturunkannya  Al-Qur’an pada suatu malam di bulan Ramadhan, yang pada bulan ini diwajibkan berpuasa bagi orang-orang beriman, sebagai pengendalian dari hawa nafsu, merupakan suatu petunjuk bahwa Al-Qur’an merupakan sumber kebenaran bagi manusia. Dalam Q.s. Al-Mu’minun:71, “Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al-Qur’an) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu”, yang begitu jelas agar manusia senantiasa tidak kebenaran yang menurutkan hawa nafsunya. Betapa, hanya kebinasaan bila kebenaran yang diagungkan manusia menuruti hawa nafsunya.

Begitu juga dengan Lailah al-Qadr dipahami sebagai malam penuh kemuliaan, maka kandungan Al-Qur’an merupakan kemuliaan itu sendiri, yang tidak hanya dapat diraih pada malam tertentu tetapi dapat dijadikan sumber kemuliaan disetiap waktu. Bacaan yang merupakan kebanggaan ummat Islam yang didatangkan Allah, yang memberi petunjuk dan menjadi sumber dari segala kemuliaan yang dapat di raih di dunia dan menjadi bekal di akhirat. Melalui kewajiban puasa di bulan Ramadhan, bulan turunnya Al-Qur’an yang karenanya suatu malam menjadi lebih baik dari seribu bulan, secara langsung menyadarkan betapa kebenaran itu ada dalam Al-Qur’an sebagai petunjuk, penegas, dan pembeda yang apabila dibaca, dipahami, dihayati, dan diamalkan akan menghadirkan kemuliaan karena menuruti kebenaran yang didatangkan Allah sebagai kebanggaan tersebut, bukan menuruti kebenaran dari hawa nafsu.

Jadi, selain mengharapkan dan menginginkan menggapai Lailah al-Qadr pada suatu malam yang penuh kemuliaan di bulan Ramadhan sebagaimana yang sering dipahami, juga perlu untuk memaknai Lailah al Qadr sebagai suatu jalan kembali kepada kebenaran yang terkandung dalam Al-Qur’an atau dengan kata lain kepada Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan kebanggaan bagi ummat Islam yang didatangkan Allah untuk menjadi petunjuk, penegas, dan pembeda yang di dalamnya sudah terdapat berbagai ketentuan dan ketetapan, sumber kemuliaan, dan  jalan kebahagiaan hidup.  Al-Qur’an sudah ada dalam jangkauan, yang dapat dibaca kemudian dipahami, dihayati, dan lalu diamalkan yang tentunya merupakan suatu kemuliaan yang tergapai dan menjadi berbagai sumber dari segala kemuliaan yang dapat diraih di dunia maupun untuk bekal di akhirat.

Lailah al-Qadr mengingatkan pada keberadaan Al-Qur’an, sumber segala kemuliaan yang seharusnya mulai dibaca dan terus dibaca sejak keingingan mendapatkan malam seribu bulan, karena bacaan mulia itulah yang menjadikan Lailah al-Qadr menjadi lebih baik dari seribu bulan. Dengan menyadari keberadaan Al-Qur’an, dan sebagai ummat Islam yang percaya dengan keyakinan bahwa kitab suci tersebut sebagai wahyu Allah, yang kemudian menjadikannya bacaan untuk mencegah kebenaran yang menuruti hawa nafsu, yang dengan sendirinya menambah pemahaman atas kandungannya, maka kemuliaan hidup dan kehidupan serta akan mengiringi pemahaman umat Islam terhadap segala penetepan dan pengaturan Allah. Menyadari keberadaan Al-Qur’an menjadi bacaan mulia, kemudian memahami, menghayati, dan mengamalkannya, adalah memaknai menggapai Lailah al-Qadr, yang berlanjut pada bulan-bulan berikutnya dengan terus membaca Al-Qur’an hingga dipertemukan kembali pada bulan Ramadhan berikutnya.

3 Responses

  1. artikelnya sangat memotivasi sekali….
    minal ‘aidin wal fa idzin,…..
    selamat hari raya ‘idul fitri….mohon maaf lahir batin….

    HEB: Terima kasih telah berkunjung … maaf lahir batin, selamat Idul Fitri 1431 H.

  2. selamat idul fitri juga, bang ben, minal aidin walfaizin, mohon dimaafkan segala kesalahan dan kekhilafan saya selama ini.

  3. wow mantab sekali uraianya bang, terima kasih ya. mohon maaf lahir batin pak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: