SAWIT LAHAN RAWA MENCEKIK KEHIDUPAN WARGA


Oleh: HE. Benyamine

Dalam tiga tahun terakhir, wilayah Candi Laras Kabupaten Tapin, di beberapa tempat mengalami perubahan genangan karena perubahan ekosistem lahan rawa dan sungai dengan masuknya investasi perkebunan besar. Beberapa tempat yang dulunya tidak pernah mengalami genangan yang cukup lama, sekarang warga masyarakat dihadapkan dengan genangan yang lama di tempat pemukiman, jalan, dan persawahan. Genangan ini merupakan ancaman nyata pada kehidupan warga, karena terjadinya perubahan ekosistem rawa dan sungai yang masif dan ekspansif dalam beberapa tahun terakhir, terutama perkebunan besar kelapa sawit yang memanfaatkan lahan rawa dan sungai sebagai lahan perkebunan.

Pemerintah daerah, baik tingkat II maupun propinsi, harus melihat persoalan kebanjirannya warga masyarakat di wilayah Candi Laras secara lebih luas, tidak hanya sebatas persoalan wilayah tempatan genangan. Karena, masalah yang terjadi pada suatu sungai merupakan masalah yang terjadi dari hulu ke hilir, yang berarti masalah lintas batas administrasi, di mana sungai membentuk jaringan yang terintegrasi antara sungai, anak cabang sungai, dan rawa-rawa serta tempat resapan lainnya dengan keadaan wilayah dataran tinggi. Perubahan yang masif pada lahan rawa, secara langsung menghilangkan kemampuan adaptasi warga masyarakat dengan lingkungannya, yang jika dibiarkan terus terjadi sama saja kebijakan yang mengizinkan lahan rawa  dan sungai untuk perkebunan besar dengan mencekik kehidupan warga, salah satunya terganggunya mata pencaharian.

Permasalahan genangan di wilayah sungai Rutan Ilir tidak hanya berdiri sendiri sebagai genangan tempatan, apalagi secara sederhana dengan mengatakan telah terjadinya penyempitan sungai tersebut akibat tanaman rumbia sehingga langsung menyimpulkan perlu melakukan pengerukan sungai. Kesimpulan yang menyederhanakan permasalahan perubahan lahan rawa dan sungai hanya menambah permasalahan, namun malah setidaknya lebih menguras anggaran daerah tapi tidak menyentuh akar permasalahannya. Rumbia merupakan tanaman di air, yang merupakan bagian dari ekosistem rawa dan sungai, sehingga keberadaannya tentu merupakan bagian penting dalam pengaturan tata air.

Pemerintah Kabupaten Tapin tidak perlu terburu-buru melakukan pengerukan sungai, dengan mengorbankan tanaman rumbia, karena pengerukan sungai juga dapat menyebabkan kerusakan sungai itu sendiri akibat terganggunya fungsi beberapa bagian dari sungai, seperti rencana dihilangkannya pohon rumbia. Jadi, perlu diperhatikan apa yang dikatakan Ir. Raumayati, MS, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Tapin (5/1/11) berkenaan dengan penanggulangan kebanjiran di Sungai Rutas Ilir, yang menyatakan memerlukan penanganan bersama antara daerah kabupaten dan propinsi, karena permasalahan ini memang lebih tepat didekati dengan mengkaji kembali pemanfaatan lahan rawa sebagai satu kesatuan dengan sungai untuk perkebunan besar kelapa sawit dan lintas wilayah administrasi.

Permasalahan genangan Candi Laras tentu berhubungan dengan yang terjadi pada sungai dan rawa di sana, seperti sungai Pinang Margasari yang panjangnya  kurang lebih 10 km, yang mana 7 km sungai tersebut dikuasai oleh perusahaan perkebunan besar dalam bentuk HGU (Radar Banjarmasin, 7 Januari 2011: 12), berarti adanya perubahan yang luar biasa pada ekosistem rawa dan sungai di wilayah tersebut. Hal ini menjadi penting untuk diperhatikan bagi pengambil keputusan, baik ditingkat propinsi maupun tingkat II, dan hubungan antar wilayah dari hulu ke hilir, karena pemanfaatan sungai dalam peraturan dan perundangan telah jelas ditetapkan bahwa wilayah kiri kanan sungai perlu dijaga keberadaannya, dengan penetapan untuk sungai kecil dan sedang sebatas 50 meter dari tepi sungai dan untuk sungai besar 100 m dari tepi sungai.

Masuknya perkebunan besar kelapa sawit, sebagai kebanggaan investasi masing-masing daerah, yang merambah lahan rawa dengan anggapan bahwa lahan rawa sebagai lahan tidak produktif/tidur/marjinal, merupakan suatu bentuk ancaman yang serius bagi daerah yang bersangkutan dan Kalimantan Selatan secara keseluruhan. Dalam beberapa tahun terakhir, perkebunan besar kelapa sawit telah menjadikan lahan rawa menjadi ekosistem baru dengan produk tunggalnya; sawit, dari Kabupaten Batola, Tapin, HSS, HSU, dan sekarang rencana HST di sungai Buluh Labuan Amas Utara. Padahal daerah-daerah ini berhubungan dalam ekosistem rawa dan sungai, yang berarti perubahan pada lahan rawa di Kandangan atau di Amuntai akan berpengaruh pada daerah di Tapin atau Batola, begitu juga sebaliknya.

Pemerintah daerah, HSS, HSU, HST, Tapin, dan Batola perlu memikirkan keterkaitan dan saling hubung antara lahan rawa dan sungai, karena perkebunan besar kelapa sawit yang memanfaatkan lahan rawa dan sungai harus dilihat juga dalam perubahan lahan rawa dan sungai dari kepentingan warga masyarakat yang lebih luas, yang menyangkut pengetahuan lokal (local knowledge) terhadap pemanfaatan lahan rawa. Perpindahan genangan yang terjadi di wilayah Sungai Rutas Ilir, pemukiman, jalan, dan persawahan, telah memperlihatkan pentingnya memperhatikan keterkaitan antar wilayah dalam menentukan kebijakan dalam pemanfaatan lahan rawa dan sungai dengan lebih hati-hati dan pengetahuan yang cukup, tidak hanya berpandangan bahwa lahan rawa  lebih dianggap sebagai lahan tidak produktif/marjinal/tidur.

Jadi, perkebunan besar kelapa sawit yang masif dan ekspansif di lahan rawa perlu diperhatikan para pengambil kebijakan di tingkat propinsi dan tingkat II secara serius penuh kehati-hatian dan adanya koordinasi kajian antar wilayah, karena keberadaan lahan rawa dan sungai merupakan bagian penting dari kehidupan warga masyarakat; sehingga gangguan akibat perubahan besar pada lahan rawa merupakan gangguan kepada warga masyarakat, gangguan pada kemampuan beradaptasi warga dengan lingkunannya, dan gangguan pada pengatahuan lokal (local knowledge). Pilihan perkebunan besar kelapa sawit pada lahan rawa dan sungai harus dipertimbangkan kembali, karena keberadaannya telah menjadi ancaman nyata pada kehidupan warga masyarakat. Paling nyata dirasakan, lahan rawa yang kaya dengan keragaman hayati tinggi, karena perkebunan besar kelapa sawit cenderung pada satu produk; sawit, lalu begitu banyak produk dari lahan rawa yang dihilangkan, seperti berbagai jenis ikan.

(Radar Banjarmasin, 8 Januari 2011: 3)

2 Responses

  1. makasih gan,, ane terkejut di koran ada artikel ku..

  2. Wah ini fakta pedih terbaru. Hanya pikiran saya atau semakin lama kal-sel ini semakin semrawut ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: