PERPUSTAKAAN RUMAH BACA BERSAMA


Oleh: HE. Benyamine

Perpustakaan daerah merupakan rumah bersama yang memberikan kesempatan bagi semua warga masyarakat untuk mendapatkan bacaan yang sama dan beragam, tak terkecuali buku-buku yang bagi sebagian orang berpikir berulang kali untuk membeli sendiri, yang malah cenderung tak terbeli. Keberadaan perpustakaan yang representatif di suatu kota menunjukkan pandangan maju dan peduli dari pemerintah kota dan elit politiknya, karena merupakan tempat di mana semua lapisan masyarakat dapat memanfaatkan  fasilitas yang tersedia secara bersama.

Pandangan Barack Obama, saat menjadi senator menyatakan, “literacy is the skill that unlocks the gates of opportunity and success”, sebagaimana yang dikutip Dra. Hj. Nurliani Dardie, MAP (Kepala Kantor Pustarda Kota Banjarbaru) dalam tulisannya Perpustakaan Semai Cinta Membaca, seperti ingin menegaskan pandangannya sendiri atas keberadaan perpustakaan kota Banjarbaru. Keberadaan perpustakaan perlu terus disosialisasikan kepada warga masyarakat, karena adanya perpustakaan diperuntukkan bagi semua warga masyarakat, agar dapat lebih mendorong minat baca yang selama ini sebagiannya karena adanya keterbatasan dalam mendapatkan buku atau bahan bacaan.

Sebagaimana Barack Obama sewaktu menjadi senator, tidaklah berlebihan jika berharap dengan wakil rakyat di DPRD tingkat II di Kalsel dapat bersikap seperti itu untuk terus berupaya memperjuangkan anggaran yang mencukupi bagi pengembangan perpustakaan, karena wakil rakyat termasuk elit politik yang tentunya sangat menyadari tentang pentingnya peningkatan minat baca masyarakat dalam membukakan pintu kesempatan dan kesuksesan, dan tentunya anggota dewan sangat menyadari bahwa tidak semua warga masyarakat mampu untuk membeli buku-buku yang sebagiannya termasuk mahal.

Perpustakaan  Pemko Banjarbaru yang dinilai Kepala Pusat Perkembangan dan Pengkajian Minat Baca Perpustakaan RI, Moh Syarif Bando sebagai contoh perpustakaan yang pengelolaan dan layanannya sangat bagus (10/122010), sehingga dapat dijadikan contoh bagi daerah lainnya. Dengan pengelolaan dan pelayanan yang bagus tentu memberikan suasana yang menyenangkan dan membuat orang merasa tidak ada perbedaan saat memasuki perpustakaan dan berada di dalamnya. Menurut Moh Syarif Bando bahwa setiap kota terdapat 2 (dua) PU, yaitu Dinas Pekerjaan Umum yang biasanya menyediakan atau membangun jalan dan jembatan dengan anggaran yang besar dalam APBN atau APBD, dan Perpustakaan Umum yang biasanya mendapat dana relatif kecil dari APBN atau APBD. Padahal, perpustakaan juga menyediakan “jalan dan jembatan” bagi warga masyarakat, dalam upaya pengembangan potensi diri dan mempersiapkan diri dalam menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Dengan penilaian yang bagus untuk pengelolaan dan pelayanan, yang mana kedua hal ini sangat berhubungan dengan psikologis pengunjung yang dapat membuat datang sekali dan tidak kembali lagi atau datang dan terus kembali, sebagai tahap yang menentukan dan biasanya terabaikan. Selanjutnya,  Perpustakaan Pemko Banjarbaru perlu meningkatkan kuantitas atau jumlah buku untuk menambah koleksi buku yang sudah ada, karena pertambahan buku tidak pernah berhenti. Peningkatan koleksi buku dapat dilakukan melalui mengetuk pintu partisipasi masyarakat, seperti yang telah dilakukan perpustakaan Kota Banjarbaru dengan menghimbau pihak tertentu untuk menyumbang buku ke perpustakaan, yang dapat dilihat dari sebagian buku di perpustakaan ada yang berstempel sumbangan dari  (nama) seseorang, sebagai bukti bahwa ada orang yang tergerak untuk menyumbang buku.

Selain memperbanyak koleksi buku dan sosialisasi keberadaannya serta kampanye minat baca, Perpustakaan Pemko Banjarbaru perlu melakukan sosialisasi koleksi buku yang sudah ada dengan membuatkan sinopsis dari buku-buku tersebut, lalu ditempel di mading sekolah-sekolah (SD dan menengah) atau papan pengumuman instansi pemerintahan sebagai upaya mendekatkan buku pada para pelajar dan masyarakat. Biasanya, setiap buku sudah ada sinopsisnya yang terdapat pada sampul belakang, yang memudahkan untuk langsung disalin. Sinopsis tersebut dapat ditempelkan di mading sekolah dalam jumlah sinopsis paling sedikit 10 buku, yang setiap sebulan sekali diganti dengan sinopsis buku yang lain, begitu juga dengan adanya buku baru. Hal ini merupakan langkah sederhana yang dapat mendorong minat baca pelajar terpantik, karena mendapatkan info ringkas tentang buku-buku tersebut.

Jadi, perpustakaan harus dapat menyampaikan bahwa keberadaannya sebagai rumah baca bersama seluruh warga masyarakat, yang memberi kesempatan yang sama pada setiap orang untuk mendapatkan bahan bacaan yang sama dan beragam. Sosialisasi keberadaannya juga harus diikuti dengan apa yang ada di dalamnya, sehingga apa yang dibutuhkan warga masyarakat atas bahan bacaan (buku) tergambar dengan jelas. Apa yang ada di dalam perpustakaan yang membuat minat warga masyarakat menjadi tertarik untuk datang, karena mereka tahu bahwa apa yang mereka butuhkan ada di sana.

(Media Kalimantan, 7 Januari 2011: C3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: