“KEJAGAUAN” DALAM TRAGEDI PERTAMBANGAN


Oleh: HE. Benyamine

Pertambangan batu bara di Kalimantan Selatan dengan produksi hingga mencapai 100 juta ton per tahun, ternyata tidak dapat mengangkat provinsi ini terlepas dari permasalahan gizi buruk yang terangkat kepermukaan menghiasi berita koran lokal, dan berita itu hanya puncak dari gunung es permasalahan gizi buruk yang mengintai warga masyarakat. Permasalahan gizi buruk kebanyakan dialami warga masyarakat perkotaan, yang merupakan masyarakat urban dari berbagai daerah asal, di mana daerah asalnya sudah seperti telah mendorong warga untuk urbanisasi karena mata pencaharian di perdesaan telah mengalami gangguan atau semakin terdesak dengan berbagai kebijakan pemerintah daerah dengan pertambangan dan perkebunan skala besar.

Perdesaan di Kalimantan Selatan telah mengalami gangguan kebijakan para elit penguasa yang  berorientasi jangka pendek dan cepat menghasilkan pendapatan, dengan mendorong berbagai investasi eksploitasi sumberdaya alam, yang sebagian besarnya hanya tinggal mengambil dan menggusur. Ditambah, para politisi daerahnya lebih senang mempertanyakan dana CSR terutama dana community development (CD), dengan tidak mempedulikan dampak dari adanya pengerukan sumberdaya alam yang terus mengalami penyusutan.  Seperti keterlaluan bersemangat terhadap dana CSR, tanpa memperhatikan pengawasan terhadap keberadaan perusahaan tersebut dalam berusaha, yang seakan hanya senang mendapatkan gula-gula yang diberikan perusahaan.

Gambaran tragis dari pertambangan di Kalimantan Selatan begitu jelas dalam buku Novel Rumah Debu (2010) karya Sandi Firly (jurnalis), yang mengetengahkan konflik yang terjadi di tengah warga masyarakat. Secara sosial, pertambangan batu bara membuka berbagai kesempatan termasuk terjadinya patalogi sosial, yang seakan memberikan wahana bagi sisi kejagauan dalam masyarakat. Urang banua mendapatkan tempatnya tersendiri, peran yang bertumpuk dalam masalah sosial, yang menjadikan warga masyarakat menjadi serigala satu dengan yang lainnya.

Angkutan pertambangan yang pernah melalui jalan negara memberikan gambaran bagaimana peran urang banua dalam struktur pertambangan, sebagai orang yang mendapatkan malapetaka dan bencana atau sebagai preman, tacut, jagau yang berhubungan dengan kekerasannya. Memang, ada sebagian dari warga masyarakat Kalsel yang melimpah kekayaannya, yang hanya tergenggam pada sebagian kecil urang banua.

Dalam novel Rumah Debu bagaimana kehidupan warga masyarakat di sepanjang jalan negara yang dilalui armada pengangkut batu bara, mengingatkan pada suasana yang tidak bersahabat dengan kehidupan. Terhampar abu-abu, kehilangan warna hijau, seperti tiada berpenghuni. Pintu-pintu rumah terus terkunci. Penyakit ISPA seperti hal yang biasa, tiada penting lagi peningkatan ancaman resiko penyakit lainnya, seakan dianggap sebagai hal yang biasa. Nyawa melayang terselesaikan dengan kerusuhan, lalu diselesaikan dengan santunan.

Fenomena kejagauan dalam pertambangan merupakan gambaran di mana posisi urang banua, karena posisi ini memberikan peluang untuk merasakan serpihan manisnya emas hitam, selebihnya bersiap menerima dampak pertambangan yang layaknya warik hamuk. Peran yang tersisa bagi urang banua dalam pertambangan tersedia di posisi preman, sedangkan sebagian lainnya mengejar rente, dan sisanya tersudut dalam rumah debu.

Sungguh tragis, manusia Banjar, yang terkepung pertambangan batu bara lebih terpinggirkan dalam semakin meningkatnya kapasitas produksi perusahaan, dengan berbagai permasalahan lingkungan hidup dan kerusakan alam. Sebagian sudah merasakan kebun dan sawah yang gagal karena limbah tambang batu bara, begitu juga dalam bidang perikanan yang selama ini masih sanggup memberikan pendapatan sambilan bagi warga masyarakat setidaknya untuk dikonsumsi sendiri. Kerusakan alam dan lingkungan yang diakibatkan pertambangan batu bara di Kalimantan Selatan, secara samar mendorong warga melakukan urbanisasi atau telah mendorong menjadi masyarakat urban meskipun masih tetap di perdesaan.

Jadi, fenomena kejagauan dalam pertambangan batu bara di Kalimantan Selatan yang diangkat Sandi Firly dalam sebuah novel merupakan bagian dari pendokumentasian pada masanya, keadaan yang begitu melekat dalam benak warga masyarakat, sebuah tragedi manusia Banjar. Terlihat, betapa getir membayangkan kehidupan warga masyarakat yang seolah diarahkan untuk mendapatkan santunan dari perusahaan dengan segala malapetaka dan bencana yang setiap saat terus mengancam, selebihnya diam dalam kebekuan debu. Suatu tragedi keberlimpahan sumberdaya alam bagi warga Kalimantan Selatan, yang hingga saat ini tidak terlihat bagaimana keberpihakan pengemban amanat, pengambil keputusan, dan elit politik untuk merumuskan kebijakan yang mensejahterakan atau setidaknya tidak melakukan gangguan terhadap sumber penghidupan warga masyarakat jika belum mampu membuat kebijakan tersebut.

(Radar Banjarmasin, 31 Januari 3011: 3)

5 Responses

  1. Ulun sudah membaca novelnya, memang keren….! Namun sayangnya, saat ini batu bara sudah punya jalan sendiri. Tapi tak masalah, karena tak mengurangi kekuatan novel tersebut. Sukses sastrawan Kal Sel!

  2. […] gantinya, saya paksakan diri mengikuti acara bincang-bincang Bedah Novel Bang Sandi Firly, “Rumah Debu” esok malamnya (7 Februari). Dijemput Om Yul, kami menembus hujan lebat malam itu demi […]

  3. Assalaamu’alaikum sahabat, HE. Benyamine…

    Kembali menyapa untuk bertanya khabar dan membaca tulisan berbobot yang selalu mencerahkan. Tulisan ini memberi banyak gambaran tentang kesulitan penduduk lingkungan terhadap pertambangan batu bara yang tentu sekali memberi impak besar kepada pencemaran alam sekitar.

    Ulasan mas Ben kepada buku novel Rumah Debu karya mas Sandi menunjukkan keperihatinan para karyawan dan sasterawan Banjarmasin di atas fenomena yang tidak pernah luput dari ingatan malah sudah sebati dalam kehidupan warga masyarakat setempat.

    Saya yakin, sangat susah bagi masyarakat dilingkungan laluan pertambangan batu bara untuk hidup menikmati udara segar dan menatap kehijauan hutan sekeliling kerana debu-debu jalanan yang mengakibatkan timbulkan pelbagai penyakit.

    Begitulah kondisi rakyat yang terpaksa menanggung penderitaan hidup hasil dari keinginan pihak2 tertentu dalam mengaut keuntungan. kesannya ada yang terpaksa dikorbankan.

    Bagaimana menanggani semua permasalahan ini, harus menjadi tanggungjawab pihak pemerintah kerana kesejahteraan dan kesihatan masyarakat di bawah pimpinannya mesti difikirkan sewajar dan kehidupan yang segar harus menjadi hak mereka yang menghuni tempat tersebut.

    Salut mas Ben untuk tulisan yang berbobot dan selalu perihatin kepada kebaikan rakyat. Sukses buat mas Sandi untuk bedah buku novel Rumah Debu.

    Alangkah baiknya kalau saya memiliki buku novel tersebut untuk saya ketahui apakah masalah sebenar yang dihadapi sebahagian rakyat Banjarmasin yang terlibat dengan pertambangan batu bara ini.😀

    Salam mesra dan hanta selalu dari saya di Sarikei, Sarawak.

  4. […] Sandy ini juga dapat dikuatkan melalui artikel saudara HE. Benyamine dalam blog beliau,  antaranya “KEJAGAUAN” DALAM TRAGEDI PERTAMBANGAN, KONFLIK PERTAMBANGAN BATUBARA KALSEL, dan kumpulan artikel […]

  5. […] bisa ikut ke Mandiangin. Maka sebagai gantinya, saya mengikuti Bedah Novel Bang Sandi Firly, “Rumah Debu” esok malamnya (7 Februari). Dijemput Om Yul, kami menembus hujan lebat malam itu demi […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: