ARUH SASTRA VII TANJUNG: SARABA KAWA


Oleh: HE. Benyamine

Pelaksanaan Aruh Sastra VII 2010 di Tanjung, Kabupaten Tabalong, menandai telah berlalunya setahun dari pelaksanaan Aruh Sastra tahun sebelumnya. Pelaksanaannya berlangsung dari tanggal 26 – 28 November 2010 dengan tema “Saraba Kawa: Menjunjung Kesenian, Bahasa, dan Sastra Daerah”, yang memperlihatkan adanya semangat dalam mengapresiasi daya cipta dan karya yang dilahirkan dari daerah sendiri; terutama kesenian, bahasa, dan sastra.

Dalam perjalanan satu tahun setelah Aruh Sastra VI Batola 2009, tentu telah banyak karya yang berhubungan dengan kesenian, bahasa, dan sastra yang dilahirkan oleh para pelaku, baik yang telah lama bergumul maupun yang baru terlibat dengan kegiatan pengembangan daya cipta dan kreativitas dalam bidang-bidang tersebut. Misalnya, seperti penerbitan buku-buku dari masing-masing daerah (kabupaten/kota) yang terkait dengan dilaksanakannya Aruh Sastra tersebut. Karena, berdasarkan hasil karya dan kreativitas tersebut yang dapat membukakan berbagai kemungkinan apresiasi dan membuka jalan untuk menjunjung suatu karya sebagai membanggakan. Bagaimana mungkin kita menjunjung sesuatu yang sama dari tahun ke tahun, dan seandainya ada yang baru itupun hanya sebagian daerah yang terlihat dapat mempertunjukkan hasil karya dan kreativitas, seperti dalam bentuk buku tersebut.

Daerah (kabupaten/kota) yang belum memperlihatkan hasil karya sebagaimana yang ingin dijunjung dalam semangat Aruh Sastra, atau masih bangga dengan yang sudah ada, sudah selayaknya dapat menunjukkan adanya peningkatan kualitas karena dalam hal kuantitas belum tergarap.  Karena, pelaksanaan aruh sastra ini merupakan suatu kesempatan yang sangat berharga dan penting dalam hal pemberian apresiasi dan pertukaran semangat untuk terus meningkatkan daya cipta dan karya serta kreativitas.  Memang, apresiasi terhadap suatu karya dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja, namun dalam aruh sastra lebih memberikan penguatan yang berbeda dengan bertemunya dari berbagai daerah.

Dalam beberapa kesempatan di media massa, terlihat ada beberapa pemerintah daerah yang begitu antusias dengan pelaksanaan aruh sastra, yang memberikan penegasan dukungan terhadap warga masyarakatnya yang akan menjadi utusan daerahnya, tentu hal tersebut memperlihatkan adanya kesadaran betapa pentingnya kegiatan aruh sastra dan berbagai hal yang menjadi dasarnya, yaitu: kesenian, bahasa, dan sastra. Mungkin, daerah yang lain juga telah mempersiapkan diri tetapi tidak terekspos di media massa, sehingga tidak terlihat bagaimana sikap pemerintah daerahnya terhadap event seperti aruh sastra ini.

Perhatian pemerintah daerah (kabupaten/kota) dalam pelaksanaan aruh sastra, apalagi berusaha memberikan peluang dan fasilitas kepada warganya (khususnya para pelaku) untuk menjadi peserta aktif, menunjukkan bahwa pemerintah daerah tersebut menyadari tentang kesenian, bahasa, dan sastra daerah merupakan bagian penting dari pembangunan, yang bahkan dapat menjadi dasar dalam pelaksanaan pembangunan tersebut. Hal ini juga berhubungan dengan kesadaran bahwa daerah sangat berkepentingan dengan daya cipta dan kreativitas warganya, yang merupakan penanda adanya perkembangan dan kemajuan  suatu daerah dalam pelaksanaan pembangunan.

Daya cipta dan kreativitas selalu mengarahkan  pada munculnya nilai tambah, yang mendorong tumbuhnya berbagai peluang baru dalam mengoptimalkan pemanfaatan bahan mentah atau nilai budaya yang ada untuk lebih sesuai dengan perkembangan zaman. Di sini, terlihat bagaimana panitia pelaksana Aruh Sastra 2010, telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengarahkan peluang daya cipta dan kreativitas dengan memilih tema yang menjunjung kesenian, bahasa, dan sastra daerah. Karena, hal itu berhubungan dengan cara pandang manusia di daerah ini dalam daya cipta dan kreativitas, yang jika dilakukan dengan sungguh-sungguh memang sepatutnya dijunjung dan sanjung.

Jadi, pelaksanaan Aruh Sastra VII 2010 Tanjung seharusnya mendapatkan perhatian pemerintah daerah (kabupaten/kota) dan pemerintah provinsi, karena daya cipta dan kreativitas yang dapat mengangkat daerah dan menjadi pembeda, yang sekaligus menjadi ukuran bagi daerah masing-masing dalam melihat dan memperhatikan denyut kehidupan kesenian, bahasa, dan sastra yang selama ini berlangsung.  Apalagi, apa yang menjadi fokus aruh sastra sebenarnya sangat berhubungan dengan dinas pendidikan, pariwisata dan budaya, dan perindustrian, yang tentu sangat berkepentingan untuk kemajuan daerah masing-masing. Semua itu berhubungan dengan daya cipta dan kreativitas sebagai keniscayaan untuk dikatakan adanya keberhasilan dan pencapaian tujuan. Semua itu yang memberikan peluang dan kemungkinan Saraba Kawa sebagaimana tema aruh sastra kali ini. Selamat untuk pertemuan daya cipta dan kreativitas.

(Radar Banjarmasin, 26 November 2010: 3)

Catatan:

Aruh Sastra V Balangan 2008

Aruh Sastra VI Batola 2009

Aruh Sastra VII Tanjung 2010

Aruh Sastra VIII Barabai 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: