MEMBAYANGKAN MALUNYA WALIKOTA


Oleh: HE. Benyamine

Melewati kota Banjarbaru selalu terbayang bagaimana serius dan sungguh-sungguhnya Pemko Banjarbaru dalam menata dan merawat lingkungan kotanya. Seakan ada perbedaan yang mencolok dengan kota sebelumnya, terutama setelah memasuki kawasan Simpang Empat dan berlanjut melalui Jl. A. Yani hingga kawasan Ulin, begitu juga ketika memasuki kawasan Jl. Panglima Batur, yang memperlihatkan kota yang ramah lingkungan dengan rimbunnya pepohonan dan tersedianya fasilitas pejalan kaki yang tidak terhalang dengan pot-pot tanaman hias.

Kawasan kota terlihat bersih, rapi, dan indah dengan tanaman hias yang terawat. Taman-taman kota yang terawat dan tertata rapi menunjukkan pandangan pengambil kebijakan dalam menata kota. Bunga-bunga yang berwarna-warni menambah indahnya kawasan kota. Apalagi seperti bulan September, di mana pohon flamboyan, bungur, dan tanaman pohon besar yang berbunga sedang berbunga, semakin menambah keindahan dan memberikan kesan yang ceria. Memang, sebagian pohon-pohon bunga tersebut sudah banyak yang hilang dan tidak ada peremajaan kembali.

Suasana nyaman, indah, dan bersih begitu terasa saat melintasi kota Banjarbaru; yang tidak ditemukan sebelum dan sesudah melalui wilayah kota ini. Juga saat mampir di sekitar wilayah kota Banjarbaru tetap terasa suasana tersebut. Bahu jalan sudah menyatu dengan jalan, tidak ada lagi tempat becek. Namun demikian, jika berkeliling dengan berjalan kaki atau berkendaraan, kota Banjarbaru masih belum bisa dikatakan sebagai kota yang ramah dan aman.

Kota yang ramah dan aman begitu memperhatikan fasilitas yang mendukung warganya dalam melakukan berbagai aktivitas, terutama bagi pejalan kaki meski berjalan hanya untuk menyebarang jalan, yang tentu saja menyediakan tempat penyeberangan yang ramah dan aman dengan tanda yang jelas dan petunjuk mudah ditemukan. Kota Banjarbaru masih menunda-nunda dalam memberikan keramahan dan rasa aman tersebut, karena sebagian jalan besar dalam kawasan kota dibatasi dengan tanaman hias yang pembatasnya tinggi sementara tempat penyeberangan belum diberi cat zebra cross dan plang petunjuk tempat aman menyeberang dengan cantuman pasal yang melindunginya saat melintas di tempat penyeberangan tersebut.

Tempat penyeberangan yang jelas tanda dan jarak yang tepat merupakan sebagian ukuran kota yang ramah dan aman, sementara kota Banjarbaru sudah merendahkan pembatas jalan untuk kepentingan warga menyeberang tetapi belum dengan memperjelas zebra cross dan plang penyeberangan. Sedangkan jarak penyeberangan yang satu dengan yang lain masih terlalu memberi peluang bagi penyebarang untuk melewati tanaman hias di pembatas jalan, karena terlalu jauh jaraknya.

Selain jelas tanda dan jarak, sebenarnya tempat penyeberangan dapat disediakan lampu permohonan menyeberang dengan menekan tombol yang memberikan tanda kendaraan untuk berhenti beberapa saat, yang secara otomatis melalui pengaturan waktu dalam memberikan kesempatan pejalan kaki menyeberang sesuai permintaan. Hal ini memang perlu dibicarakan dengan pengelola jalan provinsi, karena berhubungan dengan jalan jalur cepat tetapi memasuki kawasan kota.

Di samping itu, perbaikan dan perawatan jalan juga dapat menjadikan ukuran ramah dan amannya suatu kota. Di sini berhubungan dengan kenyamanan dan rasa aman pengendara saat melintas di jalan maupun melewati jalan untuk berputar, karena jarak jalan untuk putaran yang satu dengan yang lain juga berpengaruh pada arus lalu lintas dan pemborosan bahan bakar.

Pengerjaan perbaikan dan perawatan jalan di wilayah kota, begitu terasa sangat tertunda-tunda dan tidak memperhatikan yang keramahan dan rasa aman tersebut, hal ini begitu jelas dapat dilihat pada putaran jalan di depan rumah dinas Walikota Banjarbaru yang terus dibiarkan lubang menganga dan kabel melintang. Lubang dan kabel listrik tersebut jelas berbahaya dibiarkan begitu saja di putaran jalan, karena bisa saja saat belok kendaraan terhambat lubang dan tersangkut kabel. Mungkin, Walikota sudah sering memperhatikan lubang di putaran tersebut,  tetapi beliau malu untuk mengatakan kepada aparat pelayan masyarakat secara langsung, masa urusan lubang jalan yang segitu saja harus diperintahkan walikota. Bagaimana tidak memperhatikan, putaran jalan tersebut di depan rumah dinas yang beliau tempati. Lubang dan kabel listrik ternyata juga sama pada sebagian putaran jalan lainnya. Apakah untuk menutupi lubang sekecil tersebut harus menunggu proyek baru? Atau, apakah karena lubang tersebut di jalan provinsi? Menjawab pertanyaan seperti itu, terbayang malunya walikota masih harus direpotkan dengan hal demikian.

Jadi, suatu kota yang sehat adalah yang nyaman, bersih, dan rapi, serta juga harus merupakan tempat yang ramah dan aman bagi warganya dalam beraktivitas. Taman-taman yang terawat dan tertata rapi, lingkungan kawasan kota yang bersih tidak berarti banyak bagi warganya jika tidak ramah dan aman. Oleh karena itu, sungguh memalukan jika sampai walikota yang harus turun tangan dengan urusan lubang pada putaran jalan yang merupakan bagian jarak pandang beliau hampir setiap hari. Membayangkan malunya walikota, di mana kota yang sungguh-sungguh ditata dan dirawat lingkungannya, ternyata di depan rumah dinasnya sendiri ada putaran jalan yang sudah sekian lama berlubang, yang membuat ada rasa tidak ramah dan aman.

(Radar Banjarmasin, 6 September 2001:3)

2 Responses

  1. dinas terkait mestinya segera bertindak
    tidak harus menunggu keluhan dr masyarakat
    atau ditulis di koran ya Bang

  2. salam kenal..thanx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: