ANCAMAN SAWIT PADA LAHAN RAWA


Oleh: HE. Benyamine

Para petani sekarang tidak hanya dihadapkan dengan kelangkaan pupuk dan harga tak bersaing pasca panen, tapi sekarang juga dihadapkan dengan masalah kebanjiran yang menyebabkan sawah-sawah mereka tergenang yang membuat gagal panen dan tak berani melakukan penanaman kembali. Hal ini dialami petani Sungai Rutas Ilir Kecamatan Candi Laras Selatan (CLS) Kabupaten Tapin (Koran Lokal, 5/1/2011), yang terancam mata pencahariannya karena gagal panen dan tidak berani mengambil resiko menanam.

Dalam beberapa tahun terakhir, genangan air yang lamban turun sehingga menyebabkan persawahan dan sebagian wilayah tempat tinggal mereka terendam dalam waktu yang cukup lama, menandakan adanya perubahan bentang alam yang cukup luas baik wilayah kabupaten Tapin maupun daerah luar wilayahnya; terutama daerah hulunya. Perubahan terhadap lahan rawa, yang merupakan lahan basah, tentu saja akan berakibat perubahan tata air yang berakibat pada terganggunya penyebaran dan aliran air pada wilayah yang lebih rendah. Lahan basah sebagai tempat penampungan air dan menjadi pengatur tata air, seperti lahan gambut bila terganggu sangat sulit untuk kembali pada keadaan semula atau kering tidak balik yang merupakan sifat khusus.

Perubahan bentang alam dalam beberapa tahun terakhir juga, di beberapa kabupaten, telah begitu luas dan ekspansif ke wilayah lahan rawa, terutama pembukaan lahan rawa untuk perkebunan besar kelapa sawit, yang patut dilihat sebagai bagian dari terganggunya tata air dan menyebabkan kebanjiran pada wilayah-wilayah yang dulunya tidak pernah mengalami genangan yang cukup lama; seperti Sungai Rutan Ilir.

Kabupaten Tapin sudah menyerahkan sebagian lahan rawanya untuk pembukaan perkebunan kelapa sawit, terutama di wilayah Candi Laras, yang dalam beberapa tahun terakhir begitu masif dan ekspansif. Begitu juga dengan kabupaten yang berada di wilayah hulu, HSS dan HSU, yang juga menyerahkan lahan rawa untuk kepentingan perkebunan sawit dengan pandangan bahwa lahan rawa sebagai lahan tak produktif atau lahan tidur. Batola sudah memasuki masa panen kelapa sawit. Hal yang sama sedang bergulir rencana yang sama di Kabupaten HST, yang melihat Sungai Buluh Kecamatan Labuan Amas Utara (LAU) dengan pandangan yang sama terhadap lahan rawa; lahan tak produktif. Padahal, lahan rawa merupakan lahan yang kaya dan tingkat keragaman hayati tinggi, yang memang masih perlu dikembangkan dengan tidak merusak secara ekosistem yang berhubungan dengan pengetahuan lokal (local knowledge) masyarakat dalam pemanfaatannya.

Pembukaan perkebunan besar sawit di beberapa kabupaten yang terhubung secara ekosistem sungai dan rawa; Batola, Tapin, HSS, HST, dan HSU, dengan memilih lahan rawa perlu mendapat perhatian serius semua pemangku kepentingan karena perubahan pada satu wilayah akan berdampak pada wilayah lainnya. Hal ini dapat dilihat dari permasalahan genangan yang cukup lama pada persawahan petani Sungai Rutan Ilir, yang menjadi tumpukan aliran air di sungai Muara Muning Margasari. Genangan atau kebanjiran ini salah satu permasalahan yang dihadapi warga masyarakat, karena rusaknya ekosistem sungai dan rawa.

Selain masalah genangan, perkebunan sawit di lahan rawa dan dekat sungai juga dihadapkan dengan permasalahan pencemaran yang begitu mudah menyebar melebihi wilayah tempatannya, karena sungai dan rawa dapat menjadi media yang efektif  dalam menyebarkan pestisida dan pupuk kimia yang digunakan perkebunan sawit melalui aliran air. Biotik rawa akan dihadapkan dengan pencemaran yang pada akhirnya terkonsumsi manusia melalui produk sungai dan rawa, seperti ikan.

Penanggulangan kebanjiran di Sungai Rutas Ilir memerlukan penanganan yang terintegrasi secara bersama antara daerah kabupaten dan propinsi, karena permasalahan ini lebih tepat didekati dengan mengkaji kembali pemanfaatan lahan rawa sebagai satu kesatuan dengan sungai untuk perkebunan besar kelapa sawit dan lintas wilayah administrasi. Apalagi, masalah pencemaran dari perkebunan besar kelapa sawit di lahan rawa dapat dengan mudah melewati batas administrasi dan juga begitu banyak berhubungan dengan mata pencaharian warga masyarakat yang masih bergentung dengan produktivitas dari lahan rawa dan sungai, seperti petani di Sungai Rutas Ilir tersebut.

Perkebunan besar kelapa sawit sedang menjadi primadona kabupaten-kabupaten di Kalimantan Selatan sebagai bukti adanya investasi yang masuk, yang dilakukan masing-masing kabupaten tanpa memperhatikan keterkaitannya dengan wilayah lainnya. Lahan rawa yang terhubung dengan sungai-sungai menjadi sasaran dari perkebunan besar sawit dalam menanamkan investasinya, yang menjadikan lahan rawa yang kaya dan keragaman hayati tinggi hanya diarahkan menghasilkan satu produk; sawit. Kalimantan Selatan harus mulai memperhatikan dampak dari perkebunan besar kelapa sawit yang masif dan ekspansif, selain konflik dengan warga masyarakat, juga kerusakan lingkungan hidup khususnya ekosistem rawa dan sungai yang merupakan bagian penting dari kehidupan warga banua.

Oleh karena itu, masuknya investasi perkebunan besar sawit perlu juga memperhatikan pengetahuan lokal (local knowledge) yang sebenarnya ramah dalam pemanfaatan lahan rawa dan adanya koordinasi antara daerah-daerah dan propinsi yang lebih memandang lahan rawa sebagai bagian penting dari kehidupan warga masyarakat selama ini, yang menyediakan berbagai produk dalam memenuhi kebutuhan mereka. Ancaman perkebunan besar kelapa sawit terhadap lahan rawa perlu diwaspadai, karena ekosistem lahan rawa dan sungai begitu mudah rusak yang melebihi batas administrasi di mana perusahaan tersebut berada, yang dengan mudah menuju tragedi kehidupan.

(Koran Mata Banua, 20 Januari 2011: 10)

One Response

  1. kenapa perkebunan sawit kebanyakan ada di luar jawa ya ?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: