WASPADA, PERUBAHAN TAPIN MENUJU KERAPUHAN (Hari Jadi Kabupaten Tapin Ke-45)


Oleh: HE. Benyamine

Keberlimpahan sumberdaya alam, khususnya batubara yang telah dieksploitasi, menjadikan kabupaten Tapin mengalami perubahan yang begitu cepat. Perubahan yang bertumpu pada berkurangnya deposit batubara cenderung mengalami stagnan dan kerapuhan sosial budaya. Hal ini sudah seharusnya mengingatkan semua pihak dan pemangku kepentingan untuk mempersiapkan strategi dalam menghadapi situasi dimana deposit batubara tidak lagi mencukupi untuk diandalkan. Apalagi, sebagian besar hasil eksploitasi batubara tidak berada di daerah, karena hanya dibawa ke luar daerah sebagai keuntungan perusahaan dan sebagian sebagai kecil digenggam oleh segelintir orang-orang di daerah, sedangkan untuk kepentingan umum (melalui pemerintah derah) seperti orang mengemis mendapatkan kucuran bagian dari pusat yang nilainya ibarat recehan.

Perubahan yang ditupang eksploitasi batubara dengan kapasitas yang terus naik, ternyata tidak dapat menggiring perubahan dalam peningkatan bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan. Hal ini cukup jelas terlihat pada pembangunan Rumah Sakit Datu Sanggul yang berjalan begitu lambat dan tersendat-sendat, yang semestinya dapat terwujud dalam waktu singkat karena nilai (harga) batubara terus mengalami peningkatan dan kapasitas juga terus meningkat. Jika mengacu pada hasil eksploitasi batubara kabupaten Tapin, maka rumah sakit tipe A seharusnya sudah dapat diwujudkan karena keberadaannya sangat berhubungan dengan kecepatan perubahan sosial dan budaya dengan berbagai resiko penyakit akibat perubahan bentang alam; cenderung pada bencana.

Selain perubahan akibat ekspoitasi batubara, sekarang kabupaten Tapin juga sedang didorong terus mengalami perubahan yang begitu cepat dengan bertumpu pada pembukaan perkebunan sawit. Perkebunan sawit yang katanya memanfaatkan lahan tidak produktif, sehingga perkebunan sawit seperti menjadi berkah dalam memanfaatkan lahan rawa, yang nampak begitu diekspos sebagai bagian dari keunggulan daerah Tapin. Selain keuntungan yang dibayangkan dari pemanfaatan lahan rawa (dianggap lahan tidak produktif) untuk perkebunan sawit, perlu juga diingat potensi kerusakan dan pencemaran lingkungan yang disebabkan perubahan bentang alam lahan rawa sebagai lahan basah yang cenderung sensitif.

Perkebunan sawit di lahan rawa yang ada di kabupaten Tapin, dalam skala besar-besaran, akan menyebabkan perubahan yang sangat cepat dalam mempercepat kerapuhan sosial karena begitu banyak hal yang berhubungan dengan warga masyarakat akan merasakan dampak negatifnya. Perkebunan sawit di lahan rawa mengutungkan bagi perusahaan, karena sawit termasuk tanaman rakus air, sehingga perusahaan mendapatkan nilai investasi yang lebih sedikit untuk kebutuhan air tersebut. Namun, bagi lingkungan menyebabkan tata air lahan rawa mengalami gangguan yang luar biasa, karena lahan rawa merupakan penampungan air dengan mempunyai kekayaan hayati yang luar biasa, yang dari sudut pandang perusahaan perkebunan sawit hanya sebagai lahan tidak produktif.

Berikutnya, perkebunan sawit akan membutuhkan begitu banyak pestisida (racun), yang apabila dipergunakan dalam skala besar di lahan rawa akan memudahkan dalam penyebarannya ke perairan lainnya melalui aliran air, sehingga pestisida dengan mudah melewati batas administrasi wilayah kabupaten Tapin. Hal ini tentu saja sangat berhubungan dengan mata pencaharian masyarakat, terutama dalam bidang perikanan, karena selain lahan rawa sebagai tempat habitat ikan lokal yang berubah juga penyebaran pestisida yang mengikuti aliran air.

Perkebunan sawit yang menjadikan lahan rawa berubah menjadi lahan perkebunan monokultur, juga cenderung meningkatkan resiko peningkatan gangguan hama pada kebun masyarakat, karena adanya perubahan dalam rantai makanan di lahan rawa tersebut dan wilayah sekitarnya. Hal ini dapat memberikan beban baru bagi semakin cepatnya kerapuhan sosial dan budaya, sementara hasil yang diperoleh dari perkebunan tersebut lebih banyak sebagai keuntungan perusahaan yang terus dibawa ke luar daerah Tapin, dan pemerintah daerah semakin dibebani dengan permasalahan daerah dan warga masyarakat sehingga anggaran untuk bantuan akan semakin meningkat.

Pendidikan masih merupakan permasalahan yang dihadapi kabupaten Tapin, hal ini terlihat dengan keluhan dinas tenaga kerja yang mengatakan bahwa tingkat keahlian atau keterampilan tenaga kerja lokal yang masih dihargai tidak lebih sebagai satpam dan/atau tukang cek yang paling tinggi, selebihnya sebagai buruh upahan dalam pertambangan dan perkebunan. Untuk posisi yang memerlukan keterampilan khusus lebih banyak ditempati tenaga kerja dari luar daerah. Bagaimana mungkin hal seperti ini menjadi realitas kabupaten Tapin, yang tidak seharusnya terjadi jika mengacu seberapa besar kapasitas batubara yang diangkut keluar, sementara untuk membekali tenaga kerja lokal agar menjadi tenaga terampil saja tidak sanggup.

Pertambangan batubara dan perkebunan sawit merupakan investasi yang mengandung resiko mempercepat kerapuhan sosial dan budaya serta lingkungan hidup, karena kedua bidang ini begitu cepat dalam membuat perubahan yang hanya mengacu pada nilai ekonomi dan mengabaikan nilai lainnya, sehingga investasinya begitu menggiurkan. Kerusakan alam telah mulai memperlihatkan keberadaannya, yang dapat dirasakan warga masyarakat dari pencemaran air sungai dan banjir yang semakin luas dan dalam intensitas sering terjadi. Perusahaan pertambangan dan perkebunan tidak akan merasakan kerugian akibat kerusakan lingkungan dan kerapuhan sosial budaya, tetapi warga masyarakat dan pemerintah daerah terus menghadapi kerugian dengan menanggung berbagai biaya yang terus meningkat nilainya. Jangan sampai Tapin mengalami perubahan, tetapi lebih ke arah kerapuhan.

Jadi, bertepatan dengan memperingati hari jadi Kabupaten Tapin ke-45 (2010), semua pemangku kepentingan sudah seharusnya memperhatikan dengan sungguh-sungguh perubahan yang terjadi akibat masih bertumpunya pada pertambangan batubara  dan perkebunan sawit, karena kedua bidang investasi tersebut cenderung mempercepat kerapuhan sosial budaya dan kerusakan alam dan lingkungan hidup.   Ruhui Rahayu Tapin.

(Radar Banjarmasin, 30 November 2010: 3)

One Response

  1. ya ya betul….
    batu bara…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: