MENGHIDUPKAN PATUNG BEKANTAN


Oleh: HE. Benyamine

Rencana pembangunan patung bekantan sebagai ikon Kota Banjarmasin dapat dikatakan sebagai rencana yang mengaburkan identitas kota yang lebih dikenal sebagai kota seribu sungai. Ada penyimpangan pandangan dalam rencana itu, yang sebenarnya menutupi permasalahan keberadaan sungai-sungai yang menjadikan kota Banjarmasin dikatakan sebagai kota seribu sungai, di mana sungai-sungai tersebut terus mengalami penyusutan. Hilangnya beberapa sungai dan semakin terganggunya beberapa sungai karena perencanaan kota yang meninggalkan dasarnya (sungai-sungai dan kanal), sebenarnya merupakan permasalahan yang tertutupi oleh rencana pembangunan patung bekantan.

Sebelum lebih jauh rencana pembangunan patung bekantan dan lebih mengalihkan permasalahan keberadaan sungai di Banjarmasin, ada baiknya memperhatikan komentar Siti Fatimah Ahmad (warga Malaysia) yang menanggapi tulisan Kontroversi Patung Bekantan (Media Kalimantan, 5 November 2010: C3) yang juga diposting pada blog www.borneojarjua2008.wordpress.com sebagai bahan pertimbangan bagi perencana pembangunan patung bekantan sebagai ikon Kota Banjarmasin.

Siti Fatimah Ahmad mengatakan, “Bekatan atau monyet belanda banyak terdapat di Sabah dan sarawak. malahan monyet belanda ini menjadi daya tarikan kepada para pelancung yang mengunjungi hutan Taman Negara yang ada dikedua-dua negeri ini.

Oleh yang demikian, tidak wajar untuk dijadikan ikon bagi banjarmasin kerana ia bukan milik setempat sahaja. Kalau di malaysia, biasanya pemilihan ikon2 bagi lingkungan tersebut bagi tujuan tarikan wisata adalah sesuatu yang memang sudah dikenali seantero negeri sebagai tempat yang banyak mengeluarkan hasilnya. Contohnya (di Sarawak ya), Bandaraya Kuching : haiwan kucing; Sri Aman : Burung merpati; Serian: buah durian; Sarikei: buah nanas namanya Sarikei; Spaoh ; Ikan buntal; Seratok : udang; Mukah : Ikan Merah; Bintangor: Limau namanya Bintangor; Sibu: haiwan angsa, dan banyak lagi.

Semoga pihak berwajib di banjarmasin bisa memikirkan suatu ikon yang lebih wajar sebagai tarikan. Ikon bekatan menurut saya, kurang efektif kecuali haiwan itu menjadi daya penarik kepada ekonomi pelancungan semasa”.

Berdasarkan komentar di atas jelas terlihat bahwa daya tarik dalam pariwisata di negara bagian Sarawak dan Sabah adalah bekantan atau monyet Belanda yang hidup di hutan Taman Negara, yang memberikan gambaran bahwa bekantan lebih menjadi daya tarik karena habitatnya terjaga dan dikelola dengan baik dan sungguh-sungguh, bukan dengan membangun patung bekantan.  Dia juga mengemukakan bahwa bekantan tidak wajar untuk dijadikan ikon bagi Banjarmasin karena ia (bekantan) bukan milik setempat sahaja, karena memang di negara bagian tersebut juga ada dan terjaga dengan baik, sehingga wisatawan sering berkunjung untuk melihat bekantan yang hidup, sekali lagi bukan patung.

Pandangan yang mengatakan rencana pembangunan patung bekantan sebagai bukti bahwa Pemkot Banjarmasin mempunyai perhatian yang besar terhadap karya seni, terlihat sebagai pandangan yang menyederhanakan kenyataan perhatian pemerintah terhadap karya seni yang selama ini sangat senjang jika dibandingkan dengan perhatian pemerintah terhadap olahraga, lagi pula pembangunan patung tidak dapat mewakili atau menunjukkan perhatian pemerintah daerah terhadap karya seni pada umumnya. Begitu juga asumsi menambah aset pariwisata dan berdampak pada rasa keindahan dan kenyamanan (Media Kalimantan, 11 November 2010: A3), adalah asumsi yang melupakan permasalahan besar bagi kota Banjarmasin yang berhubungan dengan sungai, yang belakangan malah didekati dengan proyek siring seakan yang namanya normalisasi sungai itu adalah siring.

Sedangkan peningkatan usaha pemasaran karya seni, seperti souvenir, cinderamata, dan menjadikan tempat rekreasi yang nyaman dan strategis sebenarnya tidak begitu terlihat ada hubungan dengan pembangunan patung bekantan. Usaha pemasaran karya seni lebih tergantung pada seberapa kompetitifnya pariwisata Kota Banjarmasin, karena sangat berhubungan dengan seberapa banyak kunjungan wisatawan, yang sekali lagi tentu tidak tergantung dengan keberadaan patung bekantan seandainya sudah terbangun.

Mengacu pada komentar Siti Fatimah Ahmad di atas, sebenarnya yang perlu diperhatikan oleh Pemkot Banjarmasin adalah bagaimana habitat bekantan dapat terpelihara sebagaimana yang dilakukan negara bagian Sarawak dan Sabah dalam hutan Taman Negara yang menjadi daya tarik para pelancung ke negara tersebut. Bagaimana pulau Kembang (misalnya) dapat dikembangkan menjadi hutan Taman Banjarmasin dengan bekantan yang ada  dapat hidup dan berkembang biak sebagai ikon yang hidup bagi Kota Banjarmasin. Sedangkan di sekelilingnya dibangun rumah apung (vila sewaan) dan restoran apung, sehingga terlihat bahwa Pemkot Banjarmasin sebenarnya telah menghidupkan (rencana) patung bekantan, dan jelas bahwa pariwisata kota Banjarmasin mendapatkan aset yang sangat berharga.

Jadi, rencana pembangunan patung bekantan sebagai ikon Kota Banjarmasin lebih banyak alasan untuk membatalkannya dan tidak melanjutkannya. Pemkot Banjarmasin lebih baik menghidupkan tempat-tempat yang selama ini sudah menjadi tujuan wisatawan dan  lebih mengembangkan potensinya sebagai  daya tarik pariwisata, dalam hal ini habitat bekantan lebih diperhatikan dan dikelola sebagai Taman Banjarmasin yang menghidupkan (patung) bekantan untuk dapat berkembang biak dengan baik. Habitat bekantan jauh lebih menarik daripada patung bekantan. Sehingga, MUI tidak perlu dibuat menjadi ragu-ragu dalam rencana pembangunan patung bekantan, karena memang patung bekantan tidak diperlukan Kota Banjarmasin.

(Media Kalimantan, 13 November 2010: C3)

6 Responses

  1. betul-betul, pasar terapung lebih melekat di banjarrmasin daripada bekantan
    jika perlu memperbaiki aliran sungai-sungai menjadi venesia van indonesia

  2. hehe

  3. Assalaamu’alaikum sahabat HE. Benyamine…

    Alhamdulillah, walau rasa terkejut juga bila membaca postingan mas ini berhubung komentar saya (yang telah saya izinkan disiar) di posting mas yang lalu. Tidak terjangkau komentar itu mendapat ulasan yang panjang dan berbobot dari mas dan di siarkan di koran.

    Terima kasih mas, atas maklum balas yang diberikan. Saya berharap pihak berwajib Banjarmasin bisa memikir sejenak akan kepentingan yang telah mas Ben utarakan. Semua manfaat adalah untuk masyarakat linkungan yang pastinya mahukan pembangunan yang mantap dalam menggerakkan ekonomi setempat.

    Semoga Banjarmasin akan terus sukses dan membangun maju.

    ************

    Mas Ben, saya pohon izin untuk memuatkan tulisan mas ini di blog saya sebagai hasrat memanjangkan kebaikan dari tulisan mas di Malaysia. Terima kasih ya mas.

    Salam hangat selalu dari saya di Sarikei, Sarawak.

  4. […] “MENGHIDUPKAN PATUNG BEKANTAN” […]

  5. Sepakat, karena lebih baik kita perhatikan habitat n kelangsungan hidup Bekantan, karena itu merupakan icon kehidupan tak hanya icon patung.
    Klo mo membuat daya tarik n icon memang lebih baik kanal2 tersebut difungsikan dengan maksimal n tata ruang n kelola na di bagusin… pasti wisman akan banyak berkunjung, alna tak perlu ke venesia atau belanda…

  6. Lebih tepat kalau ikon memperlihatkan banjarmasin sebagai kota seribu sungai, jukung dengan rumah banjar terapung misalnya atau yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: