PUISI (41): SARANG SERIGALA


gerombolan pembawa luka

menari-nari nikmati genderang busung lapar

gencar menyebar kilauan manipulasi toping

ah, semakin  saru serigala

 

di koran serigala hiasi halaman utama

berganti-ganti khotbah di televisi

tiada jaringan tanpa lolong yang kosong

melolong-lolong, rampok berkeliaran

negara sarang serigala kala pemimpin picik licik

ketika bangun melolong lalu mencolong

 

gerombolan penghisap darah

hidup mewah menyebar wabah

rakyat terpuruk kemelaratan atas harapan negara

dikepung serigala

 

Banjarbaru, 27 Juli 2011

8 Responses

  1. wah, lirik2nya bernada tragis, bang ben, menggambarkan situasi peradaban yang benar2 sedang “sakit”. selamat idul fitri, ya, bang, mohon maaf lahir dan batin. semoga berkah dan rahmah senantiasa tercurah buat kita semua, amiiin.

  2. berdesiran dadaku membaca puisi ini
    bagus sekali, Bang! sungguh…

  3. Assalaamu’alaikum wr.wb, sahabatku HE. Benyamine…

    Hadir untuk membalas kunjungan lalu yang tidak sempat disapa kerana sibuk mudik dan talian internetnya sangat “sakit”sekali untuk berjalan jauh di ruang maya. Maka hanya bermain di blog sendiri menerima para tetamu yang hadir. Alhamdulillah, kiranya hari ini bisa diusahakan jua dengan ucapan:

    Ramadhan membasuh hati yang berjelaga
    Saatnya meraih rahmat dan ampunan-Nya
    Untuk lisan dan sikap yang tak terjaga
    Mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya.

    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H
    Maaf zahir dan bathin
    Minal Aidin Wal Faidzin
    Taqabalallahu minnaa wa minkum

    Semoga selalu sukses.
    Salam mesra dari Sarikei, Sarawak.😀

  4. Nada tulis dalam puisi mas Ben kini semakin pedas. Ia satu curahan dari hati yang tidak puas kepada apa yang berlaku dalam dunia pemimpin dan kepimpinannya.

    Banyak manusia yang bersifat serigala, meratah apa sahaja tanpa memilih untuk memuaskan nafsu dan kehendak duniawinya. Yang penting mereka berhasil mencapai apa yang dicita-citakan walau jalan haram yang ditempuh. walau banyak darah yang diteguk.

    Puisinya benar2 sinis mas.😀

  5. […] dalam blog-blog sahabat maya dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan seperti Ersis Warmansyah Abbas, HE. Benyamine, Hajriansyah, Randu Alamsyah dan Sandi Firly. Atau kerana tidak kenal maka nama itu hanya berlalu […]

  6. puisi yang bagus🙂

  7. bagus sekali .

    salam kenal🙂

  8. Assalaamu’alaikum wr.wb, sahabatku, mas Benyamine yang dihormati…

    Hadir untuk menyapa bagi terakhir kalinya sebelum mengundur diri dari keindahan persahabatan di maya. Saya sangat menghargai segala sapaan dan silaturahmi selama kita bersama.

    Kita hanya bertemu lewat catatan di poskad kenangan. Hanya memandang kaburan wajah di potret khayalan. Hanya mengetik huruf-huruf di tinta minda. Maafkan saya lahir dan batin jika…. pada tutur kata yang sesekali mencalar hati dalam penulisan dan pendapat diberi.

    Semoga Allah selalu memberkati persahabatan yang terjalin baik ini. Sebuah KENANGAN TERINDAH akan menyusul dalam diari kehidupan kita sebagai satu ikatan yang tidak bisa terlerai, andainya pertemuan itu bukan lagi milik kita. Doakan saya dalam kehidupan ini di dunia dan akhirat. Aamiin.

    Salam mesra penuh ukhuwwah berpanjangan hingga ke akhirat dari saya Siti Fatimah Ahmad, Sarikei, Sarawak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: