CEMPAKA KEHILANGAN LAPANGAN BOLA


Oleh: HE. Benyamine

Warga Cempaka termasuk mania bola. Di Cempaka terdapat banyak club bola, hampir tiap rukun tetangga ada club bolanya. Pertandingan antar club atau mengundang club luar Cempaka sebagai lawan tanding merupakan hiburan yang bermakna bagi warga Cempaka. Sebelum lapangan bola yang biasa digunakan untuk pertandingan atau sekedar latihan dirubah menjadi pasar Cempaka, warga begitu antusias berduyun-duyun menyaksikan pertandingan-pertandingan yang dilangsungkan di lapangan bola tersebut. Setelah lapangan bola menjadi pasar Cempaka, warga seperti kehilangan ruang public sebagai tempat bergembira dan bermain sekaligus hiburan, baik saat menyaksikan pertandingan bola maupun acara atau aktivitas lainnya. Saat ini warga mempergunakan lapangan bola TNI AD untuk pertandingan atau sekedar latihan, yang tentu harus membayar sewa setiap pemakaian lapangan bola, yang memang tidak seberapa bagi warga dibandingkan kegembiraan dan hiburan dari pertandingan bola tersebut atau menjadi ajang berkumpulnya warga.

Pada setiap hari Jum’at, warga Cempaka berkumpul di lapangan bola untuk menyaksikan pertandingan bola, karena pada hari Jum’at merupakan hari libur bagi warga penambang (pendulang) yang mengadu nasib mencari galuh (intan).  Lapangan bola dan permainan bola bagai satu-satunya hiburan bagi warga Cempaka, menjadi ruang public yang murah meriah, dan para pedagang asongan berdatangan dengan sendirinya untuk mengisi kebutuhan kudapan warga yang berkumpul. Namun, setelah lapangan bola yang sering digunakan warga untuk menemukan hiburan dijadikan pasar Cempaka, dan hingga saat ini belum ada gantinya membuat warga kehilangan suasana bersama dalam kegembiraan dan tempat hiburan.

Hingga sekarang, warga Cempaka belum menemukan pengganti lapangan bola yang telah berubah jadi pasar Cempaka. Ternyata menemukan lahan untuk lapangan bola yang sekaligus sebagai ruang public minimal sekitar 2 hektar tidak gampang di Cempaka, meski masih dapat dilihat hamparan lahan luas yang potensial dijadikan ruang public dan lapangan bola. Lahan luas milik negara di Cempaka dapat dilihat dari plang namanya, tetapi entah bagaimana caranya untuk memohonkan sebagian (sekitar 2 hektar) lahan tersebut untuk kepentingan ruang public. Warga Cempaka memerlukan uluran tangan Pemko Kota Banjarbaru, terutama kelurahan dan kecamatan setempat, untuk memperjuangkan ruang public yang begitu dibutuhkan dan diperlukan warga sebagai tempat bergembira bersama dan hiburan. Adakah Pemko Kota Banjarbaru melihat harapan warga Cempaka (dan wilayah lainnya) untuk memiliki ruang public (termasuk lapangan bola) sebagaimana lapangan Murjani? Apalagi lahan luas masih terhampar.

Seandainya warga Cempaka sendiri yang mengupayakan lahan untuk ruang public (termasuk lapangan bola), warga masih membutuhkan bantuan kebijakan yang memihak pada kepentingan warga dari pemerintah kota. Kebijakan yang sensitif pada kebutuhan warga dalam hal ruang public, yang sebenarnya diyakini sebagai tempat yang dapat membuat warga lebih terdorong daya kreatifnya jika berada dan sering bersama-sama di ruang public. Kebijakan yang sensitif pada kepentingan warga dapat dilihat di antaranya dari penyediaan ruang public yang dekat dengan warga di suatu wilayah. Keberadaan lapangan bola di Cempaka merupakan kebutuhan yang sangat realistis untuk dapat dipenuhi, karena masih begitu banyak hamparan lahan yang luas.

Di samping itu, pembangunan ruang public (termasuk lapangan bola) di beberapa wilayah kota Banjarbaru dapat dijadikan asset ruang terbuka hijau, persediaan yang lebih awal,  seiring perkembangan kota yang semakin pesat dengan kebutuhan lahan semakin tinggi. Dibandingkan dengan proyek median jalan A. Yani yang begitu panjang, seperti ular naga, Pemko Banjarbaru sanggup menyediakan anggaran untuk kepentingan itu, tentu tidak seberapa jika dianggarkan untuk pembangunan ruang public (termasuk lapangan bola) di beberapa wilayah yang masih luas lahannya, apalagi hanya di Cempaka sebagai percontohannya.

Walikota Banjarbaru didampingi Kepala Bappeda baru saja pulang dari studi di Amerika, tentu beliau berdua dapat merasakan dan mengetahui betapa pentingnya ruang public bagi kepentingan kegembiraan dan hiburan warga.  Pengalaman tinggal di Amerika bagi penentu kebijakan kota ini, seharusnya lebih berpihak pada kepentingan public dimulai dari yang paling sederhana berupa penyediaan ruang public (termasuk lapangan bola). Lapangan bola tentu hanya hamparan lahan yang sesuai luasan ketentuan resmi, awalnya sederhana dan tidak berpikiran lebih jauh berupa stadium.

Untuk pemangku kepentingan lainnya, sebenarnya dapat juga terlibat dalam pembangunan ruang public (termasuk lapangan bola); seperti yang diharapkan warga Cempaka saat ini, dengan menghibahkan lahan yang dimilikinya di Cempaka atau membelikan lahan (ganti untung milik warga). Dapat juga dikatakan sebagai wakaf lahan untuk ruang public, yang tentu saja merupakan amal zariah yang tidak putus-putusnya. Lapangan bola dan ruang publiknya diberi nama sesuai dengan nama yang mewakafkan lahannya atau nama sesuai keinginan si pemberi. Dengan luasan sekitar 2 hektar, sebagian lahannya dapat dijadikan tempat menanam pohon-pohon besar; seperti kasturi, kalangkala, bungur, dan tanaman lainnya, yang tentu berbeda dengan lapangan Murjani dengan pohon pinusnya.

Jadi, harapan warga Cempaka mempunyai lapangan bola (sekaligus ruang public) setidaknya sama dengan lapangan Murjani merupakan hal realistis dan rasional, yang sebenarnya dapat diwujudkan dengan bantuan kebijakan Pemko Banjarbaru, apalagi ditupang oleh pemangku kepentingan yang lain. Keberadaan ruang public merupakan kebutuhan yang penting untuk dipenuhi, apalagi perkembangan kota yang semakin cepat dan padat yang dengan sendirinya begitu rakus dalam melahap lahan. Ruang public merupakan tempat yang representative bagi warga untuk bergembira dan tempat hiburan, yang pada prinsipnya dapat membangkitkan kreativitas warga karena adanya pertemuan dan persilangan secara bersama. Sebenarnya tidak ada alasan bagi Pemko Banjarbaru mengabaikan harapan warga Cempaka; kebijakan yang memihak pada kepentingan warga yang dibutuhkan dan pandangan jauh ke depan, tidak membiarkan warga Cempaka merasakan kehilangan lapangan bola berlarut-larut; yang membiarkan pemain-pemain berbakat dari Cempaka menjadi ikut menghilang.

(Radar Banjarmasin, 21 November 2011: 3)

Advertisements

2 Responses

  1. dimana mana makin susah mencari tanah lapang ya pak

  2. lapangan bola, atau ruang publik, sungguh dibutuhkan bagi kita semua; semoga warga Cempaka segera memilikinya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: