HARI LINGKUNGAN HIDUP 2011: ALAM SEBAGAI MODEL DAN INSPIRASI


Oleh: HE. Benyamine

Gangguan terhadap hutan seperti meluncurnya bola salju, yang semakin lama semakin membesar dan menyeret apa saja yang dilaluinya dengan daya rusak yang semakin kuat, mengganggu fungsi penampung karbon dioksida (carbon dioxide sink), merusak habitat hewan, mengganggu modulator arus hidrologi, mengacak pelestari tanah, dan berbagai hal yang ujungnya bencana dan malapetaka bersama. Contohnya, akibat kerusakan kawasan hutan menyebabkan populasi bekantan di Kalimantan Selatan mengarah pada kepunahan karena terus mengalami penurunan jumlah populasi  hingga 50 persen sebagaimana yang diungkapkan BKSDA Kalsel (Radar Banjarmasin, 8 Juni 2011: 9).

Terganggunya habitat hewan akibat kerusakan hutan dapat dilihat dari beberapa kejadian di Kalimantan Selatan, seperti berkeliarannya gerombolan monyet di Kotabaru dan beruang yang menyerang warga dan serangan gerombolan bangkui pada ladang warga di Kabupaten Banjar. Kerusakan hutan sebenarnya  sudah disadari pihak terkait bahwa hutan terus mengalami degradasi dan deforestasi, yang sebenarnya dapat dilihat secara langsung pada hutannya dan dari berbagai akibatnya berupa bencana.  Untuk melihat degradasi dan deforestasi hutan, secara kasat mata dapat dilihat dari kawasan Taman Hutan Raya Sultan Adam, yang menunjukkan bagaimana bukit-bukit kehilangan hutan bagai seperti yang sering diungkapkan M. Hatta sudah bergaya “rambut punk” yang kiri kananya sudah tidak ada rambutnya. Di beberapa bukit juga terlihat bagaimana tanah longsor, karena dari jauh nampak tanah merah yang mengalami longsor. Begitu juga, di dalam kawasan Tahura tersebut juga ada kebun karet yang dikelola.

Degradasi dan deforestasi hutan semakin meningkat dengan banyaknya izin pertambangan (khususnya batubara) dan perkebunan besar kelapa sawit yang masif dan tidak memperhatikan fungsi kawasan; seperti lahan basah untuk sawit, yang dengan sendirinya begitu banyak potensi non kayu yang hilang dan tidak dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, selain itu hewan semakin kehilangan habitatnya. Hal ini begitu jelas tergambar pada rusak dan tercemarnya DAS-DAS, yang secara tidak langsung melumpuhkan layanan hutan pada masyarakat dalam hal penyediaan sumber air. Di Plaihari hamparan sawit begitu hijau, tapi kebun masyarakat harus berbagi dengan “warga” hutan seperti monyet yang kehilangan habitatnya dan sumber air bersih yang terganggu. Begitu juga dengan warga Kotabaru, di mana warganya harus berhadapan dengan aparat dalam pembagian air bersih.

Pemerintah (daerah) pada tanggal 5 Juni begitu bersemangat membentangkan spanduk, karena pada hari itu merupakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (2011), sebagai wujud kesadaran warga dunia akan pentingnya penanganan secara bersama masalah lingkungan hidup dan bagaimana berupaya meningkatkan kualitas lingkungan hidup tersebut. Namun, peringatan tersebut seperti hanya sebatas pelipur lara dari ketidak berdayaan dalam menghadapi masalah lingkungan hidup, karena kesadaran pentingnya lingkungan hidup tidak menjadikan bagian dari eksploitasi sumberdaya alam, yang bagi daerah ternyata hanya rente ekonomi dari nilai sumberdaya alam tersebut.

Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2011, UNEP (United Nations Environment Programme) memilih tema “Forests: Nature At Your Service”. Pilihan tema ini menempatkan hutan sebagai sesuatu yang sangat penting karena memiliki fungsi yang dapat memberikan layanan bagi kehidupan,  yang berfungsi dalam  keberlanjutan kehidupan  dan menegaskan keterkaitan antara kualitas kehidupan manusia dengan kelestarian ekosistem hutan. Keterkaitan kualitas kehidupan manusia dengan kelestarian ekosistem hutan, akhir-akhir ini begitu jelas semakin terputus karena keserakahan pertambangan dan perkebunan besar kelapa sawit, yang terus merambah hutan dan menjadikannya semakin mengalami degradasi dan deforestasi, sehingga hutan tidak mampu lagi memberikan kontribusi penting bagi pembangunan berkelanjutan dan pemberantasan kemiskinan. Malah yang terjadi, warga masyarakat semakin dihadapkan dengan berbagai akibat kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup.

Oleh karena itu, kesadaran pentingnya hutan sudah seharusnya tidak dikalahkan oleh menggiurkannya nilai ekonomi dari pertambangan (batubara) dan perkebunan besar kelapa sawit, karena akibat buruknya begitu besar dan panjang masanya bagi kehidupan manusia dan makhluk lainnya. Hutan yang terus mengalami degradasi dan deforestasi tidak mampu lagi memberikan layanan bagi kehidupan, selain dari wajah bencana dan malapetakanya yang hadir dalam jangka waktu yang lama untuk kembali menemukan keseimbangan alaminya. Di samping itu, penghargaan pada pengetahuan lokal (indigenous knowledge) dalam berhubungan dengan hutan perlu ditingkatkan dengan berupaya memperhatikan pengetahuan tersebut dalam menentukan kebijakan dan kebijaksanaan tentang pengelolaan hutan. Pada Hari Lingkungan Hidup tahun ini, menyodorkan beberapa studi kasus tentang biomimicry, yang menekankan pentingnya memperhatikan alam sebagai model yang dapat ditiru atau menjadi inspirasi untuk rancangan dan proses dalam menyelesaikan masalah-masalah manusia; yang mana hal ini telah dilakukan masyarakat dengan pengetahuan lokalnya.

(Radar Banjarmasin, 9 Juni 2011: 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: