PENERBITAN BUKU YANG MENGHARUKAN


Oleh: HE. Benyamine

Pemandangan yang mengejutkan saat melihat beberapa buku yang ditulis para penulis dari Kalimantan Selatan terpampang di rak-rak yang ada di dalam toko buku. Mengejutkan sekaligus mengharukan. Buku-buku itu bersanding dengan buku-buku terbitan lainnya, namun ada perbedaan yang dapat diibaratkan seperti bumi dan langit dalam kemasannya. Toko-toko buku yang memberikan tempat untuk buku-buku dari penulis banua tersebut masih tergolong toko kecil yang hanya ada pada kota tertentu saja.

Buku-buku yang mengejutkan itu  ditawarkan dalam bentuk cetakan ala kadarnya, yang tidak memiliki ISBN, dan harganya seperti buku dengan kemasan dengan kualitas percetakan yang baik dan menarik. Buku-buku yang mengharukan itu merupakan tulisan dari para penulis dari Kalsel yang secara kualitas isi tidak kurang dari buku-buku dengan kemasan kualitas percetakan, yang begitu terasa ada semangat untuk menghadirkan karya yang dapat dibuat oleh urang banua sendiri. Sungguh mengejutkan dan mengharukan memandang buku-buku tersebut, ada bayangan yang mengiringi tentang aral dan duri yang dihadapi para penulis buku itu dalam mempublikasikan bukunya, tentang pembuka jalan pencerahan dan kemajuan yang kesulitan dalam menyebarkan karya-karya dan daya cipta.

Beberapa buku yang terlihat di toko buku yang ada di kota Banjarbaru adalah tulisan Tajuddin Noor Ganie (lebih 25 buku) dan Hamami Adaby (lebih 10 buku) yang dicetak dengan seadanya dan tidak dilengkapi ISBN atau dapat dikatakan sebagai buku photo copy. Selain kedua penulis tersebut masih ada penulis lainnya melakukan hal yang sama. Jika memperhatikan isi tulisan buku-buku kedua penulis (pengarang) itu, maka ada hal yang selama ini terabaikan dan dipinggirkan juga bahkan dikalahkan oleh ketidakpedulian bersama. Oleh karena itu, keadaan ketidakpedulian bersama sudah saatnya dicairkan bersama untuk bergerak secara bersama dalam membuka peluang dan kesempatan lahirnya karya-karya tulisan yang lebih banyak dan berkualitas di Kalimantan Selatan, Mereka yang sudah mempunyai beberapa naskah yang siap dicetak menjadi buku harus ada yang membukakan peluang dan kesempatan dicetak menjadi buku yang layak kemasan.

Memperhatikan buku-buku kedua penulis itu yang diterbitkan bagaikan buku photo copy yang disandingkan dengan buku-buku percetakan yang ada di rak toko buku, seakan keberadaannya menampakkan pesan bagaimana kesulitan yang dialami para penulis (pengarang) dalam mempublikasikan hasil karya, selain bahwa adanya kesungguhan dan tekad untuk terus berkarya dengan cara bagaimanapun. Buku-buku itu telah mengatakan kepada yang melihatnya bahwa kemudahan teknologi percetakan saat ini tidak dapat membantu para penulis (pengarang) untuk memudahkan publikasi hasil karya mereka.

Padahal berdasarkan pengalaman Harie Insani Putera dalam menggeluti percetakan buku, kemudahan teknologi percetakan saat ini sangat membantu dan memudahkan untuk menerbitkan buku-buku hasil karya warga masyarakat. Menurutnya, perizinan dan mendapatkan ISBN begitu mudah dengan biaya pengurusan yang murah, dan selanjutnya penerbitan dan percetakannya  juga mudah atau dengan kata lain tidak perlu lagi mencetak buku ke luar daerah karena sudah ada yang sanggup melakukannya di daerah ini.

Menurut Harie Insani Putera, sudah saatnya Dewan Kesenian Daerah kabupaten/kota untuk berupaya memiliki percetakan sendiri, sehingga dapat memberikan kemudahan bagi para penulis (pengarang) di daerah masing-masing dalam menerbitkan hasil karyanya. Di samping itu, seandainya ada penulis (pengarang) yang sanggup membiayai penerbitannya sendiri tidak perlu lagi melakukannya di luar daerah, sehingga uang yang biasanya dibawa ke luar daerah tidak lagi dan dapat beredah di daerah saja. Dengan mempunyai percetakan sendiri, Dewan Kesenian Daerah dapat lebih leluasa dalam mencetak hasil karya para penulis (pengarang) dengan memperhatikan kualitas tulisannya. Beberapa aturan dapat dibuat antara para penulis dengan Dewan Kesenian Daerah dalam menerbitkan buku-buku mereka.

Dengan mempunyai mesin percetakan sendiri, Dewan Kesenian Daerah dapat langsung memilih naskah-naskah yang telah diseleksi terlebih dulu untuk diterbitkan. Dewan Kesenian Daerah dapat menjadi penghubung dengan berbagai pihak dalam pendanaannya, antara para penulis (pengarang) dengan mereka yang kemungkinan tidak terbebani jika sebagian rejekinya disisihkan untuk pembiayaan penerbitan buku. Pengaturan tentang hasil dari penerbitan buku dapat dibicarakan dengan para penulis (pengarang), agar masing-masing pihak tidak ada yang dirugikan.

Penerbitan buku yang dilakukan di daerah sendiri tentu lebih memberikan berbagai keuntungan, diantaranya: (1) biaya penerbitan buku berputar di daerah yang bersangkutan, (2) membuka peluang dan kesempatan pekerjaan terampil dalam penerbitan dan percetakan buku, (3) di setiap buku yang diterbitkan tercantum nama daerah, (4) menghemat biaya produksi dan transportasi, (5) mendorong penulis/pengarang lebih produktif dalam berkarya karena terlihat dan dekat kemudahan untuk menerbitkan karya mereka, dan (6) sebagai jawaban atas semakin meningkatnya kebutuhan akan bacaan.

Jadi, pemandangan yang mengejutkan dan mengharukan atas buku-buku yang dicetak seadanya (ala photo copy)  pada era yang sudah betapa terhampar kemudahan dalam penerbitan tidak perlu terjadi lagi di Kalsel, apalagi dari segi isi tidak jauh berbeda dengan buku-buku yang diterbitkan penerbit, sehingga pada pandangan pertama terhadap karya-karya tersebut terlihat menarik karena kemasan memang layaknya sebuah buku. Penerbitan buku ala photo copy sebenarnya menunjukkan kemandirian atas berkarya yang sekaligus mengharukan memandangnya terpampang di rak-rak buku toko,  juga sekaligus memperlihatkan masih adanya semangat untuk terus berkarya dan berbuat untuk memperkuat pondasi peradaban dan memacu kemajuan lewat buku.

(Radar Banjarmasin, 3 Oktober 2010: 5)

5 Responses

  1. bagaimana kalo radar banjar, jadi pelopor bikin divisi percetakan untuk buku2 lokal gitu, pak ?🙂

  2. saya dan seorang teman, beberapa waktu lalu juga mencoba menerbitkan buku kumpulan cerpen, judulnya diambil dari cerpen saya “Rahasia Halaman Belakang”. Karena mencetak di percetakan kecil, hasilnya sangat mengecewakan secara. Ya mirip fotocopian. Saya jadi agak malu untuk membagikannnya. Padahal rencananya buku kumpulan cerpen tersebut akan kami sebarkan ke sekolah-sekolah untuk perpustakaan. Untungnya, Bapak Bupati cukup merespon positif, sehingga sebagian uang biaya percetakan digantikan oleh beliau dalam bentuk bantuan dana.
    Rencana kami menjual buku tersebut melalui toko buku-toko buku kecil yang ada di daerah ini jadi batal mengingat ongkos cetak sangat tidak sesuai dengan penampilan buku (buku tersebut juga tidak memiliki ISBN (International Serial Book Number) dari perpustakaan nasional.

  3. Alhamdulillah saya juga membaca tulisan Pian di Radar Minggu kemaren

    (memang betul2 mengharukan & memprihatinkan,Pak..)
    harusnya pemerintah Kalsel juga punya percetakan yang betul2 bisa menaungi para sastrawan/penulis agar bisa selayaknya berkarya.

  4. Mungkin penulis2 KalSel memang harus lebih meningkatkan lagi kualitas tulisannya, biar diterima oleh penerbit2 ternama, syukur kalau bisa best seller.
    Dan kita tak perlu selalu menyalahkan pemerintah.

  5. Saya setuju dengan Harie Insani Putera, yang mengharapkan agar DKD kabupaten membentuk percetakan sendiri.

    Kalau ‘hulu’ dan ‘hilir’ nya terlalu jauh.. susah mau berkembang, buku-buku di daerah itu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: