JAZIRAH CINTA DALAM SUDUT PANDANG PENZIARAH DUNIA


Oleh: HE. Benyamine

Manusia adalah pengembara di dunia. Pada waktunya, tidak maju juga mundur, akan kembali ke tempat asalnya. Namun demikian, banyak  alasan yang menjadi dasar seseorang dalam memutuskan untuk menjadi seorang pengembara yang sesuai dengan cara pandangnya dan tingkat pengetahuan serta pemahamannya terhadap kehidupan dan tujuan penciptaannya di dunia ini. Dalam beberapa hal, novel Jazirah Cinta karya Randu Alamsyah (Penerbit Zaman, 2008; cet. I) mampu menghadirkan beberapa pandangan tentang “Pada dasarnya kita semua di dunia ini adalah pengembara.” Novel ini menghadirkan panduan tentang manusia adalah pengembara atau penziarah dunia yang terasa dari awal bab hingga akhir cerita dan pada akhir buku dijelaskan atas pandangan pengembara oleh tokoh misterius Alamsyah.

Dalam novel Jazirah Cinta, begitu jelas pandangan bahwa manusia menganggap dirinya sebagai penziarah dunia, pengembara, yang hanya bergantung kepada Allah dan menjadikan alam sebagai teman serta kesunyian sebagai pilihan. Meski ada pandangan tentang manusia berkehendak (bebas) yang hadir dalam novel ini, tapi kekuatan keyakinan sebagaimana ungkapan (hal.209) “Ah, kapan aku bisa mencapai taraf ketika aku tidak pernah menepikan peran Allah dalam segala sesuatu?” Hal ini dikuatkan kepada sosok tokoh Syamsu sepanjang cerita, yang mengikuti saja jalan kehidupan tanpa ada kehendak sendiri selain saat ia memutuskan pergi dari kampung halamannya.

Pandangan yang menganggap manusia sebagai penziarah dunia merupakan pemikiran yang berkembang pada zaman Yunani dan Abad Pertengahan, yang menempatkan alam dan Tuhan sebagai prinsip yang menentukan kehidupan manusia. Pada zaman Renaisans, manusia mulai dianggap sebagai pusat realitas, dan filsafat yang berkembang menempatkan manusia sebagai pusat perhatian, filsafat berwarna antroposentris,  sehingga manusia sendiri yang menjadi pusat yang mulai mempertanyakan monopoli agama (gereja) dalam hal kebenaran.  Manusia telah dianggap sebagai orang yang berbuat di dunia, yang mempunyai kehendak bebas, dan menjadi pusat realitas.

Dikarenakan pandangan bahwa manusia adalah pengembara, maka novel Jazirah Cinta mengalir dengan berbagai kebetulan dan kemujuran, dan yang lebih terasa ada suatu kepasrahan dengan berbagai pernak-pernik kehidupan. Dalam beberapa konflek yang dihadirkan cenderung dibiarkan dengan damai atau dapat dikatakan untuk mengalah dan diam, seperti  adanya konflik antaran ustadz lulusan luar negeri (muda) dengan lulusan dalam negeri (tua dan muda), tapi disembunyikan dengan mengalahnya ustadz lulusan luar negeri untuk menjaga kedamaian pesantren.

Begitu juga melalui karakter tokoh Syamsu  yang merupakan tokoh yang begitu dimudahkan dalam perjalanan kehidupannya, konflek batin yang berkecamuk dengan keberuntungan  dan nasib mujur; kemujuran. Syamsu seakan representasi pandangan hidup di dunia hanya sekedar ziarah saja, dengan tokoh misteriusnya Alamsyah yang menjadi nama belakang pena penulis. Meskipun dalam novel ini ada kontradiksi yang dihadirkan, dengan pemberian julukan Kota Banjarmasin sebagai kota Jazirah Cinta dengan keberadaan komplek lokalisasi pelacuran, namun seakan tidak ada kesan pertentangan antara keduanya, tidak lebih dari realitas kehidupan seperti yang terjadi di mana saja.

Pandangan yang menarik terlintas pada saat Syamsu pulang dari lokalisasi, yang mana pikiran Syamsu terkonsentrasi pada pencarian jawaban atas pertanyaannya sendiri, “manakah yang lebih utama: nilai-nilai kemanusiaan tau norma-norma sempit penghambaan kita kepada Tuhan?” Di sini terlihat ada pergolakan batin Syamsu tentang pandangan orang terhadap pelacur, yang mana orang dipandangnya cenderung menghakimi dan berusaha membangun tembok kesucian sendiri. Hingga Syamsu sampai pada kesimpulan, bahwa (hal.56) “Bukankan esensi yang sebenarnya dari agama adalah menjaga hak-hak kemanusiaan?” Sebagai umat beragama seharusnya menebar cinta dan kasih sayang, tidak ikut-ikutan melemparkan batu kebencian  kepada mereka yang kita anggap nista. Di sini jelas, pandangan bahwa tidak semua yang kita lihat dan kemudian kita anggap nista merupakan suatu yang nista dihadapan Allah, karena kita harus berprasangka baik dengan kehendak Allah.

Hal ini juga nampak pada tokoh Lula yang bebas berkeliaran bepergian sebagaimana Syamsu dan sobatnya bertemu dengan Lula di angkut antarkota untuk acara pengajian Guru Sekumpul di Martapura. Tokoh Lula yang digambarkan  berusia  19 tahun, cantik dan bebas berkeliaran dari komplek lokalisasi, merupakan kontradiksi tersendiri dengan pertanyaan mengapa ia tidak keluar dari lembah yang dibencinya. Di sini juga terlihat, pandangan yang selayang pandang tentang komplek pelacuran, dengan tidak adanya konflek di dalamnya; sesama pelacur, pelacur germo, dan pelacur dengan masyarakat. Memang tergambar pandangan masyarakat yang  cenderung menghakimi, yang bagi tokoh Syamsu sebagai pandangan yang tidak mau merasakan bagaimana sebenarnya para pelacur juga tidak menghendaki kehidupan seperti itu.

Memperhatikan sosok Lula, usia muda 19 tahun, cantik, dan cerdas, terbayang bagaimana perempuan ini menjadi idola di lokalisasi, dan bagaimana tekanan dari orang kuat di lokalisasi, yang tentu saja sangat cenderung dengan berbagai bentuk kekerasan terjadi.  Memang, sosok seperti Lula akan cenderung diperlakukan dengan baik, apalagi tidak terlihat adanya perlawanan atau pemberontakan untuk sekedar mengatakan tidak pada order tertentu, karena kehidupan seorang pelacur lebih bergantung dengan usia muda, fisik, dan kecantikan yang pada masanya akan digantikan oleh pelacur baru yang lebih segar. Malah, Lula digambarkan semakin mengurangi pelanggannya dan bahkan tidak sama sekali dalam suatu waktu setelah mengenal lebih dekat tokoh Syamsu dengan segala pandangannya, dengan berkehidupan dari uang tabungannya.  Di sini jelas, Lula bukanlah pelacur yang terantai dan sebenarnya bebas dalam menentukan pilihannya, apalagi sudah punya tabungan.

Pandangan manusia sebagai penziarah dunia, juga terlihat pada sosok ayah Syamsu, yang pelariannya atas masalah yang dihadapinya ke minuman keras, padahal ia merupakan sosok yang begitu membanggakan bagi Syamsu dengan gagah, ulet dan gigih, cerdas, baik hati, dan penyayang. Begitu juga keluarga Isack yang modern, kaya, baik, tidak sombong dengan status. Namun, tokoh-tokoh tersebut dihadapkan pada kenyataan untuk pasrah dan berserah diri pada kehendak Allah. Mungkin, hal ini juga terjadi pada tokoh Alamsyah, sebagai seorang pengembara dan penolong tokoh Syamsu, yang dari awal cerita bertemu di Balikpapan dan akhir cerita juga bertemu di Balikpapan, seakan Alamsyah sebagai pengembara di sekitar Balikpapan saja, sehingga tidak terbayang tokoh Alamsyah bertemu dengan Syamsu  di Palu Sulawesi.

Dalam hal berkaitan dengan perempuan, Syamsu merupakan tokoh yang hampir dihadapkan dengan perempuan sakit, baik secara fisik maupun sosial, seperti Lula yang pesakitan sebagai pelacur, Yunita yang mengidap penyakit dengan vonis kematian oleh dokter, dan ibunya yang dianggapnya tega meninggalkan ayahnya dan menikah lagi.  Namun demikian, ada suatu impian yang tersembunyi tentang sosok wanita yang diidamkan dan menjadi pilihannya, yaitu cantik dan cerdas sebagaimana tokoh Lula, Salwa anak ustadz , dan Yunita adik  Isack.

Pilihan pandangan merupakan suatu kebebasan, terlebih hal itu menjadikan berkembangnya kebaikan dan menghargai kemanusiaan, hal yang telah dilakukan Randu Alamsyah dalam novelnya Jazirah Cinta ini. Dengan penggambaran latar belakang yang menarik, meskipun belum mampu menghadirkan secara lebih dalam tentang kehidupan masyarakan Banjar, karena kehidupan yang ditampilkan dalam novel sebatas dunia pesantren dan cara pandangnya, namun telah berhasil menceritakan suatu pandangan tentang manusia adalah pengembara di dunia. Novel ini mampu menjaga berbagai kejutan-kejutan, yang seakan mensugesti sayang jika tidak selesai membacanya.

Kalimantan Selatan patut berbangga atas kehadiran novel ini, khususnya Kota Banjarmasin dan Kota Martapura, karena novel ini bercerita tentang suatu kota yang dinyatakan sebagai kota jazirah cinta. Dengan ungkapan berikut, “Jika kau berkunjung ke Kalimantan, sempatkanlah bertandang ke Banjarmasin. Terlebih jika hatimu sedang dirundung duka, dilanda frustasi, dan kehilangan asa, atau bahkan lagi putus cinta.” jelas suatu petunjuk yang membanggakan Kota Banjarmasin yang telah mendapatkan julukan Kota Seribu Sungai. Apalagi dilanjutkan dengan ungkapan, “Kau akan membingkai waktu-waktu terbaikmu di Jazirah Cinta, dan membingkainya menjadi kenang-kenganan hidup yang tak terlupakan.” yang secara langsung menyatakan Kota Banjarmasin sebagai Kota Jazirah Cinta. Suatu kota yang romantis dan religius. Romantis dengan sungai-sungai yang mengalir dengan tenang, dan gema ayat-ayat Allah yang terus mengalun dengan sahdu, menyentuh religiusitas.

(Radar Banjarmasin, 3 Juli 2011: 5 — Halaman Buku & Sastra)

7 Responses

  1. Assalaamu’alaikium wr.wb, mas Benyamine yang dihormati…

    Lama benar tidak menyapa dan menulis sesuatu di sini yang tentunya sangat sarat dengan bahan ilmu yang mencerahkan.

    Membaca ulasan mas Ben tentang Jazirah Cinta oleh Tuan Randu Alamsyah memberi sedikit gambaran kepada saya akan isi kandungan novel yang sudah saya kenal namanya sejak tahun 2008 dahulu ketika di awal pembabitan saya di dunia maya.

    Sayangnya, saya belum pernah membaca novel beliau dan tentunya penulisan ringkas tentangnya oleh mas Ben tidak membantu saya memahami keseluruhan makna kandunganb novel tersebut.

    Warga Kota Banjarmasin dan Kota Martapura seharusnya berbangga dengan penggunaan nama yang menjadi pilihan dalam novel ini sebagaimana Sandy juga melakukan hal yang sama di dalam novel beliau – Rumah Debu -. Satu promosi mantap untuk memaklumkan kepada dunia akan kewujudan indah dua kota yang ada di Kalimantan Selatan di persada dunia yang telah melahirkan ramai seniman berbakat besar dalam karya novel dan sastera.

    Ternyata novel Jazirah Cinta memberi mesej pengembaraan manusia yang menghuni bumi dengan pelbagai rencah kehidupan yang ditemui sebelum sampai ke destinasinya yang unggul iaitu akhirat. Dunia sebagai pentas yang dihuni oleh pelakon-pelakon yang telah dijelaskan wataknya tanpa paksaan dalam memilih hidup yang bersesuaian dengan kehendak hati, akal dan iman yang dibekalkan sebagai panduan bagi memilih jalan kebaikan dan keburukan.

    Demikianlah kehidupan semua insan, ada yang bernasib baik dan sebaliknya. Hanya yang cepat sadar diri sahaja yang selamat dan haruslah diselamatkan daripada terus terjerumus ke lembah hina. Prinsip saling bantu membantu untuk menunjuk jalan kebenaran, mengelaurakan dari kegelapan kepada cahaya menjadi satu kewajiban ke atas semua Muslim bukannya mengeruhkan lagi keresahan hati untuk mencari pinbtu hidayah.

    Saya dimaklumi bahawa novel Tuan Randu sudah best seller dan sampai ke Malaysia. Mudahan saya bisa memperolehi novel tersebut nanti. Semoga Tuan Randu bertambah aktif dalam penulisan novel yang lain pula.

    Didoakan mas Ben sihat selalu.
    Salam mesra dan hangat selalu dari saya di Sarikei, Sarawak.😀

  2. Meski saya belum pernah membaca novel Jazirah Cinta karya Randu Alamsyah secara langsung, dengan membaca tulisan ini sedikit banyak jadi mengetahui. Jadi, makasih banyak ya Bang, telah berbagi di postingan ini. Tak pelak, saya jadi penasaran dan ingin membaca secara langsung perjalanan Lula.

  3. turut bangga… he

  4. numpang mampir yahhh…salam hangat n salam kenal…jangan lupa mampir yahhh…

  5. Banyak tentang novel Jazirah Cinta yg ingin saya tanyakan kepada pengarangnya, terutama tentang lokasi/setting pesantren itu…

    Hehe, lama sudah ya nggak mampir ke sini.. ^_^

  6. wah, jadi pengen baca ceritanya, keknya seru🙂

  7. salam kenal yaaa…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: