RENCANA SAWIT HST TANDA KEMALASAN


Oleh: HE. Benyamine

Rencana pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit di kawasan Sungai Buluh, Kecamatan Labuan Amas Utara (LAU), Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) (Radar Banjarmasin, 28 Desember 2010: 9/14) memperlihatkan bahwa lahan rawa menjadi incaran para investor perkebunan kelapa sawit. Lahan rawa juga selalu dipandang sebagai lahan tidak produktif atau lahan tidur, sehingga diarahkan untuk dimanfaatkan menjadi lahan produktif dengan pembangunan perkebunan kelapa sawit. Ada pandangan yang menggampangkan dan menyederhanakan keberadaan lahan rawa oleh para pengambil keputusan, yang cenderung hanya melihat lahan tersebut dengan kaca mata ekonomi. Sedangkan  bagi investor kelapa sawit, lahan rawa merupakan lahan yang menguntungkan sebagai tempat investasi kelapa sawit; terutama berhubungan dengan modal air.

Kecenderungan perkebunan kelapa sawit memilih lahan rawa, dengan alasan lahan tidak produktif, dapat dilihat di Kabupaten Tapin yang juga menyerahkan sebagian besar lahan rawanya untuk pembukaan perkebunan kelapa sawit, yang dengan sendirinya melakukan gangguan pada ekosistem lahan rawa. Lahan rawa merupakan ekosistem yang kaya dan mempunyai keragaman hayati tinggi, yang bagi investor perkebunan kelapa sawit hanya dipandang sebagai lahan tidur atau tidak produktif, padahal semakin tinggi keragaman hayati maka semakin produktif lahan tersebut secara ekosistem.

Pemerintah daerah yang turut serta memandang lahan rawa sebagai lahan tidak produktif atau lahan tidur dapat dikatakan sebagai pemerintahan yang tidak mempunyai kemauan dan kemampuan dalam mengembangkan gagasan dalam pengembangan lahan rawa, sehingga yang paling gampang adalah menyerahkan kepada investor kelapa sawit.  Bagaimana mungkin, lahan rawa yang kaya dan keragaman hayati tinggi, hanya terlihat sebagai lahan tidur, apakah mereka tidak mempunyai dinas terkait yang dapat memikirkan pengembangan lahan rawa menjadi lahan produktif secara ekonomi tanpa harus melakukan gangguan terhadap ekosistem hingga menjadi ekosistem baru sama sekali.

Lahan rawa, bagi masyarakat tidak pernah sebagai lahan tidur, karena lahan rawa dapat memberikan berbagai kebutuhan yang selama ini masih dilakukan dengan cara sederhana dengan hanya mengambilnya, seperti berbagai jenis ikan. Di samping itu, lahan rawa juga pada musim kemarau dapat dijadikan lahan lebak untuk pertanian yang membantu daerah (wilayah) dalam menjaga ketahanan pangan. Pemerintah daerah yang berpandangan bahwa lahan rawa sebagai lahan tidur menggambarkan kedangkalan pengetahuan atas kehidupan warganya sendiri, karena lahan rawa selama ini masih sangat membantu kehidupan warga masyarakat dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidup, yang memang masih perlu pengembangan gagasan dan hadirnya inovasi dalam memanfaatkannya.

Meskipun pemerintah HST mengaku selektif mencari investor perkebunan kelapa sawit, selama pandangan terhadap lahan rawa tetap sebagai lahan tidak produkti, maka kecenderungan tidak produktifnya pemerintahan dalam pembangunan lahan rawa akan terus terjadi, karena yang dilakukan sebenarnya adalah menjadikan lahan rawa hanya menghasilkan satu produk. Sementara keragaman produk dari lahan rawa lainnya menjadi hilang, dan warga masyarakat dalam jangka panjang harus menanggung kehilangan tersebut. Belum lagi yang berhubungan dengan masalah pencemaran lingkungan, karena perkebunan kelapa sawit rakus pestisida dan air,  yang dapat menyebabkan penyebarannya semakin luas dan mengganggu ekosistem lain sekitarnya.

Pandangan yang tidak jauh berbeda dengan elit kekuasaan dalam memandang lahan rawa sebagai lahan tidak produktif, yaitu kalangan elit politik yang seharusnya lebih membuka pandangannya dengan memperhatikan kehidupan warga masyarakat dalam memanfaatkan lahan rawa, seperti salah satu anggota DPRD HST, Sirhan Burnama, yang mendukung niat pemerintah karena dianggap sangat bagus sebagai pendorong ekonomi masyarakat sekitar dan penyerapan tenaga kerja yang banyak (Radar Banjarmasin, 28 Desember 2010: 9), padahal keberadaan perkebunan kelapa sawit ini dapat merupakan penghapusan  pengetahuan lokal masyarakat dalam pemanfaatan lahan rawa. Sehingga, penyerapan tenaga kerja yang banyak merupakan pandangan yang terlalu naif, karena sebenarnya warga masyarakat yang akan kehilangan mata pencaharian; yang mungkin selama ini tidak dianggap sebagai pekerjaan.

Jadi, rencana pemerintah HST membuka perkebunan kelapa sawit di lahan rawa kawasan sungai Buluh dengan pandangan bahwa lahan rawa adalah lahan tidak produktif atau tidur sudah seharusnya dihentikan, karena lahan rawa bagi masyarakat sekitar merupakan bagian dari kehidupan mereka dan bagian dari pengetahuan lokal (indegenius knowledge) yang selama ini tidak pernah memandang lahan rawa tersebut sebagai lahan tidak produktif.

Pemerintah HST harus dapat mengembangkan lahan rawa tanpa harus merusaknya hanya karena perkebunan kelapa sawit dapat memberikan pemasukan pendapatan daerah, bila dibandingkan dengan pemanfaatan oleh warga masyarakat. Apalagi, lahan rawa yang berada di kawasan sungai Buluh, pemerintah HST tentu harus lebih jauh dalam melihat fungsi lahan rawa yang mudah terganggu oleh pencemaran dan kerusakan lingkungan dari perkebunan kelapa sawit yang cenderungan memilih lahan rawa.

Cobalah untuk menyelami kehidupan warga di sekitar lahan rawa, dan berpikirlah lebih inovatif dalam melihat lahan rawa yang sesungguhnya sangat kaya dan memiliki keragaman hayati yang tinggi. Rencana pembukaan perkebunan kelapa sawit di HST dapat dikatakan sebagai perilaku kemalasan dari elit kekuasaan di HST, padahal masyarakat HST termasuk masyarakat yang kreatif dan inovatif dalam pemanfaatan lahan rawa.

(Radar Banjarmasin, 30 Desember 2010: 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: