PEMKO BANJARBARU MERUSAK SUNGAI KEMUNING


Oleh: HE. Benyamine

Banjarbaru Dalam Lensa (account facebook) pada tanggal 22 Desember mengupload foto, yang menggambarkan Banjarbaru mengalami kebanjiran, karena pengambilan foto yang dapat dikatakan profesional, maka bencana banjir tersebut cukup terwakili dari foto yang ditampilkan. Ada kekagetan dan ketidakpercayaan, Banjarbaru yang termasuk di dataran sedang, berbukit-bukit,  dan tidak banyak sungai mengalami kebanjiran, apalagi bagi mereka yang pernah berkunjung ke Banjarbaru dan kemudian hanya melihat foto tersebut seperti tidak percaya.

Beberapa lokasi di Banjarbaru, yang meski tak ada sungai, mengalami limpasan air yang melimpah saat hujan  yang lama, seperti di jalan-jalan dengan ketinggian air yang cukup untuk mengatakan terlihat layaknya sungai.  Perkembangan kota yang semakin pesat, dengan semakin banyak lahan yang berubah menjadi pemanfaatan perumahan dan bangunan lainnya, yang dengan sendirinya seharusnya juga dipikirkan bagaimana limpasan air yang selama ini diserap lahan terbuka untuk dicarikan saluran yang seimbang dengan daya serap lahan terbuka, seperti saluran air yang perlu diperbesar dari saluran (lama) yang masih berdasarkan limpasan air sisa yang diserap lahan. Selokan kiri kanan jalan selayaknya lebih diperlebar, untuk menampung limpasan dari lahan yang telah dimanfaatkan perumahan dan bangunan lainnya, atau dengan menyediakan sumur resapan di beberapa tempat.

Banjarbaru mengalami banjir.  Masa Kebanjiran. Ada yang kurang tepat dengan kebijakan pemerintah kota Banjarbaru dalam mengelola kota. Memalukan kejadian kebanjiran di dataran yang dapat dikatakan cukup tinggi. Jika memperhatikan proyek dinas terkait dalam mengelola sungai Kemuning, jelas terlihat bahwa Pemko Banjarbaru sedang merusak sungai tersebut. Tindakan penyiringan dan pelurusan sungai Kemuning adalah bukti yang kasat mata atas perbuatan yang merusak sungai tersebut.

Sebenarnya, luapan air di sungai Kemuning sudah sering terjadi, karena rumah penduduk sudah semakin padat di kiri-kanan sungai. Program pemerintah pada saat wakil walikota Rohmat Tohir sudah direncanakan untuk merelokasi warga di sempadan sungai. Banjir dan kebanjiran ini tidak dapat dikatakan sebagai bencana, karena warga memang tidak seharusnya bertempat tinggal di sempadan sungai, apalagi sebagian area resapan airnya sudah menghilang dan digantikan dengan bangunan permanen.

Sekarang Pemko Banjarbaru malah melakukan proyek penyiringan yang lebih mengarahkan sungai kemuning menjadi kanal dan sekaligus menyempitkan sungai, karena secara langsung menghilangkan resapan air (cachment area) yang untuk saat ini masih dapat dilihat dari ruang dari rumah panggung warga. Bagaimana perhitungan dinas terkait dengan proyek penyiringan dan pelurusan sungai, di mana volume air yang biasa ditampung sungai Kemuning dengan area resapannya, untuk disalurkan dengan sistem kanal dari proyek siring beton yang semakin sempit. Tentu saja kanal yang mengganti sungai Kemuning tidak sanggup menyalurkan air limpasan, dan malah lebih melimpas ke daerah yang rendah lainnya; perumahan sepanjang sungai.

Proyek siring dan pelurusan sungai adalah tindakan yang merusak sungai, dalam beberapa hal tidak mengatasi banjir malah memperluas area kebanjiran, memang terlihat rapi karena menjadi kanal. Beberapa hal yang merusak sungai Kemuning dari proyek siring, berupa: (1) menghilangkan area resapan air (cachment area), karena dengan sendirinya menutup ruang dari rumah panggung warga, (2) sungai semakin sempit, dengan batas siring beton kiri kanan, (3) memberi peluang kepada warga untuk membangun rumah dengan sistem urug, (4) volume air yang disalurkan hanya sebatas luasan kanal, selebihnya meluap ke kiri dan kanan sungai, (5) menghilangkan tumbuhan kiri kanan sungai, seperti rumpun bambu yang sekarang berubah jadi bangunan permanen warga saat ini, (6) menghilangkan biota sungai, menjadi lebih terbatas, dan (7) air lebih cepat menghilang dan sedikit yang meresap ke area sekitar, karena cepat meluncur ke muara.

Perbuatan Pemko Banjarbaru yang merusak sungai Kemuning, lewat proyek siring, secara berencana juga melakukan tindakan membuang-buang anggaran, karena proyek siring tidak menyelesaikan permasalahan sungai Kemuning, malah menambah masalah baru kebanjiran yang lebih luas meski waktunya singkat. Permasalahan utama sungai Kemuning berhubungan dengan keberadaan perumahan warga masyarakat di sempadan sungai, permasalahan sekundernya berhubungan dengan kebijakan Pemko Banjarbaru lewat dinas terkait dengan merusak sungai, dan selanjutnya tidak ada perencanaan jangka panjang untuk pengelolaan sungai Kemuning sebagai area yang mengatur air limpasan dari daerah sekitarnya.

Dengan siring sungai terlihat rapi, tapi semakin merusak sungai. Pemko Banjarbaru selayaknya lebih mengarahkan daya dan sumber daya yang dipercayakan sebagai pemerintah untuk mambuat perencanaan pembebasan sungai Kemuning dari bangunan dan menjadikannya sebagai ruang terbuka hijau yang lebih bermanfaat untuk kepentingan publik yang lebih luas. Proyek siring tidak perlu diteruskan, lebih baik anggaran untuk siring tersebut digunakan merelokasi warga secara bertahap jika anggarannya hanya sebesar anggran proyek siring tersebut, dan tentunya dalam beberapa tahun ke depan sudah tidak ada lagi warga yang menempati sempadan sungai, sehingga tidak ada lagi yang namanya kebanjiran karena memang area resapan dan sungai Kemuning adalah rumahnya air dan tumbuhan.

Sungai Kemuning dan daerah resapannya dapat dijadikan hutan kota, jalur hijau, dan menjadi tempat rekreasi warga kota. Relokasi warga merupakan tindakan utama dalam menyelamatkan sungai Kemuning menjadi tidak lebih rusak, dan menghindari kebijakan pemerintah yang mempercepat kerusakan tersebut seperti proyek siring. Keberadaan sungai Kemuning adalah kepentingan seluruh warga kota Banjarbaru, yang seharusnya menjadi perhatian Pemko Banjarbaru dengan langkah yang lebih besar dan terencana, tidak hanya parsial seperti proyek siring. Memang tidak gampang dalam relokasi warga, tetapi itulah tugas dan tanggung jawab pemerintah kota, untuk merencanakan dengan adil untuk kepentingan bersama, tidak hanya seakan sebagai masalah warga sekitar sungai Kemuning yang tidak selayaknya menempati area tersebut.

Jadi, Pemko Banjarbaru sudah saatnya tidak main-main dengan permasalahan sungai Kemuning, terutama dalam proyek siring dan pelurusan sungai. Karena proyek siring adalah tindakan merusak sungai dan memperluas area bencana kebanjiran. Para elit politik juga tidak terlihat adanya kepedulian atas permasalahan sungai Kemuning, hal ini terlihat dari pembiaran proyek siring dilaksanakan.  Relokasi warga sudah saatnya untuk dipikirkan dan dicarikan jalan keluarnya, tidak mudah memang, tetapi hal ini harus agar tidak menjadi beban kota berkepanjangan.  Apalagi saat ini, warga sekitar sungai Kemuning sudah semakin mengarahkan pada bangunan permanen, yang kemudian hari akan semakin mempersulit langkah pemerintah kota untuk mengembalikan sungai Kemuning sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku.

(SKH Mata Banua, 7 Februari 2012: 10)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: