WISATAWAN BANJAR KE TONG TONG FAIR 2011


Oleh: HE. Benyamine

Keberangkatan 12 penari Banjar ke Belanda (Media Kalimantan, 19 Mei 2011: A1) untuk tampil di Tong Tong Fair  ke-53 (25 Mei – 5 Juni 2011) di Malieveld, merupakan suatu kebanggaan dan penghargaan kepada para penggiat seni tradisional.  Keberangkatan mereka tentu saja ditemani para pelatih (seniman) tari, yang jumlahnya tidak lebih dari penarinya; mungkin paling banyak 3 orang.  Kehadiran 12 penari Banjar  pada acara tersebut  setidaknya menambah daftar rombongan kesenian dari Indonesia yang juga akan tampil di sana, yang tentu saja menjadi petunjuk bahwa masih ada yang peduli dan menggeluti  tari tradisional di Kalimantan Selatan.

Rombongan 12 penari Banjar langsung dikawal bupati Kabupaten Banjar yang disertai rombongan dengan misi “Kerajaan Banjar sudah bangkit kembali” (Media Kalimantan, 20 Mei 2011: A1), sebagai pembenaran rombongan penyerta yang lebih banyak dari 12 penari dan pelatih tarinya.  Menjadi samar, apakah  12 penari plus ataukah “rombongan wisatawan” yang sebenarnya merupakan hal penting dalam keberangkatan ke Belanda, karena rombongan wisatawannya selain penari plus begitu banyak, sehingga jelas begitu banyak anggaran yang digunakan untuk membiayai perjalanan tersebut. Dana dari mana? Bila menggunakan anggaran daerah, begitu terkebelakangnya cara berpikir karena masih terdengar berita tunjangan guru dan bidan yang terlambat dan tertahan.

Pembenaran keberangkatan “rombongan wisatawan” yang mengiringi 12 penari plus, dengan menyatakan membawa misi khusus merupakan suatu yang sangat lucu dan kehilangan akal sehat berkenaan dengan harapan dapat membawa aset dan arsip kerajaan Banjar yang ada di Belanda. Meskipun, Taufik Arbain menyadari bahwa tidak semudah membalik telapak tangan dalam harapan tersebut, namun harapan yang dikemukan sungguh mengada-ngada untuk sebuah acara seperti Tong Tong Fair yang merupakan “a cultural festival, exhibition and food fest rolled into one”.  Pasar Malam Besar (Tong Tong Fair) merupakan tempat festival multikultural yang mempertemukan budaya Barat dan Timur, yang diselenggarakan setiap tahun sejak tahun 1959; dengan pesta budaya, pesta niaga, dan pesta santapan.

Pada saat yang bagaimana “rombongan wisatawan” mengadakana silaturahmi dengan kerajaan Belanda, sehingga dapat mengemukakan misi khusus kedatangan mereka dengan pendekatan emosional.  Apakah hanya dengan hadir pada Tong Tong Fair tersebut sudah cukup menunjukkan kebangkitan kesultanan Banjar. Mengapa tidak resmi saja mengajukan ke kerajaan Belanda untuk silaturahmi dan kunjunngan atas nama kesultanan Banjar. Jika hanya sekedar hadir pada Tong Tong Fair, misi khususnya tidak lebih dari sekedar sebagai pelancong.  Setelah sampai di Belanda dengan acara sebentar, maka tanggung jika tidak melanjutkan perjalanan ke kota negara Eropa lainnya.

Dalam hal promosi seni budaya kabupaten Banjar, keberangkatan “rombongan wisatawan” seakan memberikan pengesahan bahwa dinas terkait baru bergerak dan menunjukkan batang hidungnya atas keberadaannya ketika berangkat ke luar daerah (negeri ataupun luar negeri) dalam acara festival. Selain itu, dinas terkait tidak mempunyai program yang jelas tentang promosi seni budaya, meskipun telah beberapa kali mengikuti acara seperti Tong Tong Festival tersebut. Apalagi menyelenggarakan seni budaya Banjar festival yang dapat mendatangkan wisatawan domestik maupun mancanegara. Seakan dinas terkait dan kepala daerah lebih senang berkunjung ke luar negeri untuk acara-acara seperti itu saja, dan tidak begitu peduli dengan bagaimana menyelenggarakan acara seperti itu di daerahnya; di kotanya.

Jadi, keberangkatan 12 penari Banjar (plus pelatih tari) seperti kedok saja bagi keberangkatan “rombongan wisatawan” yang ingin menyaksikan Tong Tong Fair 2011.  Apalagi menyatakan keberangkatan rombongan membawa misi khusus untuk membawa kembali aset dan arsip kesultanan Banjar, sebagai sesuatu yang meremehkan pemahaman publik tentang hal itu. Pemerintah Republik Indonesia saja hingga saat ini tidak berhasil mengembalikan berbagai benda bersejarah yang ada di negara-negara lain, khususnya dari Belanda. Di samping itu, pemerintah daerah sendiri masih tidak begitu peduli dengan aset dan arsip tentang sejarah Banjar yang ada di banua. Bagaimana seharusnya memperlakukan aset dan arsip yang ada di daerah saja tidak jelas.

(Media Kalimantan, 26 Mei 2011: C3)

One Response

  1. saya baru tau kalau jumlah pendampingnya lebih banyak dari pada yang didampingi, dan setelah tahupun tak heran, karena sudah jamak terjadi. hahaha….

    dan saya yakin, laporan soal keberangkatan macam ini paling oke adalah pada soal biaya perjalanan dinas, sementara laporan soal lainnya entah bagaimana.

    mmm…. kalau memang banyak yang berangkat, itu memang pasnya dipublikasi siapa dan dalam kapasitas apa berangkatnya, biar publik bisa tau dan jadi mikir, apa wajar atau tidak. cuma, saya pesimis. hehehe…🙄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: