TAMAN ZAFRY ZAMZAM


Oleh: HE. Benyamine

“Mengapa kota Banjarbaru yang mampu membangun tugu dengan anggaran  “wah” atau kota Banjarmasin yang mampu menancapkan pintu gerbang juga “wah” dananya, atau kota Kandangan yang sedang membangun tugu yang menyesakkan bundaran yang ada dengan biaya “wah” tentunya, tetapi tidak ada gedung pertunjukkan yang representatif untuk kegiatan dan aktivitas yang mendorong pembangunan peradaban? Apakah kota Banjarbaru, misalnya, berani memilih untuk membangun gedung kesenian yang “wah” sebagaimana kemampuannya membangun Tugu Simpang Empat?”

“Penghargaan terhadap satu tokoh kota Banjarbaru, dengan berbagai hal berikut yang melekat pada beliau, yakni: sebagai ulama, pendidik (rektor IAIN Antasari), birokrat (kepala penerangan), budayawan, sastrawan (puisi dan prosa), dan pejuang, dengan bangga memberikan nama gedung kesenian bergengsi tersebut dengan mengabadikan nama beliau; Taman Zafri Zamzam, taman kebudayaan layaknya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.”

 

Pagelaran teater Dewan Kesenian Kota Banjarbaru dengan didukung Museum Lambung Mangkurat (19/11/11) yang diselenggarakan di Auditurium Museum Lambung Mangkurat menyuguhkan pertunjukkan yang menarik dan bermakna. Pada pagelaran ini dipentaskan dua naskah, karena satu naskah batal, yaitu: (1) Arwah-Arwah karya W.B. Yeats terjemahan Suyatna Anirun dan (2) Tangis Napi Pembunuh karya Luki Safriana. Kedua naskah dipentaskan dengan cukup baik dan apik, dan pagelaran teater seperti ini telah mampu menjadi hiburan alternatif yang lebih mendidik dan sebenarnya bergengsi.

Pagelaran atau pementasan teater merupakan alternatif hiburan yang mengesankan, yang mampu melibatkan rasa dan pikiran penontonnya aktif secara seimbang, dan menyuguhkan suatu pandangan yang berbeda dalam melihat kehidupan untuk direnungkan setelahnya. Seperti pada naskah Arwah-Arwah, orang tua (diperankan M. Yusri Wahyudi) bertutur, “Tapi ada beberapa yang tidak peduli pada apa yang hilang, atau pada apa yang ada”, seakan menghadirkan perilaku yang pada saat sekarang begitu nampak terlihat, ketidakperdulian dan masa bodoh dengan keadaan dan sesama.  Selanjutnya, orang tua menyampaikan suatu pesan yang sesungguhnya keras, karena jangan sampai setelah menjadi arwah akhirnya baru tahu akibat dan merasakan dosa-dosa saat hidup yang terjadi pada diri sendiri ataupun pada orang lain, “Atas orang lain, orang lain bisa menolong. Tapi kalau atas dirinya sendiri tak ada pertolongan kecuali atas diri sendiri dan pada belas kasihan Tuhan.” Mendzalimi diri sendiri sungguh suatu kehinaan.

Pada pementasan naskah Arwah-Arwah, secara keseluruhan memuaskan, meski masih ada yang lemah pada segi tata cahaya dan tata musik yang cukup mengganggu kekhidmatan penonton, karena tata cahaya dan tata musik yang kurang tergarap dapat mempengaruhi konsentrasi penonton dalam menikmati pementasannya. Sedangkan pemeran pemuda (Andri Alfianoor) dalam beberapa plot melakukan percepatan dari yang seharusnya; yang memperlihatkan dalam beberapa dialog masih belum hapal. Tokoh orang tua, dalam beberapa dialog masih sempat melakukan improvisasi sebagai upaya menyembunyikan ketidakhapalan pada teks naskah, namun cukup berhasil menjadikan sebagai dialog yang “benar” dan sesuai dengan cerita.

Sedangkan pada pementasan naskah Tangis Napi Pembunuh (monolog) dengan pemeran Yuniar Triana, yang mengisahkan tentang seorang perempuan yang telah membunuh pacarnya yang tidak bertanggung jawab sehingga menyebabkannya mendekam di penjara. Naskah ini menuntut banyak ekspresi yang harus dikuasai pemainnya, ada perubahan yang cepat saat sedih kepada keangkuhan, saat sadar kekhilafan ke kegilaan diri, saat amarah ke penyesalan, tawa dan tangis silih berganti,   dan karenanya harus didukung dengan penguasaan tempo yang baik. Yuniar Triana cukup berhasil dalam beberapa ekspresi, tetapi masih lemah dalam tempo dan vokal, namun demikian ide ceritanya dapat dikuasai dan disampaikan dengan baik.

Pageralan teater malam itu, seperti belum mampu mengatasi kebiasaan buruk; tidak tepat waktu, bahkan hampir satu jam dari jadwal baru mulai pertunjukkan. Panitia memang punya alasan, karena pertunjukkan pertama tidak jadi pentas dan masih manunggu penonton yang memang juga banyak terlambat datang. Ketidak tepatan waktu masih menjadi momok, memang perlu perubahan cara berpikir bersama, dan mereka yang tepat waktu harus tetap menyediakan kesabaran karena menjadi bagian dari pendorong perubahan dari yang buruk.

Pada pagelaran teater malam itu, ada sesuatu yang menarik, karena para penonton memperlihatkan kesungguhannya dalam menonton teater dan mereka telah menunjukkan bagaimana seharusnya menikmati suatu pertunjukkan teater modern, sehingga ada suatu harapan bahwa ada kebutuhan pada hiburan alternatif yang sungguh berbeda. Pertunjukkan teater adalah bentuk hiburan yang berbeda dan langka, begitu juga pagelaran seni lainnya, yang seharusnya diupayakan secara kontinue pageralannya untuk memberikan kesempatan pada warga masyarakat mendapatkan hiburan yang berbeda dan bermakna. Generasi muda yang hadir pada malam itu sangat menggembirakan, karena mereka memilih hiburan yang berbeda, yang mungkin generasi muda lain masih belum tahu tentang alternatif hiburan ini sehingga terus berada pada suasana rutin dan biasa berkeliaran di berbagai tempat atau hanya sekedar seperti laron yang mengelilingi lampu-lampu gemerlap taman kota.

Di sini, pagelaran seni, seperti teater malam itu, menyisakan suatu pertanyaan, mengapa kota Banjarbaru yang mampu membangun tugu dengan anggaran  “wah” atau kota Banjarmasin yang mampu menancapkan pintu gerbang juga “wah” dananya, atau kota Kandangan yang sedang membangun tugu yang menyesakkan bundaran yang ada dengan biaya “wah” tentunya, tetapi tidak ada gedung pertunjukkan yang representatif untuk kegiatan dan aktivitas yang mendorong pembangunan peradaban? Apakah kota Banjarbaru, misalnya, berani memilih untuk membangun gedung kesenian yang “wah” sebagaimana kemampuannya membangun Tugu Simpang Empat? Mungkin, Mess L yang berada di belakang Museum Lambung Mangkurat dapat diupayakan untuk menjadi lokasinya, sehingga masih satu kompleks dengan museum dan perpustakaan daerah kota Banjarbaru. Pemangku kepentingan lain dapat berperan serta dalam upaya ini.

Lokasi Mess L merupakan tempat yang cukup representatif untuk sebuah gedung kesenian yang bergengsi, padahal saat ini kondisi tidak terurus dan terlantar, sehingga sangat terbuka untuk diupayakan dengan sungguh-sungguh oleh pemerintah bagaimanapun caranya. Di lokasi Mess L, sebagai tempat bersejarah, ada sumber air yang pada waktu dulu dijadikan pasokan air untuk tempat pemandian, yang tentunya dapat dipertahankan sebagai suatu bentuk kejernihan dalam mendorong peradaban yang maju.

Atau, mungkin ada alternatif lokasi yang lain, untuk sebuah kemajuan bersama dalam wujud pembangunan taman budaya beserta gedung kesenian yang bergengsi dan membanggakan.

Akhirnya, sebagai penghargaan terhadap satu tokoh kota Banjarbaru, dengan berbagai hal berikut yang melekat pada beliau, yakni: sebagai ulama, sebagai pendidik (rektor IAIN Antasari), birokrat (kepala penerangan), budayawan, sastrawan (puisi dan prosa), dan pejuang, dengan bangga memberikan nama gedung kesenian bergengsi tersebut dengan mengabadikan nama beliau; Taman Zafri Zamzam, taman kebudayaan layaknya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.  Nama beliau juga sesuai dengan lokasi Mess L yang di situ ada sumber mata air yang jernih mengalir, dengan harapan taman ini mengalirkan kejernihan-kejernihan untuk kemanusiaan. Taman Zafri Zamzam, selain difasilitasi pemerintah, dapat juga dalam bentuk yayasan yang didirikan warga Banjarbaru, bersama mengambil peran untuk kepentingan kebanggaan bersama. Beliau merupakan tokoh yang terdekat untuk dijadikan suri tauladan dan sebagai idola bagi generasi muda.

Jadi, pagelaran-pagelaran seni, khususnya teater yang begitu langka hadir mengisi kekosongan pilihan hiburan yang bermakna, sering dihadapkan pada tempat pertunjukkan yang begitu sulit didapatkan apalagi gedung pertunjukkan yang representatif. Taman Zafri Zamzam merupakan kebutuhan warga, kebutuhan masyarakat yang semakin beradab, dan masyarakat yang semakin menyadari arti nilai tambah dan harga suatu kreativitas. Taman Zafri Zamzam adalah taman kejernihan dan kebenaran, yang merupakan kebutuhan warga yang mendesak untuk menapaki jalan kemajuan.

(SKH MATA BANUA, 5 Desember 2011: 10)

One Response

  1. nice post kawan…😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: