RUMAH DEBU


Aku hanyalah sebutir debu dalam genggaman angin ….”* Entah angin mana yang membawaku ke tempat di mana angin sudah dikuasai dan dikendalikan. Aku tiba-tiba saja berdiri di depan rak-rak buku besar-besar, tapi hanya ada satu buku, benar sebenar-benarnya hanya sebuah buku terpampang di situ. Aku tertegun dan tidak sempat berpikir apalagi bertanya, sekedipan mata buku itu sudah berada di tangan, dan aku begitu saja meninggalkan tampat itu yang nampak penuh debu setelah buku itu berpindah ke tanganku.

Di perjalanan pulang, aku melihat rumah-rumah yang berterbangan, berderet-deret membentang kemalangan juga kesenangan, dan entah di mana debu yang menepuk dada lagi terpuruk ataupun bersujud.

Selesai membaca buku yang tadi melekat di tanganku, ternyata sudah tergeletak di meja teras depan rumah, dan entah bagaimana berpindah begitu saja kepada orang yang lewat di depan rumah, lalu menghilang tak meninggalkan alamat. Meja teras depan rumah kembali penuh debu. Rumahku kembali bersentuhan debu, dan akupun sudah terbiasa berada di rumah debu karena aku hanyalah sebutir debu.

(*Rumah Debu Sebuah Novel, Sandi Firly, Penerbit Tahura Media, Cet. I, November 2010 hal. 150)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: