PUISI (34): KAU DIAM MEMELUK WAKTU


kulihat kamu menatap cermin

tiada kata yang mengiringi pertemuan

di situ bukan bayangan, kau menawan

bagai hujan yang melayang setelah mengecup awan

 

sesaat menghilang, kau diam memeluk waktu

tiada angan yang sempat mencumbu

kulihat kamu menyusuri rindu

bagai api yang membebaskan sumbu

 

kulihat kamu menatap cermin

di situ bukan bayangan, kau yang hapus bayangan

 

Banjarbaru, 27 Januari 2011

4 Responses

  1. sungguh bagus puisi ini
    aku larut di dalamnya
    turut diam
    memeluk waktu

    [salam sastra dari Jogja]

  2. sepertinya sedang kangen dengan sesuatu pak??
    salam kenal dari bloger maluku🙂

  3. wah, dah lama saya ndak mampir ke sini, bang ben. puisi2nya makin keren dan kreatif. salam budaya.

  4. Satu hal yang selalu saya rasa setiap mengunjungi blog ini. Ya, saya selalu merasa iri. Iri pada kemampuan si empunya blog ini dalam mengolah kata.
    Salam, bang Ben!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: