PUISI (35): MENARIK NAFAS KAMU DALAM AKUMU


Lihatlah kamu! Kamu yang dilihat akumu

masihkah kamu terlindung jarak?

kamu berbuat yang terpisah kata akumu

yang mudah kamu ingkari; akumu tercekak

 

Sudah berapa lama kamu tidak bertanya? Akumu berkarat diam

menatappun tidak, hingga kamu berkelana hafal lintasan

hanya tidur pertemukan akumu, tiada berjarak bersama bungkam

serasa semua biasa, akumu menatap kamu hirup angan-angan

 

Sungguh luas hamparan sajadah

masihkah kamu kesulitan temukan tempat sujud akumu?

hamparan tempat kembali menarik nafas kamu dalam akumu

menutup segala keraguan, damai membasuh segala gundah

 

Banjarbaru, 29 Agustus 2010

4 Responses

  1. saya tertarik dengan penggunaan sudur pandang “akumu” dalam puisi ini, bang ben. mungkin dalam kultur jawa, bisa dimaknai sebagai pengejawantahan “jumbuhing kawula-gusti”, manunggalnya hamba dan Tuhan. benarkah?

  2. Puisinya unik banget..

  3. Maknanya mendalam banget,,! Puisi yang menarik

  4. Akumu,,, sungguh menarik,,!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: