BAZAR SAMPAH KERING PELAJAR


Oleh: HE. Benyamine

Permasalahan sampah menjadi beban yang berat bagi daerah, karena berhubungan dengan anggaran untuk pengelolaan dan budaya sadar sampah masyarakat yang masih perlu ditingkatkan untuk dapat lebih berpartisipasi dalam mengurangi sampah dari sumbernya. Pengelolaan sampah masih dibebankan kepada instansi terkait, yang seakan semuanya tentang sampah menjadi urusan instansi tersebut.

Pemerintah daerah juga masih mengamini pandangan masyarakat bahwa pengelolaan sampah merupakan urusan instansi terkait, sehingga masyarakat lebih cenderung didekati dengan himbauan untuk membuang sampah pada tempatnya dan pada waktu tertentu. Masyarakat seperti diarahkan hanya untuk membuang saja, yang penting pada tempatnya dan waktu petugas kebersihan dengan armada angkutannya bertugas.

Pendekatan terhadap sampah harus mampu mengarahkan masyarakat untuk terlibat dalam upaya mengurangi pada sumbernya, yang paling dekat dengan aktivitas mereka sendiri. Mengurangi sampah dari sumbernya dapat dilakukan dari tingkat keluarga. Caranya dengan mulai memisahkan antara sampah kering dan basah di masing-masing rumah tangga. Namun, biasanya sangat sulit diterapkan pada tingkat rumah tangga karena berbagai faktor kebiasaan dalam memperlakukan sampah dan masih terpeliharanya pandangan bahwa sudah ada instansi terkait yang menanganinya,  sehingga melakukan pemisahan sampah dalam rumah tangga dianggap seperti menambah pekerjaan saja.

Memperhatikan para pemulung yang setiap hari mengumpulkan sampah-sampah kering (anorganik), sebagai mata pencaharian untuk menopang kehidupan mereka, menunjukkan bahwa sampah tersebut mempunyai harga tertentu yang dapat menghidupi keluarga mereka terlepas pekerjaan sebagai pemulung adalah pekerjaan sampingan dan penghasilannya sebagai tambahan saja. Apa yang dilakukan para pemulung ini dapat dijadikan rujukan bahwa sampah tidak berarti sebagai barang yang hanya untuk dibuang, tetapi merupakan barang yang dapat dimanfaatkan dalam bentuk lain, sebagaimana cara yang sering dianjurkan untuk melakukan tindakan 3R (reduce, reuse, dan recycle).

Pemerintah daerah melalui dinas terkait (kebersihan dan pendidikan) harus merubah pandangan masyarakat terhadap sampah yang biasanya hanya untuk dibuang, pada tempat dan waktu tertentu, kearah sadar sampah yang memandang sampah sebagai hasil aktivitas manusia yang masih mempunyai manfaat dalam bentuk lain dan mengurangi resiko pencemaran lingkungan. Membudayakan sadar sampah harus dimulai dari usia dini, karena terlalu sulit untuk merubah kebiasaan orang dewasa, untuk melakukan perubahan dalam kebiasaan dalam memperlakukan sampah dengan mendekatkan nilai kebermafaatan sampah selain barang yang tak berguna dan hanya dibuang saja.

Untuk memulai membudayakan sadar sampah, para pelajar (bisa dari tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama) harus mulai dilibatkan dalam penanggulangan sampah, melalui program sekolah untuk menanamkan sadar sampah, dengan melakukan kegiatan yang melibatkan para pelajar dalam aktivitas yang terencana dan menyenangkan.

Dalam upaya pengelolaan sampah yang melibatkan para pelajar sebagai bagian pembudayaan sadar sampah, dinas kebersihan dan dinas pendidikan bekerja sama dengan pihak sekolah dapat melaksanakan program sadar sampah dengan melibatkan para pelajar di wilayah masing-masing. Dengan melibatkan para pelajar secara langsung dalam pengelolaan sampah yang dimulai dari rumah masing-masing yang dengan sendirinya melibatkan keluarga mereka, sehingga para pelajar sudah diarahkan untuk melakukan pemisahan sampah organik dengan anorganik di rumah mereka masing-masing. Program ini dirancang untuk membudayakan perilaku sadar sampah, yang di mulai dari rumah dan kemudian dilaksanakan kegiatan pasar sampah kering di sekolah masing-masing pada setiap hari Sabtu.

Pada kegiatan bazar sampah kering pelajar yang (misal) dilaksanakan pada setiap hari Sabtu, para pelajar yang dalam seminggu sudah melakukan kegiatan pemisahan sampah di rumah masing-masing, pada hari bazar ini diminta untuk membawa sampah anorganik (kering); pelastik, botol, kaleng, untuk melakukan transaksi  dengan para pemulung yang sengaja diundang atau dengan pihak pemerintah daerah melalui dinas terkait. Transaksi yang dilakukan pada bazar sampah kering pelajar merupakan pembelajaran tentang bagaimana berbisnis dan menumbuhkan kreativitas dalam memandang barang seperti sampah dapat bermanfaat dalam bentuk lain. Apa yang dilakukan April Rina, seorang guru Seni Budaya di Banjarbaru, yang mengarahkan anak didiknya untuk membuat kerajinan tangan dari barang bekas menjadi barang yang bermanfaat sebagai bagian dari perubahan pandangan terhadap sampah yang sejalan dan dapat menjadi bagian dari kegiatan bazar tersebut.

Kegiatan bazar sampah kering pelajar yang dilaksanakan seminggu sekali dapat bekerjasama dengan pihak perusahaan misalnya perusahaan produk makanan yang menggunakan produk plastik untuk kemasan produknya, dan juga dengan perguruan tinggi (misal dengan teknik lingkungan Unlam atau fakultas lainnya), sehingga lebih dapat mensinergikan berbagai pihak dalam gerakan sadar sampah.

Dalam kegiatan bazar tersebut, para pelajar juga dapat diarahkan untuk beramal dalam bentuk sampah kering tersebut, untuk menumbuhkan kepedulian sosial dengan memberikan sesuatu yang mereka usahakan sendiri dari rumah; dari  memisahkan sampah organik dengan anorganik yang kemudian sampah anorganiknya diberikan pada pemulung yang datang pada kegiatan bazar.

Jadi, melalui kegiatan bazar sampah kering pelajar diharapkan tumbuh budaya sadar sampah sejak dini, disamping mengarahkan generasi baru tersebut dalam memandang sampah yang lebih memberikan manfaat dalam bentuk lain juga secara langsung telah melakukan tindakan mengurangi sampah dari sumbernya. Kegiatan ini merupakan pendorong perubahan yang diinginkan dari pendidikan itu sendiri, yang secara langsung dilakukan sebagai aktivitas pelajar dari rumahnya masing-masing untuk memandang sampah dari kebermanfaatannya. Sekolah mana yang mau memulainya? Atau, perlu menjadi kebijakan dinas pendidikan! Jika kegiatan ini menjadi program semua sekolah (SD/SMP) setiap Sabtu, maka sampah anorganik (lebih bersih) dapat dikelola secara optimal dan bagaimana tekanan terhadap lingkungan dari pencemaran sampah padat dapat dikurangi, serta tumbuhnya generasi baru yang berbudaya sadar sampah.

(Radar Banjarmasin, 9 November 2010: 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: