PERINGATAN KERAS DARI TRAGEDI KINARUM


Oleh: HE. Benyamine

Air bah (Sabtu, 11/9) yang menghempaskan tempat wisata Kinarum di Kecamatan Upau, Kabupaten Tabalong, dengan korban 7 orang tewas,  merupakan peristiwa yang mengenaskan, di saat masyarakat (terutama sekitar) merayakan hari raya Idul Fitri 1431 H pada hari kedua; yang sebagiannya mengunjungi tempat wisata-wisata seperti Kinarum ini, mengalami kejadian yang memilukan dan tragis. Sungai yang indah mengalir kejernihan air dengan kenangan tragis, suasana keriangan yang menyisakan duka. Banjir bandang yang memang tabiatnya tiba-tiba menyapa dan menyeret segala yang dilaluinya, yang seakan tiba-tiba menghadirkan tragedi yang menghentak dan mencapai klimaks kesedihan. Namun, banjir bandang sebenarnya membawa pesan tentang kerusakan dan kesakitan hutan di hulu sungai yang tidak kalah menyedihkannya seakan air bah itu tidak berbeda dengan tetesan air mata para korban yang tidak dapat terbendung lagi.

Bencana air bah pada hari yang sama juga terjadi di tempat wisata Tumpang Dua, Kabupaten Kotabaru, yang sempat menyeret warga masyarakat yang sedang berwisata di tempat itu, tetapi tidak ada korban meninggal sebagaimana yang terjadi di Kinarum (Radar Banjarmasin, 14 September 2010: 1). Kedua bencana air bah ini harus dilihat sebagai suatu kejadian yang memperingatkan semua kalangan untuk menyadari adanya ancaman yang sewaktu-waktu dapat terjadi pada tempat-tempat di daerah aliran sungai (DAS), sehingga berbagai pemangku kepentingan sudah mulai memperhatikan dan mempersiapkan berbagai hal untuk mengurangi segala akibat buruk pada tingkat yang paling rendah, terutama korban jiwa yang tidak dikehendaki bersama.

Pernyataan Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kalsel yang akan mempelajari penyebab kejadian tragedi Kinarum dari segi kerusakan lingkungan (Radar Banjarmasin, 14 September 2010: 6) terkesan merupakan sikap yang tidak ingin gegabah dalam menyimpulkan sesuatu kejadian, namun sikap ini seakan tidak menghiraukan pengungkapan yang bersangkutan bahwa saat ini (Koran, 3 Maret 2010) sebanyak 13 DAS di Kalsel kondisinya kritis karena berubahnya kawasan sekitarnya. Kerusakan kawasan hutan adalah kenyataan, yang membuat sebagian area resapan air berubah menjadi semak belukar.  Hal ini juga diungkapkan Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Pemprov Kalsel (Koran, 3 Maret 2010) yang menyatakan bahwa 10 kabupaten di Kalsel terancam banjir, karena ekosistem kawasan tersebut mengalami kerusakan khususnya daerah resapan yang rusak parah. Dengan kritisnya 13 DAS dan kerusakan parah daerah resapan yang sudah disadari dan berdasarkan data tersebut, seharusnya menjadi peringatan dan acuan bagi berbagai pihak terutama instansi terkait untuk melakukan tindakan dalam upaya pencegahan bencana.

Dengan menyatakan 13 DAS di Kalsel dalam kondisi kritis seharusnya menyadarkan pihak terkait untuk terus memperhatikan segala hal yang berhubungan dengan sungai-sungai tersebut, termasuk tempat-tempat wisata seperti Kinarum dan Tumpang Dua, dengan melakukan berbagai upaya tindakan peringatan dini, karena kondisi kritis yang disadari merupakan ancaman dapat sewaktu-waktu menjadi bencana. Tragedi Kinarum membuktikan apa yang telah diungkapkan tentang kondisi kritis DAS tersebut. Hal ini harus menjadi peringatan keras bagi pemerintah daearah untuk tidak mengabaikan apa yang sudah mereka ungkapkan sendiri, kondisi kritis DAS, yang juga dapat mengancam hidup dan kehidupan warga masyarakat yang mendiami daerah aliran sungai tersebut. Apalagi hujan yang terus menerus berlangsung dengan kondisi DAS kritis, seperti suatu sinergi yang luar biasa terjadinya bencana alam.

Tindakan pemerintah daerah harus segera dilakukan dalam penanggulangan dan pencegahan bencana alam, jika tidak  hal ini sama saja bahwa pemerintah daerah menyadari akan kondisi kritis DAS yang ada tetapi membiarkan ketidaksiapan dalam menghadapi bencana alam yang menghadirkan tragedi-tragedi dalam sejarah banua ini. Tanda-tanda alam dapat dirasakan dan diketahui, tetapi jika pemerintah daerah tidak melakukan tindakan yang semestinya, maka semua itu tidak berarti kecuali bersiap untuk menguatkan diri dalam menghadapi malapetaka. Pencegahan bencana alam harus segera dipersiapkan, karena sebagian dari warga masyarakat merupakan bagian dari kerentanan khususnya mereka yang tinggal di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) yang kritis tersebut.

Jadi, kondisi kritis 13 DAS dan parahnya kerusakan kawasan resapan harus menjadi perhatian semua pihak. Pemerintah daerah dengan data yang tersedia dan fenomena hujan yang terus mengguyur, harus benar-benar melakukan tindakan nyata dengan terus melakukan sosialisasi dan persiapan dalam menghadapi segala kemungkinan untuk menekan segala resiko hingga tidak ada korban dan meminimalkan segala kerugian. Masyarakat khususnya yang berada di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) juga harus mengetahui (diberi tahu) tentang kondisi kritis 13 DAS tersebut, sehingga pada tingkat terbawah sudah mempersiapkan berbagai tindakan dalam mengantisipasi bencana alam, seperti banjir yang sekarang merendam Barabai. Pemerintah daerah sudah tidak lagi saatnya mengatakan akan mempelajari atau mencari penyebab bencana yang terjadi, atau terus melakukan kelalaian dan pengabaian pada data-data yang ada,  yang dibutuhkan adalah tanggap dan tindakan nyata untuk bersegera melakukan berbagai upaya dalam mencegah bencana menjadi tragedi yang mengenaskan dan yang disesalkan. Peringatan sangat keras dari tragedi Kinarum dan peristiwa Tumpang Dua, bahwa kerusakan alam dan lingkungan hidup sewaktu-waktu dapat berubah menjadi malapetaka dan bencana yang tragis.

(Radar Banjarmasin, 16 September 2010: 3)

6 Responses

  1. Bujur tu. Marga kita jua asalnya. Jadi nang bagusnya kita barataan harus mamparhatiakan lingkungan.

  2. rasanya bencana air bah di daerah kalimantan barusekarang ini yang sangat besar, betul bahwa ini adalah peringatan telah terjadi kerusakan alam

  3. udah download video nya kah pa ?

  4. Assalaamu’alaikum Wr Wb

    Satu kejadian yang sungguh memilukan saat hari lebaran masih terasa yang sepatutnya dikenangi dengan riang dan bahagia. Malang itu tidak pernah berbau dan tiada siapa yang mengetahui tanda-tanda kemunculan banjir yang tiba2 melanda lantaran hujan leabt melanda terutama di kawasan wisata yang berpaksikan sungai dan air terjun.

    hal seperti ini kemungkinan berlaku disebabkan kemusanahan alam sekitar di bahagian hulu sungai yang membawa kepada aliran yang kurang bersahabat untuk dibendung arah tuju yang sesuai dengan alirannya. Jika sistem perparitan atau sungai yang semakin mencetek, bisa sahaja tidak dapat menampung kepadatan paduan air yang semakin melimpah yang akhirnya membawa kepada tragedi yang tragis.

    Semoga pihak pemerintah bisa melakukan sesuatu untuk memgelakkan kejadian yang sama berlaku pada masa depan.

    Saya sangat suka membaca bahasa dan gaya fikir dalam setiap tulisan mas Ben. mantap dan bagus. salut dan syabas. Salam mesra dari Sarikei, Sarawak.

  5. duh jadi ngerasa ga enak.
    *membantu lewat do’a deh… drpd ga sama sekali*

  6. kjadian thoe gra” TUHAN mrah am kta …
    mngkin pra rmja yg libran k’kinarum itu ng’lkuin hal” yg d’lrang shingga TUHAN mrah dan mnmpa kn bncna tsb …..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: