IRONI TANAH LAUT DALAM PEMBANGUNAN


Oleh: HE. Benyamine

Perjalanan ke Plaihari memberikan pemandangan keberlimpahan sumberdaya alam. Sejauh memandang, hamparan sawit menghijau bagai permadani satu warna, yang tumbuh dengan merata dalam pertumbuhannya. Perkebunan besar sawit telah menghiasi lahan-lahan perbukitan dengan satu jenis tanaman, memang dari jauh terlihat hijau tidak berbeda dengan perbukitan dengan beragam tumbuhan.

Keberlimpahan sumberdaya alam yang dieksploitasi atau sebenarnya lebih tepat dikeruk saja berupa tambang batu bara dan biji besi ternyata hanya sekedar kabar perhitungan di atas kertas, karena hasilnya sebagian besar tidak dirasakan untuk peningkatan kemakmuran warga masyarakat Tanah Laut. Seakan hasil tambang hanya menyisakan untuk segelintir warga masyarakat yang mendapatkan cipratannya dengan cara menjadi pekerja tidak tetap. Memasuki kota Plaihari tidak terlihat adanya perbedaan yang mengesankan terjadinya perubahan dari 10 tahun yang lalu, padahal dalam 10 tahun tersebut berapa banyak sumberdaya alam seperti batu bara yang telah dihabiskan.

Dalam perjalanan menuju Plaihari, hamparan lahan basah (rawa) atau dataran rendah, tergenang air yang berubah warna karena berkarat, seakan telah kehilangan kejernihannya. Begitu juga dengan aliran sungai-sungai yang memperlihatkan terbengkalainya keramba-keramba ikan, karena air yang mengalir berwarna seperti adonan tanah merah, yang tentu saja tidak memberi kesempatan bagi ikan-ikan keramba untuk bertahan hidup. Kekeruhan air yang mengaliri sungai menandakan terbukanya tutupan lahan sekitar sungai di daerah hulu. Erosi tanah yang tinggi dan pencemaran tambang menyatu dalam aliran sungai.

Keadaan dan kondisi Tanah Laut yang tergambar di sepanjang jalan menuju kota Plaihari, seperti begitu jelas tergambar dalam puisi Tangga Tulang (9/3/2011) karya Kalsum Belgis, bait berikut: “Sepanjang jalan Sebohor melaju/Ke mulut Kintap arah Asam-Asam/Di Batulicin akan berlabuh sauh/Luka pandang pada/Padang sawit terbentang/Kokoh hijau menjulang ejekan”. Terbayang ketidakberdayaan atas berlimpahnya sumberdaya alam Tanah Laut, namun hasilnya hanya lewat bagai sebuah ejekan “cukup elit kekuasaan yang menikmati” dan yang lain tidak dapat menolak “tapalit tahi” dengan berbagai bencana. Elit kekuasaan dalam masa periode kekuasaannya mendapatkan berbagai fasilitas negara, tanpa terlihat adanya keterhubungan dengan kinerja dan pengabdian terhadap kehidupan warga masyarakat kebanyakan.

Di daerah Sebohor, bocah-bocah terbakar matahari berdiri di pinggir jalan raya mengharapkan belas kasihan dari pengendara yang melintas. Mereka memang masih terlihat dapat bercanda dan bermain, layaknya anak-anak yang lebih memandang sesuatu sebagai mainan saja, meskipun tulang-tulang yang tersusun di badan mereka memamerkan ketidakberdayaan penghidupan. Keberadaan mereka di pinggir jalanan seperti ingin menunjukkan ironi, karena hamparan sawit yang luas dan banyaknya hasil tambang di sekitar Sebohor ternyata tidak dapat didistribusikan dalam peningkatan kesejahteraan warga masyarakatnya. Memang, bocoh-bocah itu tidak dapat mewakili penghidupan warga Tanah Laut, tapi cukup memperlihatkan ketiadaan pemerintahan dan ketidak pekaan elit kekuasaannya.

Keberadaan bocah-bocah kurus dan terbakar matahari di pinggir jalanan Sebohor tersebut, deskripsinya terangkai dalam bait selanjutnya, “Di bibir aspal jalan berlubang/Pemuda banua tangga tulang/Hilang amarah di sepiring/Beras pera berantah.”, yang menghadirkan kenyataan bahwa sumberdaya alam yang melimpah seperti yang dimiliki Kabupaten Tanah Laut tidak dapat menjamin penghidupan yang layak dan terhormat. Keberlimpahan sumberdaya alam ternyata tidak dapat menjadi modal dalam upaya pembangunan, suatu proses perubahan dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya yang lebih menggambarkan capaian yang seimbang dengan pengerukan sumberdaya alam yang tersedia.

Pembangunan sebagai proses perubahan yang terencana, seakan tidak terlihat di Kabupaten Tanah Laut, yang ada pembiaran  perubahan tanpa terencana dengan aktivitas pengerukan sumberdaya alam dengan target jangka pendek, sehingga kecenderungannya keterpinggiran warga masyarakat terhadap akses penghidupan. Hal ini dapat dilihat dari konflik perkebunan besar kelapa sawit dengan warga masyarakat, di antaranya yang terjadi di Tabanio, yang pada ujungnya warga masyarakat dihadapkan pada pilihan sebatas tali asih yang dianggap sebagai kebaikan pihak perusahaan, yang selanjutnya keterpinggiran dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan hidup.

Jadi, elit kekuasaan di Kabupaten Tanah Laut sudah sepatutnya memperhatikan perubahan yang terjadi di daerahnya. Arah ke mana perubahan itu. Atau sebenarnya tidak tentu arahnya, karena sumberdaya alam masih melimpah yang masih tersedia dengan cepat menghasilkan uang, meskipun sebenarnya hanya recehan “kebaikan” perusahaan untuk sebagian kecil warga Tanah Laut, sedangkan sebagian besar hasil pengerukan tidak pernah terlihat di daerah. Apakah sebagian besar warga masyarakat Tanah Laut lebih dihadapkan dengan ancaman bencana dari sebelah mata uang pengerukan sumberdaya alam yang cenderung jangka pendek, bagian kerusakan alam dan pencemaran lingkungan serta bahaya sosial. Jika lebih cenderung tanpa arah perubahan (pembangunan), maka Tanah Laut sebenarnya tidak ada pemerintahannya.

(Radar Banjarmasin, 14 Maret 2011: 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: